JOURNALMPCIJOURNALMPCI
Journal of Health and Nutrition ResearchJournal of Health and Nutrition ResearchStroke berulang iskemik (RIS) merupakan masalah kesehatan global utama karena tingkat morbiditas, mortalitas, dan beban ekonominya yang tinggi. Meskipun banyak studi telah mengeksplorasi waktu dan pola RIS secara global, pemahaman tentang isu ini dalam konteks Indonesia masih terbatas. Dalam keadaan data lokal yang tidak memadai, menyintesis bukti global menjadi penting untuk menginformasikan praktik klinis dan pengembangan kebijakan di wilayah seperti Indonesia. Tinjauan ini bertujuan untuk mengeksplorasi pola waktu RIS, khususnya fase awal dan akhir, serta memperkirakan risiko berdasarkan pengamatan, untuk menginformasikan intervensi berbasis bukti. Tinjauan skoping berdasarkan kerangka Arksey & OMalley dan pedoman PRISMA-ScR. Pencarian literatur (2014–2024) di PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan CINAHL. Sembilan studi termasuk dan dianalisis secara tematik. Dari 2.987 artikel, 9 memenuhi kriteria inklusi. Risiko RIS berkisar antara 4,3–23,4%, dengan median waktu kekambuhan 21–25 hari. RIS awal (<90 hari) memiliki faktor risiko berbeda (misalnya hipertensi, stroke sebelumnya, penyakit jantung) dibandingkan RIS akhir. Modified Rankin Scale (mRS) dan National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS) menjadi instrumen utama; pengamatan dilakukan melalui klinik, registri, atau survei. RIS awal dan akhir berbeda dalam faktor risiko dan implikasi klinis. Pemantauan pasca-stroke awal sangat kritis untuk mengurangi kekambuhan. Untuk menangani pencegahan jangka panjang dan mendukung kepatuhan terhadap strategi pencegahan sekunder, pemantauan berbasis teknologi atau solusi kesehatan digital harus dipertimbangkan sebagai intervensi potensial, terutama dalam mengatasi tantangan terkait pemantauan jangka panjang dan keterlibatan pasien.
Tinjauan skoping ini menegaskan bahwa stroke iskemik berulang (RIS) menunjukkan perbedaan temporal jelas antara fase kekambuhan awal dan akhir, masing-masing didorong oleh mekanisme patofisiologis dan profil risiko klinis yang berbeda.RIS awal, terjadi dalam 90 hari pertama setelah stroke awal, secara utama didorong oleh faktor risiko akut seperti hipertensi, diabetes, riwayat stroke sebelumnya, dan etiologi seperti aterosklerosis arteri besar dan embolisme kardiovaskular.Sebaliknya, RIS akhir yang muncul setelah 90 hari lebih sering terkait dengan patologi vaskular progresif, termasuk penyakit vaskular kecil, hiperlipidemia, dan tekanan darah sistolik yang tidak terkontrol.Mengenali perbedaan temporal ini sangat penting karena memungkinkan implementasi strategi pencegahan spesifik fase.Jendela risiko tinggi awal memerlukan pencegahan sekunder intensif melalui pemantauan proaktif, optimalisasi terapi cepat, dan rencana perawatan individual.Sebaliknya, kekambuhan akhir membutuhkan komitmen jangka panjang untuk kontrol faktor risiko, kelanjutan perawatan, dan keterlibatan pasien.Untuk meningkatkan efektivitas strategi ini, integrasi inovasi kesehatan digital seperti pemantauan jarak jauh, kesehatan mobile (mHealth), atau telemedisin harus dipertimbangkan untuk mendukung kepatuhan berkelanjutan dan mengurangi risiko kekambuhan.
Penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan platform kesehatan digital berbasis AI untuk memantau risiko kekambuhan RIS secara real-time, terutama di daerah dengan akses terbatas ke fasilitas kesehatan. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi perbedaan pola kekambuhan RIS antara populasi muda dan lansia, termasuk pengaruh faktor sosioekonomi dan lingkungan terhadap risiko tersebut. Penelitian juga perlu mengkaji efektivitas pendekatan pendidikan kesehatan berbasis komunitas dalam meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi sekunder, terutama di daerah pedesaan dengan sumber daya kesehatan yang terbatas.
