JOURNALMPCIJOURNALMPCI
Journal of Health and Nutrition ResearchJournal of Health and Nutrition ResearchDi daerah pesisir, pola makan yang kurang beragam menjadi salah satu penyebab utama anemia pada wanita hamil. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara pola konsumsi sumber daya laut dengan kejadian anemia pada wanita hamil di daerah pesisir Indonesia pada Januari 2025, dengan fokus pada asupan makanan. Penelitian menggunakan desain survei cross‑sectional; populasi terdiri dari 369 wanita hamil, dengan teknik Simple Random Sampling menghasilkan 189 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan Food Frequency Questionnaire untuk mengidentifikasi jenis dan frekuensi konsumsi sumber daya laut selama sebulan terakhir, serta recall 24 jam selama tiga hari untuk memperkirakan asupan nutrisi harian, termasuk zat besi. Status anemia dinilai melalui pengukuran kadar hemoglobin menggunakan metode sianmethemoglobin. Analisis data menggunakan uji Spearman menunjukkan nilai Sig. (2‑tailed) = 0,033, yang mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara pola konsumsi makanan laut dan kejadian anemia pada wanita hamil di daerah pesisir. Temuan menunjukkan bahwa keberadaan zat besi non‑heme dan senyawa penghambat dalam makanan laut, bersama dengan rendahnya asupan daging merah dan hati, meningkatkan risiko anemia.
Penelitian ini menemukan hubungan signifikan antara pola konsumsi makanan laut dan kejadian anemia pada wanita hamil di daerah pesisir (p = 0,033).Meskipun makanan laut kaya zat besi, sebagian besar berupa zat besi non‑heme dengan tingkat penyerapan lebih rendah serta mengandung senyawa penghambat seperti fitat dan oksalat, sementara konsumsi daging merah dan hati yang rendah memperburuk prevalensi anemia.Penelitian lanjutan disarankan untuk menyelidiki pengaruh metode pengolahan makanan laut (misalnya perebusan, penggorengan, pemanggangan, atau fermentasi) terhadap kandungan dan bioavailabilitas zat besi serta implikasinya terhadap status anemia pada wanita hamil.
Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki bagaimana variasi metode pengolahan makanan laut—seperti perebusan, penggorengan, pemanggangan, atau fermentasi—memengaruhi kadar zat besi dan bioavailabilitasnya pada wanita hamil, sehingga dapat memberikan rekomendasi praktis untuk meningkatkan penyerapan zat besi. Selain itu, studi dapat mengevaluasi efek kombinasi konsumsi makanan laut dengan makanan kaya vitamin C (misalnya jeruk, tomat, atau pepaya) terhadap peningkatan penyerapan zat besi dan penurunan prevalensi anemia pada populasi ini. Selanjutnya, penting untuk meneliti faktor sosio‑ekonomi dan budaya yang memengaruhi pola konsumsi makanan laut serta kepatuhan terhadap suplemen zat besi, guna merancang intervensi edukasi nutrisi yang lebih tepat sasaran dan meningkatkan efektivitas program pencegahan anemia pada wanita hamil di daerah pesisir.
| File size | 372.8 KB |
| Pages | 8 |
| DMCA | Report |
Related /
POLTEKKES SMGPOLTEKKES SMG Terdapat pula perbedaan pengaruh antara kedua kelompok dengan p-value 0,000 pada pengetahuan dan p-value 0,000 pada sikap. Diharapkan hasil penelitianTerdapat pula perbedaan pengaruh antara kedua kelompok dengan p-value 0,000 pada pengetahuan dan p-value 0,000 pada sikap. Diharapkan hasil penelitian
MEDIAZAYNAMEDIAZAYNA Anemia merupakan suatu keadaan kadar hemoglobin dalam tubuh kurang dari normal. Hemoglobin menjadi parameter yang digunakan untuk menentukan prevalensiAnemia merupakan suatu keadaan kadar hemoglobin dalam tubuh kurang dari normal. Hemoglobin menjadi parameter yang digunakan untuk menentukan prevalensi
POLTEKKES PALEMBANGPOLTEKKES PALEMBANG Stunting merupakan masalah kesehatan kronis yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Remaja putri sebagai calon ibu berperan pentingStunting merupakan masalah kesehatan kronis yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Remaja putri sebagai calon ibu berperan penting
UNIMMANUNIMMAN Data Riskesdas menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri di Indonesia cukup tinggi dan berkaitan erat dengan pola konsumsi makanan sehari-hari.Data Riskesdas menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri di Indonesia cukup tinggi dan berkaitan erat dengan pola konsumsi makanan sehari-hari.
