ISKIISKI

Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi IndonesiaJurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Dalam masyarakat heteropatriarki, perempuan seringkali dibentuk untuk menginternalisasi harapan normatif mengenai cinta dan pernikahan. Artikel ini menganalisis narasi pribadi yang dibagikan melalui akun Instagram @lovecoach.id, yang menggambarkan pengalaman trauma, penundaan pernikahan, dan kekhawatiran terhadap hubungan yang berbahaya. Penelitian dilakukan selama lima bulan (April–September 2025) dengan sumber data berupa postingan akun Instagram tersebut. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana narasi tersebut dapat dipahami sebagai bentuk performativitas gender dan perlawanan terhadap norma heteropatriarki yang menempatkan perempuan sebagai subjek pasif dalam institusi pernikahan. Dengan pendekatan kualitatif dan analisis wacana kritis yang berlandaskan kerangka teoretis Judith Butler, studi ini menelusuri bagaimana identitas gender diproduksi dan dinegosiasikan melalui bahasa dan media digital. Temuan menunjukkan bahwa narasi tidak hanya mengekspresikan pengalaman individu, tetapi juga mencerminkan penolakan yang lebih luas terhadap konstruksi sosial mengenai kewajiban perempuan untuk menikah. Ekspresi trauma, ketidaksiapan emosional, serta aspirasi hubungan egaliter menandakan praktik gender subversif yang menantang norma dominan. Penelitian ini menegaskan pentingnya media sosial sebagai ruang artikulatif bagi perempuan untuk membangun identitas gender secara otonom dan reflektif, sekaligus menolak narasi hegemonik tentang cinta dan pernikahan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa tidak sekadar sarana komunikasi, melainkan arena kekuasaan yang membentuk identitas, norma, dan subyektivitas, serta dalam konteks Indonesia mengungkap bagaimana norma heteropatriarki direproduksi dan dipertanyakan melalui performativitas gender pada narasi Instagram yang dipengaruhi nilai budaya, agama, dan algoritma platform.Identitas gender terbentuk lewat norma sosial berulang, dimana trauma masa kecil dan ketakutan terhadap pernikahan menjadi titik masuk untuk menelaah bagaimana pengalaman pribadi dipengaruhi dan dikendalikan oleh wacana hegemonik heteronormatif, sehingga penundaan atau penolakan pernikahan menjadi bentuk resistensi simbolik terhadap imperatif budaya perkawinan heteroseksual.Analisis ini menekankan pentingnya pendekatan kritis dalam ilmu komunikasi untuk meneliti platform digital sebagai ruang aktif dimana kekuasaan, norma gender, dan nilai budaya dipertunjukkan dan dinegosiasi, serta mengajak integrasi algoritma platform dan konteks sosio‑kultural lokal ke dalam teori komunikasi guna memahami wacana digital kontemporer.

Penelitian selanjutnya dapat mempelajari perbandingan narasi resistensi gender antara Instagram dan platform media sosial lain seperti TikTok atau Twitter, untuk melihat apakah bentuk performativitas dan strategi perlawanan berbeda tergantung pada fitur teknis dan budaya pengguna masing‑masing; selanjutnya, studi longitudinal yang melacak perubahan narasi perempuan di @lovecoach.id selama beberapa tahun dapat mengungkap dinamika evolusi persepsi trauma, kesiapan pernikahan, dan nilai egaliter seiring perubahan sosial dan kebijakan; terakhir, penelitian eksperimen dapat mengevaluasi dampak algoritma rekomendasi konten Instagram terhadap visibilitas dan persepsi narasi perempuan, dengan menguji apakah paparan lebih sering pada konten yang menantang norma heteropatriarki meningkatkan kesadaran kritis dan perubahan sikap di kalangan audiens umum.

  1. Resisting Heteropatriarchy: Gender Performativity in Instagram Narratives | Jurnal Komunikasi Ikatan... jurnal-iski.or.id/index.php/jkiski/article/view/1268Resisting Heteropatriarchy Gender Performativity in Instagram Narratives Jurnal Komunikasi Ikatan jurnal iski index php jkiski article view 1268
Read online
File size859.19 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test