LINTASBUDAYANUSANTARALINTASBUDAYANUSANTARA

Jurnal Kajian Budaya dan HumanioraJurnal Kajian Budaya dan Humaniora

Pasunda Bubat adalah peristiwa sejarah yang terjadi pada pertengahan abad ke-14 di Lapangan Bubat, wilayah Kerajaan Majapahit. Istilah ini diambil dari naskah kuno Sĕrat Pararaton, yang menunjuk pada peristiwa berdarah ketika Prabu Maharaja, Raja Sunda Galuh mengantarkan puterinya Dyah Pitaloka atau Citraresmi yang dilamar Raja Majapahit Hayam Wuruk. Mahapatih Gajah Mada yang tidak setuju dengan perkawinan tersebut menghadapi rombongan Raja Sunda dengan senjata, dan berakhir dengan tragedi: seluruh rombongan dari Tatar Sunda tak ada yang tersisa. Tragedi ini menyisakan “dendam sejarah selama ratusan tahun hingga kini. Hingga tahun 2018, tidak ada nama Jalan Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Majapahit di Tatar Sunda. Setelah penelitian dan diseminasi nasional di Bandung tahun 2018, nama Jalan Majapahit, Jalan Citraresmi, dan Jalan Hayam Wuruk dipakai di Kota Bandung, namun nama Gajah Mada tetap ditolak.

Peristiwa yang disebut Pasunda Bubat dalam naskah Serat Pararaton adalah sebuah peristiwa sejarah yang terjadi di Lapangan Bubat pada tahun 1357, ketika Prabu Maharaja, Raja Sunda Galuh mengantarkan puterinya Dyah Pitaloka atau Citraresmi yang dilamar Raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk.Namun, karena Raja Hayam Wuruk sudah dipertunangkan dengan sepupunya, Indudewi, orang tua Hayam Wuruk, diduga telah membuat Gajah Mada bertindak untuk menggagalkan perkawinan tersebut.Demi mempertahankan harga diri, Prabu Maharaja dan pasukannya memilih untuk melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan.Kerajaan Galuh tetap menjadi kerajaan yang merdeka.Upaya pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk mempertajam konflik Sunda-Jawa dengan menerbitkan naskah Kidung Sunda, bertujuan untuk memelihara dendam sejarah dari pihak Sunda.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa arah penelitian lanjutan yang menarik untuk dieksplorasi. Pertama, penelitian mendalam mengenai peran dan motivasi Gajah Mada dalam peristiwa Pasunda Bubat perlu dilakukan, dengan mempertimbangkan sumber-sumber sejarah alternatif dan analisis politik yang lebih komprehensif. Kedua, analisis perbandingan antara penggambaran peristiwa Pasunda Bubat dalam naskah Serat Pararaton dan Kidung Sunda dapat memberikan wawasan baru mengenai perspektif yang berbeda dalam memahami peristiwa tersebut. Ketiga, penelitian mengenai dampak sosial dan budaya dari dendam sejarah Pasunda Bubat terhadap hubungan antara masyarakat Sunda dan Jawa, serta bagaimana memori kolektif ini terus memengaruhi identitas dan interaksi antar kelompok, menjadi penting untuk dilakukan. Dengan menggali lebih dalam aspek-aspek ini, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai kompleksitas sejarah Indonesia dan bagaimana masa lalu terus membentuk masa kini.

Read online
File size311.43 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test