ISKIISKI

Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi IndonesiaJurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Abstrak - Penelitian ini menganalisis praktik komunikasi deliberatif dalam konflik lahan perkotaan, dengan fokus pada bagaimana masyarakat membangun dan mempertahankan ruang deliberatif di bawah batasan struktural. Studi kasus kualitatif dilakukan di konflik lahan Dago Elos di Kota Bandung, yang melibatkan 331 keluarga yang menghadapi klaim pengusiran. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan empat perwakilan pemangku kepentingan: pemimpin masyarakat, organisasi bantuan hukum, pejabat pemerintah setempat, dan lembaga administrasi lahan. Penelitian ini mengungkapkan tiga temuan kunci: (1) Fragmentasi institusional menyebabkan absennya forum dialog formal antara masyarakat dan pemerintah, yang memaksa masyarakat mengembangkan strategi komunikasi alternatif; (2) Inovasi ruang publik lawan melalui Forum Dago Melawan menunjukkan implementasi prinsip deliberatif (partisipasi setara, membangun konsensus, memberikan alasan) di tingkat akar rumput, berfungsi sebagai laboratorium demokratis yang autentik; (3) Strategi komunikasi hibrida muncul ketika masyarakat menggabungkan argumen rasional dengan mobilisasi massa, menantang dikotomi tradisional antara deliberasi yang beralasan dan tindakan politik. Aksi massa terbukti efektif dalam memaksa respons institusional ketika saluran formal tetap tertutup, menunjukkan bahwa mobilisasi kolektif dapat berfungsi sebagai komunikasi deliberatif di bawah kondisi non-ideal. Penelitian ini memperluas teori komunikasi deliberatif dengan menunjukkan bahwa prinsip deliberatif dapat berfungsi di bawah kondisi non-ideal melalui adaptasi kreatif dan inovasi institusional akar rumput. Ruang publik lawan seperti Forum Dago Melawan dapat menerapkan situasi pidato ideal Habermas dengan sukses di tingkat lokal, sedangkan strategi hibrida yang menggabungkan pemberian alasan dengan tindakan kolektif menciptakan kekuatan komunikatif yang mampu mempengaruhi respons administratif meskipun adanya asimetri kekuatan struktural. Temuan ini menyarankan bahwa komunikasi deliberatif yang autentik memerlukan pengakuan dan penanganan ketidaksamaan kekuatan alih-alih menyembunyikannya di balik klaim netralitas prosedural.

Penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi deliberatif dalam konflik agraria perkotaan di Indonesia beroperasi di bawah kondisi non-ideal yang ditandai dengan asimetri kekuatan, fragmentasi birokratik, dan absennya dialog institusional inklusif.Menggunakan konflik lahan Dago Elos di Bandung sebagai studi kasus, penelitian ini mengidentifikasi tiga temuan inti yang relevan dengan konteks Indonesia yang lebih luas, di mana sengketa lahan perkotaan semakin mendominasi pola konflik agraria.Pertama, penelitian ini menemukan bahwa absennya forum dialog formal dan berkelanjutan antara masyarakat dan institusi negara mewakili kegagalan struktural dalam tata kelola deliberatif.Konflik lahan perkotaan di Indonesia cenderung diperlakukan sebagai sengketa hukum-administratif sempit, mengecualikan masyarakat dari partisipasi yang bermakna.Penghindaran institusional ini memaksa warga mencari ruang alternatif untuk mengartikulasikan klaim, menegosiasikan legitimasi, dan mengejar resolusi konflik.Kedua, penelitian ini menunjukkan bahwa ruang publik lawan, yang diilustrasikan oleh Forum Dago Melawan, berfungsi sebagai arena deliberatif alternatif.Melalui organisasi non-hierarkis dan pengambilan keputusan berbasis konsensus, forum ini memungkinkan partisipasi setara, pemberian alasan, dan pembentukan kehendak kolektif.Praktik deliberatif akar rumput ini seringkali beroperasi lebih efektif daripada forum yang dimediasi negara di bawah kondisi ketidaksamaan struktural.Ketiga, penelitian ini mengidentifikasi strategi komunikasi hibrida, yang menggabungkan argumen rasional, advokasi hukum, kampanye digital, dan mobilisasi massa sebagai mekanisme kunci untuk mempertahankan deliberasi ketika saluran formal gagal.Aksi kolektif tidak meniadakan prinsip deliberatif tetapi berfungsi sebagai strategi adaptif yang menghasilkan kekuatan komunikatif dan memaksa respons institusional di konteks kekuatan asimetris.Secara teoritis, penelitian ini berkontribusi pada studi komunikasi deliberatif dengan memperluas teori demokrasi deliberatif ke konflik agraria perkotaan di negara-negara Selatan.Temuan penelitian ini mendukung konsep deliberasi di bawah kondisi non-ideal, menunjukkan bahwa mobilisasi dan gangguan dapat melakukan fungsi deliberatif dengan membuka kembali saluran komunikasi yang tersumbat.Selain itu, penelitian ini memperkuat peran ruang publik lawan sebagai laboratorium demokratis di mana rasionalitas komunikatif dapat dipraktikkan di luar arena yang dikendalikan negara.Penelitian ini juga menantang pemisahan yang kaku antara deliberasi rasional dan politik yang kontroversial, menunjukkan bahwa strategi hibrida adalah bagian integral dari sistem deliberatif di pengaturan yang tidak setara secara struktural.

