UNTAGUNTAG

Persona:Jurnal Psikologi IndonesiaPersona:Jurnal Psikologi Indonesia

Tujuan dari penelitian ini adalah menguji hubungan antara religiusitas dan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial pada remaja pondok pesantren. Subyek dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Metode pengumpulan data menggunakan skala psikologi yang disusun berdasarkan konstruk teori dari variabel religiusitas, pola asuh otoriter dan prososial. Analisa data yang digunakan adalah dengan analisis regresi dan parsial. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara religiusitas dan kecenderungan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial (Freg= 0,7758; p = 0,001 <0,01) sedangkan secara parsial ditemukan tidak ada hubungan antara religiusitas dengan perilaku prososial (rparsial = 0,94; treg = 0,803 ; p = 0,425>0,05) serta ada hubungan negatif antara kecederungan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial (rparsial = -0,395; treg = -3,644; p = 0,001<0,01).

Hasil analisis data menggunakan analisis regresi linier diperoleh hasil yaitu.a) Sumbangan efektif secara simultan variabel religiusitas dan kecenderungan pola asuh otoriter terhadap variabel perilaku prososial adalah 17,7% artinya, ada hubungan yang sangat signifikan religiusitas dan kecenderungan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial remaja di pondok pesantren.b) Tidak ada hubungan yang signifikan antara religiusitas dengan perilaku prososial remaja.Artinya tinggi rendahnya religiusitas tidak diikuti dengan tinggi rendahnya perilaku prososial remaja.c) Ada hubungan negatif yang signifikan antara kecenderungan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial.Artinya semakin otoriter pola asuh di pesantren maka perilaku prososial remaja semakin rendah, demikian juga sebaliknya.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar pesantren/sekolah melakukan berbagai pembenahan yang berkaitan dengan pola pengasuhan yang dilakukan dalam membimbing santri yang mayoritas remaja. Diharapkan apabila mengajarkan religiusitas santri, pola pengasuhan yang tepat adalah yang cenderung otoriter dimana ketegasan tetap diperlukan untuk hal atau peraturan yang harus ditegakkan terkait dengan ajaran agama yang bersifat dogmatis dan tidak boleh dilanggar, namun penerapan pola asuh demokratis juga perlu dipertimbangkan sehingga perilaku prososial remaja menjadi lebih baik dan berkembang seimbang. Guru/ pengasuh hendaknya menerapkan pola asuh yang lebih mengedepankan pemberian contoh nyata tentang bentuk perilaku yang baik dan buruk sesuai ajaran agama; membuka kesempatan dan santri untuk bermusyawarah; berdialog. Bagi orangtua diharapkan mampu menjadi model (contoh) bagi remaja terkait nilai dan norma kehidupan yang mereka ajarkan, memberi ruang untuk berdialog dan bermusyawarah tentang berbagai permasalahan yang dihadapi remaja; serta menghargai pendapat remaja.

Read online
File size67.32 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test