POLITEKNIKYAKPERMASPOLITEKNIKYAKPERMAS

Journal of Nursing and HealthJournal of Nursing and Health

Latar Belakang: Sibling rivalry terjadi ketika anak merasa kehilangan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, terutama saat harus berbagi perhatian dengan saudara kandung. Fenomena ini rentan terjadi pada anak usia 3–5 tahun, masa dimana kebutuhan emosional sangat tinggi. Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa sekitar 30 hingga 60 persen anak di seluruh dunia mengalami konflik dengan saudara kandung. Di Asia, jutaan balita mengalami sibling rivalry dan di Indonesia diperkirakan sekitar tiga perempat anak usia dini pernah mengalami kondisi ini. Peran ibu sebagai tokoh utama dalam pengasuhan sangat penting untuk membentuk stabilitas emosional anak dan mencegah konflik antar saudara. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain analitik korelasional menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel terdiri dari 58 ibu yang memiliki anak usia 3–5 tahun dan lebih dari satu anak di Raudlatul Athfal (RA) Nahdlatul Fata Jepara. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, mencakup variabel peran ibu dan sibling rivalry. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank untuk mengukur hubungan antar variabel. Hasil: Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara peran ibu dan kejadian sibling rivalry pada anak usia prasekolah. Uji Spearman Rank menghasilkan nilai p-value 0,000 dan koefisien korelasi 0,856 yang menunjukkan hubungan sangat kuat dan positif. Artinya, semakin kurang peran ibu dalam pengasuhan semakin besar kemungkinan terjadinya sibling rivalry pada anak. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara peran ibu dengan kejadian sibling rivalry pada anak prasekolah di RA Nahdlatul Fata Jepara. Peran ibu yang optimal mampu menekan risiko terjadinya konflik antar anak.

Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa peran ibu memiliki pengaruh yang signifikan terhadap terjadinya sibling rivalry pada anak usia 3-5 tahun.Semakin baik peran ibu dalam memberikan perhatian, mengelola konflik antar saudara, dan memenuhi kebutuhan emosional anak, semakin rendah kemungkinan terjadinya sibling rivalry.Sebaliknya, peran ibu yang kurang atau cukup dapat meningkatkan faktor risiko terjadinya persaingan antar saudara.

Penelitian lanjutan dapat mengakses dampak peran ayah dalam mencegah konflik antarsaudara kandung pada anak prasekolah, mengkaji perbedaan kejadian sibling rivalry antara keluarga dengan ibu bekerja dan ibu rumah tangga, serta mempelajari hubungan jarak usia anak dengan efektivitas strategi parenting untuk mengurangi persaingan di wilayah pesisir. Studi komparatif tentang pola asuh di lingkungan berbeda juga dapat memberikan wawasan penting mengenai faktor sosial budaya yang memengaruhi dinamika hubungan keluarga.

  1. Strategi Ibu dengan Peran Ganda dalam Membentuk Kemandirian Anak Usia Pra Sekolah | Jurnal Obsesi : Jurnal... doi.org/10.31004/obsesi.v1i2.24Strategi Ibu dengan Peran Ganda dalam Membentuk Kemandirian Anak Usia Pra Sekolah Jurnal Obsesi Jurnal doi 10 31004 obsesi v1i2 24
  2. Faktor yang Berhubungan dengan Perkembangan Anak Usia Pra Sekolah di TK Nurul Husada Kalibaru Banyuwangi... doi.org/10.55500/jikr.v6i1.69Faktor yang Berhubungan dengan Perkembangan Anak Usia Pra Sekolah di TK Nurul Husada Kalibaru Banyuwangi doi 10 55500 jikr v6i1 69
  3. Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada Anak Usia 5-11 Tahun di Cisarua Kabupaten Bandung Barat... ejournal.upi.edu/index.php/JPKI/article/view/13708Pengetahuan Ibu Tentang Sibling Rivalry pada Anak Usia 5 11 Tahun di Cisarua Kabupaten Bandung Barat ejournal upi edu index php JPKI article view 13708
Read online
File size247.12 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test