IAIN UTUBANIAIN UTUBAN

Empatheia: Jurnal PsikologiEmpatheia: Jurnal Psikologi

Perkembangan media sosial, khususnya Instagram, telah membentuk budaya komunikasi baru di kalangan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perilaku self-disclosure (pengungkapan diri) yang dilakukan oleh mahasiswi Program Studi Psikologi Islam IAINU Tuban melalui fitur Instagram Story pada second account (akun kedua). Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap informan yang dipilih secara purposive sampling. Analisis dilakukan berdasarkan lima dimensi teori Wheeless: amount, intent, honesty, depth, dan valence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-disclosure di second account dilakukan dengan frekuensi tinggi, tujuan emosional (cathartic), tingkat kejujuran yang relatif tinggi, kedalaman emosional yang signifikan, serta dominasi konten bermuatan emosi negatif seperti kecemasan, kelelahan, dan kekecewaan. Akun kedua menjadi ruang aman bagi mahasiswi untuk mengekspresikan diri secara lebih otentik dan selektif, sebagai bentuk coping mechanism terhadap tekanan akademik dan sosial. Namun demikian, pengungkapan diri juga mengandung risiko psikologis dan sosial, seperti kecemasan pasca-unggahan, serta kekhawatiran terhadap pelanggaran privasi. Temuan ini menegaskan pentingnya literasi digital, pengelolaan identitas diri, dan edukasi etika bermedia sosial dalam konteks pendidikan tinggi, guna mendukung kesehatan mental serta perkembangan sosial mahasiswa di era digital.

Dengan mengacu pada lima dimensi teori Wheeless, dapat disimpulkan bahwa praktik self-disclosure yang dilakukan oleh mahasiswa Psikologi Islam IAINU Tuban di Instagram, khususnya melalui second account, merupakan bentuk komunikasi pribadi yang sangat dipengaruhi oleh kebutuhan emosional, situasi sosial, serta keterbatasan ruang ekspresif, sekaligus menunjukkan pergeseran budaya komunikasi dalam masyarakat digital.Oleh karena itu, penting bagi institusi pendidikan dan praktisi psikologi untuk memahami dinamika ini sebagai bagian dari perkembangan identitas dan kesehatan mental mahasiswa, serta menyusun strategi edukatif tentang etika bermedia sosial, literasi digital, dan keseimbangan antara ekspresi diri dan perlindungan privasi.

Penelitian selanjutnya dapat membandingkan pola self-disclosure antara akun utama dan akun kedua pada mahasiswa laki‑laki dan perempuan untuk mengetahui perbedaan gender dalam penggunaan Instagram sebagai ruang ekspresi pribadi; selanjutnya, studi longitudinal dapat dilakukan untuk memonitor dampak jangka panjang pengungkapan diri di Instagram terhadap kesehatan mental, khususnya tingkat kecemasan dan kesejahteraan emosional mahasiswa selama masa studi; terakhir, intervensi edukatif yang fokus pada peningkatan literasi digital dan kesadaran etika media sosial dapat diuji secara eksperimental untuk menilai perubahan kualitas dan keamanan self-disclosure serta efeknya pada persepsi privasi dan dukungan sosial, sehingga memberikan panduan praktis bagi institusi pendidikan dalam mendukung kesejahteraan digital mahasiswa.

Read online
File size290.59 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test