Berdasarkan temuan dan analisis dalam penelitian ini, berikut adalah tiga saran untuk penelitian lanjutan:. . 1. Mengkaji lebih lanjut peran dan efektivitas ruang publik lawan dalam konteks konflik agraria perkotaan di Indonesia. Penelitian ini dapat fokus pada bagaimana ruang publik lawan seperti Forum Dago Melawan dapat berfungsi sebagai laboratorium demokratis dan bagaimana mereka dapat memperkuat partisipasi dan representasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Penelitian ini juga dapat menyelidiki tantangan dan peluang yang dihadapi oleh ruang publik lawan dalam konteks politik dan sosial yang lebih luas.. . 2. Menganalisis strategi komunikasi hibrida yang digunakan oleh masyarakat dalam konflik agraria perkotaan. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana masyarakat menggabungkan argumen rasional, advokasi hukum, kampanye digital, dan mobilisasi massa untuk mencapai tujuan mereka. Selain itu, penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana strategi komunikasi hibrida ini dapat mempengaruhi dinamika kekuatan dan negosiasi dalam konflik agraria.. . 3. Meneliti peran dan dampak teknologi digital dalam komunikasi deliberatif dalam konflik agraria perkotaan. Penelitian ini dapat fokus pada bagaimana media sosial dan platform digital lainnya digunakan oleh masyarakat untuk mengorganisir, berkomunikasi, dan mengadvokasi kepentingan mereka. Selain itu, penelitian ini dapat menyelidiki tantangan dan peluang yang dihadapi oleh masyarakat dalam menggunakan teknologi digital untuk memperkuat suara mereka dan berpartisipasi dalam proses deliberatif.

  1. Deliberation in an Age of (Un)Civil Resistance | Journal of Deliberative Democracy. deliberation age... doi.org/10.16997/jdd.363Deliberation in an Age of Un Civil Resistance Journal of Deliberative Democracy deliberation age doi 10 16997 jdd 363
  2. Full article: Public Sphere in Crisis Mode: How the COVID-19 Pandemic Influenced Public Discourse and... tandfonline.com/doi/full/10.1080/13183222.2021.1923622Full article Public Sphere in Crisis Mode How the COVID 19 Pandemic Influenced Public Discourse and tandfonline doi full 10 1080 13183222 2021 1923622
  3. Interruptive protests in dysfunctional deliberative systems - Nicole Curato, 2021. interruptive protests... journals.sagepub.com/doi/10.1177/0263395720960297Interruptive protests in dysfunctional deliberative systems Nicole Curato 2021 interruptive protests journals sagepub doi 10 1177 0263395720960297
  4. Zizi Papacharissi (2010, Malden, MA: Polity Press), A Private Sphere: Democracy in a Digital Age | Comunicação... revistacomsoc.pt/article/view/992Zizi Papacharissi 2010 Malden MA Polity Press A Private Sphere Democracy in a Digital Age Comunicayyo revistacomsoc pt article view 992
Read online
File size599.68 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test