YMPAIYMPAI

Jurnal Masyarakat Sehat IndonesiaJurnal Masyarakat Sehat Indonesia

Tiga fase utama dalam 7000 hari pertama kehidupan usia 5-9 tahun, 10-14 tahun, dan 15-19 tahun merupakan periode kritis yang membutuhkan perhatian terhadap gizi dan psikososial anak. Anak dan remaja adalah kelompok yang rentan terhadap berbagai masalah gizi seperti stunting, overweight, dan obesitas. Tumbuh kembang mereka sangat dipengaruhi oleh peran ayah dan keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran ayah dan keluarga dalam mendukung status gizi, kesehatan fisik, dan kondisi psikologis anak serta remaja pada tiga fase kunci perkembangan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional. Variabel independen adalah peran ayah dan keluarga, sedangkan variabel dependen mencakup status gizi, kesehatan fisik, dan psikologis anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran ayah berhubungan lemah namun signifikan dengan status gizi (nilai p = 0,029; r = 0,265) dan kondisi psikologis anak (p = 0,033; r = 0,260), tetapi tidak signifikan dengan kesehatan fisik (nilai p = 0,647; r = 0,057). Peran ayah yang diinginkan tidak berhubungan signifikan dengan status gizi (nilai p = 0,116; r=0,192), kesehatan fisik (nilai p = 0,363; r = 0,112), maupun psikologis (nilai p = 0,234; r = 0,146). Sementara itu, peran keluarga berhubungan lemah namun signifikan dengan status gizi (nilai p = 0,016; r = 0,291) dan kondisi psikologis (p = 0,027; r = 0,268), tetapi tidak signifikan dengan kesehatan fisik (p = 0,280; r = 0,133). Temuan ini menegaskan bahwa kehadiran ayah dan keluarga tidak cukup secara fisik, tetapi juga harus melibatkan kehangatan emosional, konsistensi, dan keterlibatan aktif dalam pengasuhan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa peran ayah dan keluarga berhubungan signifikan dengan status gizi dan kondisi psikologis anak dan remaja, namun tidak dengan kesehatan fisik.Teman sebaya merupakan faktor yang paling dominan dalam masalah psikologis anak dan remaja, meskipun keterlibatan ayah tinggi dan pola asuh keluarga otoritatif.Temuan ini perlu ditafsirkan secara hati-hati karena keterbatasan ukuran sampel dan potensi bias pada pengisian kuesioner, terutama pada anak usia 5–9 tahun, sehingga dibutuhkan penelitian lanjutan untuk generalisasi yang lebih luas.

Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk memperluas populasi penelitian dengan sampel yang lebih besar guna memperkuat generalisasi hasil. Selain itu, dapat dilakukan studi mendalam mengenai dampak jangka panjang keterlibatan ayah dan keluarga terhadap pengembangan perilaku gizi anak di masa depan. Arah penelitian lain yang mungkin adalah mengeksplorasi strategi efektif untuk meningkatkan keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan anak, terutama di kalangan keluarga yang memiliki aktivitas pekerjaan padat, sehingga bisa diintegrasikan ke dalam program intervensi keluarga.

Read online
File size490.79 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test