- Ninety‐Day Stroke Recurrence in Minor Stroke: Systematic Review and Meta‐Analysis of Trials and Observational... ahajournals.org/doi/10.1161/JAHA.123.032471NinetyAaDay Stroke Recurrence in Minor Stroke Systematic Review and MetaAaAnalysis of Trials and Observational ahajournals doi 10 1161 JAHA 123 032471
- Characteristics Early versus Late Recurrent Ischemic Stroke: A Scoping Review on Timing and Predictors... journalmpci.com/index.php/jhnr/article/view/494Characteristics Early versus Late Recurrent Ischemic Stroke A Scoping Review on Timing and Predictors journalmpci index php jhnr article view 494
| File size | 616.2 KB |
| Pages | 13 |
| DMCA | Report |
Related /
ACTAMEDINDONESACTAMEDINDONES Zainoel Abidin, Banda Aceh, Indonesia. Kadar plasma adiponektin di ukur dengan menggunakan alat immunosorbent enzyme-linked (ELISA) sesuai dengan spesifikasiZainoel Abidin, Banda Aceh, Indonesia. Kadar plasma adiponektin di ukur dengan menggunakan alat immunosorbent enzyme-linked (ELISA) sesuai dengan spesifikasi
POLTEKKES SMGPOLTEKKES SMG 2 dan peningkatan limfosit tersebut secara statistik tidak signifikan (0,692). Pemberian kombinasi Minyak Zaitun Extra Virgin dan Extrac Bawang Putih berpengaruh2 dan peningkatan limfosit tersebut secara statistik tidak signifikan (0,692). Pemberian kombinasi Minyak Zaitun Extra Virgin dan Extrac Bawang Putih berpengaruh
PELNIPELNI Jenis Penelitian ini adalah kuantitatif dengan mengunakan desain quasy experimental. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 178 orang. PenelitianJenis Penelitian ini adalah kuantitatif dengan mengunakan desain quasy experimental. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 178 orang. Penelitian
UNUSAUNUSA Dalam kesimpulan, penelitian ini mengidentifikasi bahwa betatrophin berkaitan dengan sindrom metabolik dan risiko diabetes pada siswa asrama. Oleh karenaDalam kesimpulan, penelitian ini mengidentifikasi bahwa betatrophin berkaitan dengan sindrom metabolik dan risiko diabetes pada siswa asrama. Oleh karena
UNIVMEDUNIVMED Pengendalian dan pencegahan PJK perlu dilakukan dengan kontrol rutin terhadap kadar gula darah dan tekanan darah untuk menstabilkannya dalam batas normal.Pengendalian dan pencegahan PJK perlu dilakukan dengan kontrol rutin terhadap kadar gula darah dan tekanan darah untuk menstabilkannya dalam batas normal.
UNISAYOGYAUNISAYOGYA Metode penelitian Quasi Experiment dengan Pretest-Posttest Control Group. Teknik sampel dalam penelitian menggunakan purposive sampling. Analisis dataMetode penelitian Quasi Experiment dengan Pretest-Posttest Control Group. Teknik sampel dalam penelitian menggunakan purposive sampling. Analisis data
STIKESNHSTIKESNH Efektivitas terapi ini didukung oleh mekanisme fisiologis berupa vasodilatasi, peningkatan sirkulasi darah, dan stimulasi saraf parasimpatis. Namun, padaEfektivitas terapi ini didukung oleh mekanisme fisiologis berupa vasodilatasi, peningkatan sirkulasi darah, dan stimulasi saraf parasimpatis. Namun, pada
UPERTISUPERTIS Intervensi berupa implementasi peregangan aktif dan brisk walking selama 2 minggu. Sampel penelitian sebanyak 19 orang di Puskesmas Plus Mandiangin LondonIntervensi berupa implementasi peregangan aktif dan brisk walking selama 2 minggu. Sampel penelitian sebanyak 19 orang di Puskesmas Plus Mandiangin London
Useful /
JOURNALMPCIJOURNALMPCI This study evaluated the effect of Acanthus ilicifolius leaf infusion on SOD and GPx activity in Wistar rats induced with type 2 diabetes using Streptozotocin-NicotinamideThis study evaluated the effect of Acanthus ilicifolius leaf infusion on SOD and GPx activity in Wistar rats induced with type 2 diabetes using Streptozotocin-Nicotinamide
JOURNALMPCIJOURNALMPCI Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gaya pengasuhan, interaksi sosial, dan nilai-nilai sosial dengan kesehatan mental siswa di SMPNStudi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gaya pengasuhan, interaksi sosial, dan nilai-nilai sosial dengan kesehatan mental siswa di SMPN
UNUSAUNUSA Staphylococcus hominis HSFT-2 adalah kokus Gram positif yang diisolasi dari rusip Holothutia scabra yang umumnya dikenal sebagai teripang pasir. FibrinolitikStaphylococcus hominis HSFT-2 adalah kokus Gram positif yang diisolasi dari rusip Holothutia scabra yang umumnya dikenal sebagai teripang pasir. Fibrinolitik
UNUSAUNUSA Selain itu, penting untuk mengeksplorasi bagaimana komponen aktif utama, seperti ester fenolik dan gamma-sitosterol, bekerja pada tingkat molekuler untukSelain itu, penting untuk mengeksplorasi bagaimana komponen aktif utama, seperti ester fenolik dan gamma-sitosterol, bekerja pada tingkat molekuler untuk