ISKIISKI

Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi IndonesiaJurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Perkembangan teknologi dan informasi (TIK) saat ini sangat pesat, khususnya jaringan internet. Hal ini memberikan berbagai pengaruh, baik positif maupun negatif. Salah satu dampak yang dirasakan adalah transformasi budaya (pola) komunikasi komunitas di desa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menemukan model perubahan budaya dalam komunikasi interpersonal yang terjadi melalui media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui Focus Group Discussions (FGD) dengan beberapa informan yang dipilih secara purposif, yaitu orang-orang yang memiliki peran dalam lingkungan tersebut. Selain itu, data juga diperoleh melalui studi dokumentasi dengan menelaah isi pesan komunikasi publik yang terjadi melalui media sosial, khususnya WhatsApp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Purwobinangun mengalami transformasi komunikasi melalui penggunaan WhatsApp untuk koordinasi sosial, penyebaran informasi, dan pengingat kegiatan. Penggunaan ini memenuhi kebutuhan komunikasi sesuai dengan teori Uses and Gratifications, seperti pengawasan, korelasi, hiburan, dan transmisi budaya. Komunitas tetap mempertahankan pola komunikasi tradisional, menghasilkan model komunikasi hibrida yang menggabungkan nilai lokal dan praktik digital. Transformasi komunikasi menciptakan pola hibrida, menggabungkan media sosial dan tradisional untuk mempertahankan nilai lokal serta memperkuat keterhubungan komunitas. Model ini menyeimbangkan nilai budaya lokal dengan efisiensi digital, meningkatkan keterhubungan sosial tanpa menggerus kohesi tradisional, serta memberikan wawasan empiris bagi kebijakan inklusi digital yang dapat diskalakan di konteks pedesaan.

Transformasi komunikasi melalui media sosial tidak menghilangkan pola komunikasi tradisional.WhatsApp menjadi media pilihan utama namun tidak semua warga dapat mengaksesnya sehingga sebagian masih mengandalkan metode konvensional.Kombinasi media hybrid ini mendukung keberlanjutan komunitas, melestarikan integritas budaya, dan memastikan akses digital yang adil, sehingga dapat dijadikan model replikatif bagi desa‑desa lain yang mengalami perubahan serupa.Penelitian selanjutnya perlu meneliti dampak jangka panjang transformasi ini untuk memperbaiki intervensi kebijakan dalam mewujudkan inklusi digital yang berkelanjutan.

Penelitian longitudinal yang memantau dampak jangka panjang model komunikasi hibrida terhadap kohesi sosial dan partisipasi warga dapat memberikan gambaran evolusi manfaat dan risiko digitalisasi desa. Selanjutnya, studi komparatif antar desa dengan tingkat infrastruktur digital yang berbeda akan mengidentifikasi faktor‑faktor kunci keberhasilan atau kegagalan adopsi media sosial dalam konteks budaya lokal. Terakhir, pengembangan dan evaluasi program literasi digital yang dirancang khusus untuk lansia, dengan mengintegrasikan nilai budaya Jawa seperti ijeman, akan membantu mengurangi kesenjangan keterampilan teknologi tanpa merusak norma sosial, sehingga memperluas inklusi digital secara holistik.

  1. Uses and Gratifications of Social Media: A Comparison of Facebook and Instant Messaging - Anabel Quan-Haase,... journals.sagepub.com/doi/10.1177/0270467610380009Uses and Gratifications of Social Media A Comparison of Facebook and Instant Messaging Anabel Quan Haase journals sagepub doi 10 1177 0270467610380009
  2. The Transformation Model of Village Community Communication Pattern | Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana... doi.org/10.25008/jkiski.v10i2.1388The Transformation Model of Village Community Communication Pattern Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana doi 10 25008 jkiski v10i2 1388
Read online
File size521.24 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test