UNJAUNJA

Lintang AksaraLintang Aksara

Penelitian ini bertujuan mengungkap makna dan asal-usul toponimi (penamaan tempat) di Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Analisis toponimi menggunakan kerangka teori Sudaryat, yang membagi aspek toponimi menjadi perwujudan (fisik-geografis), kemasyarakatan (interaksi sosial), dan kebudayaan (nilai dan warisan budaya), serta teori makna Fries untuk menggali dimensi linguistiknya. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam dengan tokoh adat dan masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nama-nama kelurahan di Kecamatan Teluk Segara merefleksikan sejarah, kondisi geografis, interaksi sosial, serta nilai budaya masyarakat yang beragam. Penamaan tempat juga merekam pengalaman kolektif dan warisan budaya melalui bahasa. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami hubungan antara bahasa, budaya, dan lingkungan sosial dalam penamaan tempat serta menegaskan pentingnya pelestarian warisan budaya lokal.

Penelitian ini menunjukkan bahwa toponimi di Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu, tidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, tetapi juga merefleksikan dimensi leksikal dan kultural yang berakar dari sejarah, struktur sosial, dan nilai budaya masyarakat setempat.Temuan ini mengindikasikan bahwa proses penamaan tempat bukanlah arbitrer, melainkan cerminan cara masyarakat memaknai ruang hidup mereka, identitas, ingatan kolektif, dan simbol budaya.Penelitian ini memperkuat relevansi pendekatan antropolinguistik dalam kajian toponimi dan menunjukkan efektivitas pendekatan semantik untuk mengungkap makna lokal.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengkaji perbandingan toponimi di Kecamatan Teluk Segara dengan wilayah lain di Provinsi Bengkulu, guna mengidentifikasi persamaan dan perbedaan dalam pola penamaan dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada analisis perubahan makna toponimi dari waktu ke waktu, dengan mempertimbangkan faktor-faktor sosial, politik, dan ekonomi yang memengaruhi proses tersebut. Hal ini akan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dinamika budaya dan sejarah lokal. Ketiga, penelitian dapat menggali lebih dalam peran toponimi dalam pembentukan identitas lokal dan rasa memiliki masyarakat terhadap wilayah mereka, melalui studi kasus pada kelompok-kelompok sosial tertentu atau melalui analisis narasi-narasi lokal yang berkaitan dengan nama-nama tempat. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan ilmu antropolinguistik dan studi budaya lokal, serta mendukung upaya pelestarian warisan budaya Bengkulu.

  1. Fungsi dan Makna Pantun Upacara Sekujang Masyarakat Serawai di Desa Tapak Gedung Kabupaten Kepahiang... doi.org/10.22437/dikbastra.v8i1.44165Fungsi dan Makna Pantun Upacara Sekujang Masyarakat Serawai di Desa Tapak Gedung Kabupaten Kepahiang doi 10 22437 dikbastra v8i1 44165
  2. Toponimi Desa-Desa di Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati (Kajian Antropolinguistik) | Gusmiarnum | Nusa:... doi.org/10.14710/nusa.1.1.31-45Toponimi Desa Desa di Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati Kajian Antropolinguistik Gusmiarnum Nusa doi 10 14710 nusa 1 1 31 45
  3. Toponimi Nama-Nama Desa di Kabupaten Ponorogo (Kajian Antropolinguistik) | Pertiwi | Nusa: Jurnal Ilmu... ejournal.undip.ac.id/index.php/nusa/article/view/34727Toponimi Nama Nama Desa di Kabupaten Ponorogo Kajian Antropolinguistik Pertiwi Nusa Jurnal Ilmu ejournal undip ac index php nusa article view 34727
Read online
File size801.47 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test