UTUUTU Hasil menunjukkan peningkatan rata‑rata skor pengetahuan remaja tentang stunting dari 47 % menjadi 74 % dan tentang anemia dari 47 % menjadi 81 %Hasil menunjukkan peningkatan rata‑rata skor pengetahuan remaja tentang stunting dari 47 % menjadi 74 % dan tentang anemia dari 47 % menjadi 81 %
INTELEKMADANIINTELEKMADANI Penelitian ini menggunakan desain mixed methods dalam tiga fase: eksplorasi melalui wawancara mendalam, observasi, dan diskusi kelompok terfokus; pengembanganPenelitian ini menggunakan desain mixed methods dalam tiga fase: eksplorasi melalui wawancara mendalam, observasi, dan diskusi kelompok terfokus; pengembangan
NUSANTARAGLOBALNUSANTARAGLOBAL Berdasarkan data WHO, tahun 2021 prevalensi anemia pada remaja putri sebesar 30%, di Indonesia sebesar 32%, Provinsi Gorontalo terdapat 213 kasus anemiaBerdasarkan data WHO, tahun 2021 prevalensi anemia pada remaja putri sebesar 30%, di Indonesia sebesar 32%, Provinsi Gorontalo terdapat 213 kasus anemia
UMSBUMSB Di Provinsi Banten, angka kejadian anemia masih sangat tinggi dengan prevalensi 37,1%. Angka kejadian anemia berdasarkan data dari Dinas Kesehatan KotaDi Provinsi Banten, angka kejadian anemia masih sangat tinggi dengan prevalensi 37,1%. Angka kejadian anemia berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota
Useful /
UTUUTU Berdasarkan pengamatan lapangan, hasil wawancara dengan 5 pasien menunjukkan waktu tunggu antara 120‑150 menit (1‑1,5 jam) mulai dari kedatangan pasienBerdasarkan pengamatan lapangan, hasil wawancara dengan 5 pasien menunjukkan waktu tunggu antara 120‑150 menit (1‑1,5 jam) mulai dari kedatangan pasien
UTUUTU Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pasien anak-anak yang dirawat di unit perawatan anak Rumah Sakit Cut Nyak Dhien, AcehTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pasien anak-anak yang dirawat di unit perawatan anak Rumah Sakit Cut Nyak Dhien, Aceh
STT KADESISTT KADESI Sebagai Nabi, ia harus memiliki relasi yang kuat dengan Tuhan. Sebagai Raja, bertanggungjawab dalam mensejahterakan keluarga. Ketiga peran di atas menjadikanSebagai Nabi, ia harus memiliki relasi yang kuat dengan Tuhan. Sebagai Raja, bertanggungjawab dalam mensejahterakan keluarga. Ketiga peran di atas menjadikan
STT KADESISTT KADESI Dalam perkembangan jaman sekarang di abad millennium, tentu dengan data-data di lapangan yang masih berkembang, tentu peran Roh Kudus dalam memanifestasikanDalam perkembangan jaman sekarang di abad millennium, tentu dengan data-data di lapangan yang masih berkembang, tentu peran Roh Kudus dalam memanifestasikan