IAINGAWIIAINGAWI

Aflah Consilia: Jurnal Bimbingan dan KonselingAflah Consilia: Jurnal Bimbingan dan Konseling

Pesantren banyak dijuluki sebagai sarang budaya patriarki oleh masyarakat karena model kepimpinannya yang hampir seluruhnya dipimpin oleh pengasuh laki-laki, dan santri sebagai eksekutor perintah pengasuh. Beberapa faktor yang menyebarkan stereotype patriarki di pesantren adalah interpretasi makna dari kitab kuning yang tidak memuat pengarang perempuan dan perbedaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan yang lebih menguntungkan laki-laki. Penelitian ini menganalisis posisi perempuan di pesantren, diskriminasi yang dialami, serta resiliensi santri korban sexual harassment oleh pengasuh. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan penggalian data melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan adanya santri dengan resiliensi tinggi yang berhasil bangkit setelah kejadian, namun juga terdapat informan yang mengarahkan kekecewaannya kepada perilaku negatif.

Dari kasus sexual harassment oleh pengasuh pesantren ini, terlihat bahwa resiliensi santri korban telah mempengaruhi kehidupannya dengan cara yang berbeda.Ada yang mampu bangkit dengan memulai kehidupan baru dan tetap menjalani kehidupan positif lainnya yang memilih menghadapi permasalahan tersebut dengan menolak perbuatan pengasuh tersebut.Sebaliknya, ada juga informan yang membawa dampak negatif kepada kehidupan sosialnya.

Untuk memahami lebih dalam dampak psikologis dari sexual harassment dalam konteks pesantren, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana resiliensi berlaku pada santri perempuan di berbagai jenis pesantren. Selain itu, penelitian lanjutan bisa mengeksplorasi bagaimana pengasuhan pesantren dapat mengubah interpretasi kitab kuning untuk membentuk pemahaman yang lebih inklusif dan setara. Terakhir, perlu ada kajian tentang dampak stereotipe patriarki pada perkembangan dari santri perempuan di pesantren, serta bagaimana pesantren dapat memodifikasi tradisi dan interpretasi makna tersebut untuk mengurangi diskriminasi gender.

  1. Model Komunikasi Kyai Dengan Santri di Pesantren | Hidayat | Jurnal ASPIKOM. model komunikasi kyai santri... jurnalaspikom.org/index.php/aspikom/article/view/89Model Komunikasi Kyai Dengan Santri di Pesantren Hidayat Jurnal ASPIKOM model komunikasi kyai santri jurnalaspikom index php aspikom article view 89
  2. MENYOROTI BUDAYA PATRIARKI DI INDONESIA | Sakina | Share : Social Work Journal. menyoroti budaya patriarki... doi.org/10.24198/share.v7i1.13820MENYOROTI BUDAYA PATRIARKI DI INDONESIA Sakina Share Social Work Journal menyoroti budaya patriarki doi 10 24198 share v7i1 13820
  3. PROBLEM SOLVING: SIGNIFIKANSI, PENGERTIAN, DAN RAGAMNYA | Satya Widya. problem solving signifikansi pengertian... doi.org/10.24246/j.sw.2012.v28.i2.p155-166PROBLEM SOLVING SIGNIFIKANSI PENGERTIAN DAN RAGAMNYA Satya Widya problem solving signifikansi pengertian doi 10 24246 j sw 2012 v28 i2 p155 166
Read online
File size611.95 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test