JOURNAL STIAYAPPIMAKASSARJOURNAL STIAYAPPIMAKASSAR

JOURNAL OF ADMINISTRATIVE AND SOCIAL SCIENCEJOURNAL OF ADMINISTRATIVE AND SOCIAL SCIENCE

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kekuatan modal sosial yang dimiliki oleh Nurdin dalam kontestasi politik tahun 2016. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif untuk mengeksplorasi kekuatan modal sosial dalam transformasi kepemimpinan kepala desa. Sementara itu, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan sebelumnya yang penulis batasi hanya menangkap gaya kepemimpinan periode 2002-2009. Pada periode 2002-2004, saat Karaeng Oddang bertugas, dalam kepemimpinannya ia berusaha lebih demokratis, namun dominasi ayahnya (Karaeng Manna) masih kuat saat itu. Begitu pula dengan gaya kepemimpinan karaeng Aji Awaluddin, ia merupakan tipikal pemimpin yang dinilai masyarakat sangat baik dan mewujudkan nilai-nilai demokrasi selama menjabat sebagai kepala desa Kindang periode 2004-2009. Pada tahun 2009-2016, di sinilah transformasi kepemimpinan terjadi. Memotret gaya kepemimpinan Nurdin periode 2009 tidak lepas dari apresiasi dan pujian. Namun kritikan tersebut tidak berdampak pada pilkades 2016. Nurdin kembali memenangi pilkades. Kekuatan modal sosial Nurdin dalam pilkades telah mengantarkannya pada kemenangan. Maraknya sentimen primordial di kalangan rakyat biasa (tumaradeka) menjadi kekuatan Nurdin, dan di sisi lain maraknya stereotip negatif terhadap karaeng yang merembet pada isu identitas kelompok dan kuatnya modal jejaring sosial, bonding, bridging dan linking sangat mewarnai pilkades 2016. Penguasaan keamanan modal sosial menjadi nilai jual bagi Nurdin agar bisa mendapatkan dukungan dari masyarakat dibanding kandidat lain yang dinilai tidak layak dan tidak mampu mengantisipasi keamanan di desa Kindang.

Desa Kindang di Kabupaten Bulukumba memiliki stratifikasi sosial antara kelompok karaeng dan maradeka, dengan kepemimpinan kepala desa sebelumnya didominasi oleh karaeng yang mengalami citra negatif akibat intervensi karaeng Manna.Transformasi kepemimpinan terjadi ketika Nurdin, kandidat maradeka, berhasil mengalahkan pihak karaeng dengan memanfaatkan kekuatan modal sosial, terutama bonding, bridging, dan linking, serta kemampuan mengatasi masalah keamanan.Akibatnya, mayoritas masyarakat kini lebih memilih pemimpin non‑karaeng, menunjukkan pergeseran preferensi politik berbasis kapasitas dan integritas.

Penelitian selanjutnya dapat membandingkan peran modal sosial dalam kontestasi pilkades di desa dengan stratifikasi sosial berbeda untuk mengidentifikasi faktor‑faktor yang mempengaruhi kemenangan kandidat non‑karaeng. Selanjutnya, studi longitudinal dapat meneliti dampak jangka panjang penerapan keamanan berbasis modal sosial terhadap kualitas pemerintahan dan kesejahteraan masyarakat di desa Kindang. Selain itu, analisis jaringan sosial yang memetakan hubungan bonding, bridging, dan linking antar aktor politik dapat membantu memprediksi pola dukungan pemilih dan keberhasilan kampanye di masa depan.

  1. Kekuatan Modal Sosial dalam Kontestasi Politik Pemilihan Kepala Desa: Studi Kasus Keterpilihan Kepala... doi.org/10.55606/jass.v6i2.2133Kekuatan Modal Sosial dalam Kontestasi Politik Pemilihan Kepala Desa Studi Kasus Keterpilihan Kepala doi 10 55606 jass v6i2 2133
Read online
File size959.94 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test