STIKESHBSTIKESHB

JURKESSIAJURKESSIA

Masalah gizi merupakan masalah yang ada di tiap-tiap negara, baik negara miskin, negara berkembang dan negara maju. Saat ini di dalam era globalisasi dimana terjadi perubahan gaya hidup dan pola makan, Indonesia menghadapi permasalahan gizi ganda. Di satu pihak masalah gizi kurang pada umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan, dan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi. Permasalahan gizi di Indonesia antara lain kekurangan energi protein, prevalensi status kurang gizi pada remaja umur 16-18 tahun cukup tinggi, berdasarkan data yang didapatkan dari RISKESDAS pada tahun 2013. Prevalensi remaja pendek dengan angka persentase sebanyak 31,2% dan remaja kurus dengan angka prevalensi remaja yang presentase 8,9%. Banyak remaja bertubuh sangat kurus akibat kekurangan gizi atau sering disebut gizi buruk, jika sudah terlalu lama maka akan terjadi kurang energi kronik (KEK). Kurang energi kronis merupakan keadaan dimana seseorang menderita kurang asupan gizi energi dan protein yang berlangsung lama atau menahun. Permasalahan gizi di Indonesia yang lain ialah anemia, berdasarkan proporsi lain anemia menurut karakteristik, Indonesia pada tahun 2013 remaja putri yaitu 23,9% dan remaja putra adalah 18,4%. Prevalensi anemia yang tinggi salah satunya bisa diakibatkan oleh kurangnya pasokan nutrisi pengetahuan pada remaja. Anemia adalah suatu keadaan seseorang kekurangan kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah yang terutama disebabkan oleh kekurangan zat nutrisi (khususnya zat besi) yang diperlukan untuk pembentukan Hb tersebut.

Rata-rata kadar protein pada tepung tempe 63% dan tepung daun kelor 26%.Sedangkan rata-rata kadar zat besi pada tepung tempe 24,5% dan tepung daun kelor 60,2%.Ada pengaruh proporsi tepung terigu, tepung tempe dan tepung daun kelor terhadap kadar protein p=0,000 (p<0,05) dan zat besi p=0,000 (p< 0,05).Ada pengaruh proporsi tepung terigu, tepung tempe dan tepung daun kelor terhadap daya terima warna p=0,000 (p<0,005), aroma p=0,000 (p<0,05), tekstur p=0,009 (p<0,05) dan rasa p=0,000 (p< 0,05).

Untuk mengatasi masalah kekurangan energi protein (KEP) dan zat besi, perlu dilakukan penelitian mengenai mie basah dengan bahan utama terigu yang disubtitusi dengan tepung tempe dan tepung daun kelor (Moringa oliefera) untuk meningkatkan kandungan zat gizi mie basah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan proporsi tepung terigu, tepung tempe dan tepung daun kelor terhadap mutu (protein dan zat besi) dan daya terima mie basah sebagai alternatif bahan pangan yang dapat dikonsumsi banyak orang. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga kali replikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh proporsi tepung terigu, tepung tempe dan tepung daun kelor terhadap kadar protein dan zat besi mie basah, serta daya terima warna, aroma, tekstur dan rasa mie basah. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan untuk mengoptimalkan proporsi tepung terigu, tepung tempe dan tepung daun kelor dalam mie basah agar dapat memenuhi kebutuhan gizi remaja, khususnya protein dan zat besi.

Read online
File size271.4 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test