SASTRA UNESSASTRA UNES

Jurnal Ilmiah Pendidikan ScholasticJurnal Ilmiah Pendidikan Scholastic

Penelitian ini menganalisis bentuk-bentuk kekerasan terhadap wanita dalam karya Thomas Hardy, Tess of the dUrbervilles, melalui perspektif feminisme radikal seperti yang diusulkan oleh Rosemarie Tong (2009). Fokus penelitian ditujukan pada penggambaran pengalaman Tess sebagai tokoh utama yang menghadapi kekerasan fisik, seksual, emosional, dan verbal, sekaligus mengeksplorasi bagaimana sistem sosial patriarki memengaruhi jalannya hidup dan nasibnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana kekuasaan patriarki, yang tercermin melalui karakter laki-laki dan institusi sosial seperti keluarga, agama, dan perkawinan, membentuk posisi Tess sebagai korban dalam masyarakat yang bias terhadap wanita, serta mengidentifikasi berbagai bentuk kekerasan yang dialami Tess Durbeyfield dalam novel Hardy. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode analisis konten, di mana data diambil dari kutipan naratif, dialog, dan interaksi karakter yang menggambarkan praktik ketidakadilan berbasis gender. Temuan menunjukkan bahwa penderitaan Tess tidak hanya hasil dari tindakan individu tetapi berasal dari ketimpangan gender yang diinstitutionalkan melalui tradisi budaya, norma sosial yang kaku, dan dominasi laki-laki. Meskipun Tess berusaha mempertahankan kesadaran diri, ketangguhan, dan keberanian untuk menolak, perjuangannya sering berakhir dalam kekalahan akibat kuatnya nilai-nilai patriarki. Kesimpulannya, Tess of the dUrbervilles tidak hanya menyajikan cerita tragis kehidupan seorang wanita tetapi juga menjadi kritik sosial tajam terhadap ketimpangan kekuasaan berbasis gender di era Viktorian, sekaligus tetap relevan dalam diskusi tentang kesetaraan gender dan kekerasan terhadap wanita saat ini.

Berdasarkan analisis dan diskusi, penelitian ini menarik dua kesimpulan utama.Pertama, dominasi patriarki yang diwujudkan melalui karakter laki-laki dan institusi sosial seperti keluarga, agama, dan perkawinan memainkan peran signifikan dalam membentuk posisi Tess sebagai korban dalam masyarakat.Alec dUrberville menunjukkan bentuk dominasi yang keras melalui pelecehan seksual, kekerasan fisik, dan manipulasi emosional, sementara Angel Clare menggambarkan jenis kontrol yang lebih halus dengan idealisasi berlebihan terhadap Tess dan menilai moralnya secara berlebihan.Di sisi lain, institusi sosial yang seharusnya melindungi wanita justru memperkuat nilai-nilai patriarki, membuat Tess semakin rentan dan tidak berdaya.Hal ini menunjukkan bahwa penindasan yang dialami Tess tidak hanya berasal dari individu tetapi juga sangat berakar dalam struktur sosial yang lebih luas dan budaya patriarki yang membatasi kebebasan wanita.Kedua, berbagai bentuk kekerasan yang dialami Tess Durbeyfield mencakup kekerasan fisik, emosional, manipulasi, penghinaan verbal, dan pembatasan yang ditimbulkan oleh norma sosial diskriminatif.Bentuk-bentuk kekerasan ini menyebabkan penderitaan mendalam bagi Tess, baik secara psikologis maupun sosial, akhirnya memperkuat posisinya sebagai korban ketidakadilan dalam sistem patriarki.Dari perspektif feminisme radikal, pengalaman Tess menegaskan bahwa kekerasan terhadap wanita bukanlah tindakan terisolasi tetapi bagian dari kerangka sistemik yang membenarkan dominasi laki-laki dan menempatkan wanita dalam posisi yang rendah.Dengan demikian, Tess of the dUrbervilles tidak hanya menyajikan cerita tragis kehidupan seorang wanita tetapi juga menjadi kritik tajam terhadap ketimpangan gender dan opresi patriarki, isu-isu yang tetap relevan hingga saat ini.

Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan membandingkan analisis kekerasan terhadap wanita dalam karya-karya sastra lain yang menggambarkan konteks sosial serupa, seperti karya Charles Dickens atau George Eliot, untuk melihat apakah pola dominasi patriarki dan ketimpangan gender bersifat universal atau khas era Viktorian. Selain itu, peneliti dapat mengeksplorasi representasi kekerasan terhadap wanita dalam karya sastra kontemporer, terutama yang menggambarkan dinamika gender di masyarakat modern, untuk melihat perubahan atau persistensi struktur patriarki. Penelitian juga bisa menggabungkan pendekatan kuantitatif, seperti survei atau wawancara, untuk memperoleh data primer dari pembaca atau penonton karya sastra, sehingga memperkaya pemahaman tentang persepsi masyarakat terhadap isu kekerasan terhadap wanita dalam konteks budaya yang berbeda.

  1. ANALYSIS OF FEMINISM IN THE NOVEL OF LITTLE WOMEN BY LOUISA MAY ALCOTT | Desmawati | Journal of Language... doi.org/10.35760/jll.2018.v6i2.2487ANALYSIS OF FEMINISM IN THE NOVEL OF LITTLE WOMEN BY LOUISA MAY ALCOTT Desmawati Journal of Language doi 10 35760 jll 2018 v6i2 2487
  2. Gender Bias Versus Gender Violence in Higher Education: A Critical Analysis of the Literature in Social... mdpi.com/2076-0760/13/12/658Gender Bias Versus Gender Violence in Higher Education A Critical Analysis of the Literature in Social mdpi 2076 0760 13 12 658
  3. The Cultural Roots of Violence against Women: Individual and Institutional Gender Norms in 12 Countries.... doi.org/10.3390/socsci12030117The Cultural Roots of Violence against Women Individual and Institutional Gender Norms in 12 Countries doi 10 3390 socsci12030117
Read online
File size337.59 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test