POLTEKKES JAYAPURAPOLTEKKES JAYAPURA

gema kesehatangema kesehatan

Ulat sagu (Rhynchophorus ferrugineus) merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di wilayah Papua dan Maluku. Mengingat kandungan proteinnya yang tinggi, diperlukan upaya untuk mengolah ulat sagu menjadi produk pangan yang lebih diminati secara luas, seperti biskuit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kesukaan panelis terhadap biskuit yang diformulasikan dengan ulat sagu melalui berbagai metode pengolahan. Penelitian menggunakan desain kuasi‑eksperimen dengan tiga perlakuan, yaitu ulat sagu mentah, dikukus, dan disangrai. Uji hedonik dilakukan untuk menilai atribut warna, aroma, rasa, dan tekstur, dan data dianalisis perbedaannya menggunakan uji Kruskal–Wallis. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada warna, aroma, rasa, dan tekstur antar ketiga formulasi biskuit ulat sagu (p<0,001). Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan metode pengolahan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kesukaan panelis dalam menilai biskuit ulat sagu. Biskuit yang diformulasikan dengan ulat sagu sangrai (F3) paling disukai panelis pada semua atribut sensori. Oleh sebab itu, metode sangrai direkomendasikan dalam pengembangan produk sejenis.

Penelitian ini menunjukkan bahwa metode pengolahan awal ulat sagu memengaruhi tingkat kesukaan panelis terhadap produk biskuit yang dihasilkan.Formulasi biskuit dengan penambahan ulat sagu sangrai memperoleh tingkat kesukaan tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lain pada semua atribut sensori yaitu warna, aroma, rasa, dan tekstur.Temuan ini menunjukkan bahwa proses sangrai merupakan metode pengolahan yang paling disukai dalam pengembangan produk biskuit berbasis ulat sagu.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi pengaruh variasi usia dan jenis ulat sagu terhadap komposisi protein serta sifat organoleptik biskuit, dengan menguji larva muda, dewasa, dan spesies terkait untuk menentukan pilihan bahan paling optimal. Selanjutnya, studi dapat menilai keamanan pangan secara komprehensif melalui uji mikrobiologis, toksikologi, dan stabilitas penyimpanan biskuit selama periode yang diperpanjang, guna memastikan umur simpan yang aman bagi konsumen. Selain itu, penelitian dapat memfokuskan pada penerimaan sensori dan nilai gizi biskuit pada kelompok sasaran rentan, khususnya balita, dengan melakukan uji rasa, preferensi, dan evaluasi status gizi setelah konsumsi reguler, untuk menilai manfaat kesehatan potensial. Ide‑ide tersebut diharapkan dapat memperkuat dasar ilmiah pengembangan produk biskuit ulat sagu yang aman, bergizi, dan diterima luas. Dengan demikian, hasilnya dapat memberikan rekomendasi praktis bagi industri makanan lokal dalam memproduksi snack berbasis ulat sagu yang berstandar internasional.

  1. UJI ORGANOLEPTIK FORMULASI FORTIFIKASI BEKATUL DALAM PEMBUATAN BUBUR INSTAN BERAS PANDANWANGI | Trihaditia... jurnal.unsur.ac.id/pro-stek/article/view/825UJI ORGANOLEPTIK FORMULASI FORTIFIKASI BEKATUL DALAM PEMBUATAN BUBUR INSTAN BERAS PANDANWANGI Trihaditia jurnal unsur ac pro stek article view 825
  2. Komposisi Kimia, Karakteristik Fisik, dan Organoleptik Sosis Ayam dengan Penambahan Karagenan dan Enzim... doi.org/10.20961/sainspet.v18i1.27974Komposisi Kimia Karakteristik Fisik dan Organoleptik Sosis Ayam dengan Penambahan Karagenan dan Enzim doi 10 20961 sainspet v18i1 27974
  3. PENGARUH KOMBINASI KEMASAN DAN MASA SIMPAN TERHADAP BEBERAPA KOMPONEN MUTU BUMBU PLECINGAN INSTAN (The... jrpb.unram.ac.id/index.php/jrpb/article/view/76PENGARUH KOMBINASI KEMASAN DAN MASA SIMPAN TERHADAP BEBERAPA KOMPONEN MUTU BUMBU PLECINGAN INSTAN The jrpb unram ac index php jrpb article view 76
Read online
File size351.33 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test