TAUTAU

Jurnal Komunikasi DialogisJurnal Komunikasi Dialogis

Remaja putri yang menjadikan fenomena memiliki dua akun berbeda menjadi sebuah budaya pada remaja dalam mengkonstruksi emosi dalam dirinya. Para remaja ini mengkonstruksi segala emosinya pada kedua akun tersebut. Mereka menyebutnya dengan akun pertama dan akun kedua serta memiliki beragam hasil unggahan yang berisi bagaimana mereka mengelola dan mengekspresikan berbagai bentuk emosi pada kedua akun Instagram mereka. Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mengacu pada teori konstruksi sosial emosional yang mana teori tersebut dapat membantu para informan untuk mengatur atau mengekspresikan segala emosi pada kedua akun tersebut. Para remaja juga memiliki aturan-aturan mengenai berbagai bentuk emosi yang mereka salurkan pada kedua akun mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan sifat penelitiannya adalah deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tujuan utama mereka membuat dua akun yang berbeda adalah karena para remaja membutuhkan sebuah media untuk menyalurkan berbagai bentuk emosi dan juga memasang citra terbaik pada akun pertama mereka, sedangkan mereka tampil apa adanya ketika mereka menggunakan akun kedua mereka. Hal ini dibuktikan dengan hasil unggahan mereka yang berbeda pada kedua akun tersebut.

Dalam perkembangan identitas para remaja masih mengeksplorasi berbagai hasil konstruksi emosinya pada kedua akunnya sehingga dalam perkembangan identitas yang dijalani para remaja ini masuk ke dalam 4 (empat) status identitas yaitu identity diffusion, identity foreclosure, identity moratorium & identity achievement.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa arah penelitian lanjutan yang menarik untuk dieksplorasi. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk menginvestigasi bagaimana perbedaan norma sosial antara akun utama dan akun kedua Instagram memengaruhi ekspresi emosi remaja, dengan fokus pada jenis emosi yang lebih sering diekspresikan di masing-masing akun. Kedua, penelitian kuantitatif dapat dilakukan untuk mengukur korelasi antara status identitas Marcia (identity diffusion, identity foreclosure, identity moratorium, identity achievement) dengan pola penggunaan akun Instagram kedua, serta dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis remaja. Ketiga, penelitian kualitatif mendalam dapat dilakukan untuk memahami bagaimana remaja menggunakan fitur-fitur Instagram seperti close friends dan story untuk mengelola privasi dan membangun identitas online yang berbeda di masing-masing akun, serta bagaimana strategi ini memengaruhi hubungan interpersonal mereka di dunia nyata. Dengan menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, penelitian selanjutnya dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang peran media sosial dalam perkembangan identitas emosional remaja.

  1. Penggunaan Akun Second Instagram Sebagai Media Ekspresi Diri Remaja Di Era Digital | Arini: Jurnal Ilmiah... doi.org/10.71153/ARINI.V2I1.277Penggunaan Akun Second Instagram Sebagai Media Ekspresi Diri Remaja Di Era Digital Arini Jurnal Ilmiah doi 10 71153 ARINI V2I1 277
  2. Subjektivitas Imperfek: Perempuan dalam "Second Account" di Instagram | Lembaran Antropologi.... jurnal.ugm.ac.id/v3/LA/article/view/3486Subjektivitas Imperfek Perempuan dalam Second Account di Instagram Lembaran Antropologi jurnal ugm ac v3 LA article view 3486
  1. #remaja putri#remaja putri
  2. #motivasi belajar#motivasi belajar
Read online
File size517.28 KB
Pages11
Short Linkhttps://juris.id/p-37o
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test