EGIEGI

Jurnal Ekologi, Masyarakat dan SainsJurnal Ekologi, Masyarakat dan Sains

Provinsi Nangroe Aceh Darussalam pernah dilanda tsunami. Tsunami terjadi akibat dari fenomena alam seperti aktivitas gempa bumi, letusan gunung berapi, dan longsor bawah laut. Peringatan dini bencana alam, khususnya tsunami penting untuk meminimalisir korban dan kerugian yang ditimbulkan. Kearifan lokal masyarakat setempat atau wilayah berdampak merupakan salah satu cara mitigasi tsunami. Mitigasi tsunami tidak selalu hanya berkaitan dengan teknologi, melainkan ada sudut pandang sosial dan budaya yang juga memiliki peran penting. Dengan latar belakang tersebut, tujuan disusunnya artikel ini adalah untuk memahami permasalahan penerapan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia serta melihat dampak dari kearifan lokal masyarakat setempat sebagai salah satu bentuk mitigasi tsunami melalui studi literatur.

Tsunami terjadi akibat pergeseran lempeng bumi di dasar laut yang menyebabkan gempa dan gangguan keseimbangan air, menghasilkan gelombang besar yang berdampak luas.Kearifan lokal, seperti konsep smong di Pulau Simeulue, mitos di pesisir Pariaman, dan simbolisme di Tana Ai, Nusa Tenggara Timur, terbukti efektif sebagai sistem peringatan dini alami yang menyelamatkan jiwa dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.Upaya mitigasi tsunami tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga memerlukan pendekatan sosial dan budaya untuk membangun kewaspadaan dan ketahanan komunitas terhadap bencana.

Pertama, perlu penelitian mendalam mengenai efektivitas berbagai bentuk cerita rakyat dan mitos sebagai sistem peringatan dini tsunami di wilayah pesisir Indonesia, untuk menilai sejauh mana pengetahuan turun-temurun ini masih relevan dan dapat diintegrasikan dengan sistem teknologi modern. Kedua, penting untuk mengkaji bagaimana kearifan lokal dapat diadaptasi ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di daerah rawan tsunami, agar generasi muda tetap memahami dan mempraktikkan mitigasi berbasis budaya. Ketiga, diperlukan studi komparatif antara komunitas pesisir yang memiliki kearifan lokal kuat dengan yang tidak, untuk mengidentifikasi faktor sosial, budaya, dan lingkungan yang memengaruhi ketahanan terhadap bencana, sehingga dapat dirancang kebijakan mitigasi yang lebih holistik dan berkelanjutan.

  1. #keanekaragaman hayati#keanekaragaman hayati
  2. #pengelolaan lingkungan#pengelolaan lingkungan
Read online
File size216.32 KB
Pages6
Short Linkhttps://juris.id/p-22S
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test