POLTEKNAKERPOLTEKNAKER

Proceedings of the Indonesian Conference on Occupational Safety, Health, and Environment (INCOSHET)Proceedings of the Indonesian Conference on Occupational Safety, Health, and Environment (INCOSHET)

Perkembangan teknologi digital telah mendorong peningkatan produktivitas kerja, namun secara bersamaan memunculkan fenomena digital fatigue terutama di kalangan pekerja wanita yang menghadapi tekanan peran ganda dan ekspektasi konektivitas tanpa batas. Penelitian ini bertujuan memetakan secara sistematis tantangan, dampak, dan strategi mitigasi digital fatigue yang dialami pekerja wanita dalam konteks era teknologi berkelanjutan, dengan mempertimbangkan relevansinya terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Dengan menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA 2020, sebanyak 28 artikel ilmiah dari database Scopus, ScienceDirect, IEEE Xplore, dan ACM Digital Library (2015–2024) dianalisis secara tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor pemicu utama digital fatigue mencakup intensitas penggunaan perangkat digital, tekanan untuk selalu responsif, konflik peran rumah dan pekerjaan, serta kurangnya dukungan ergonomis dan psikososial di lingkungan kerja. Dampaknya meliputi gangguan fokus, kelelahan mental dan fisik, hingga penurunan produktivitas signifikan. Studi ini merekomendasikan pendekatan multidisipliner dalam penanganannya, termasuk kebijakan organisasi yang responsif gender, manajemen kerja digital yang adaptif, serta desain lingkungan kerja yang inklusif dan berkelanjutan. Temuan ini menjadi fondasi penting untuk pengembangan kebijakan kerja yang lebih manusiawi serta penelitian lanjutan dalam mengukur dan mengatasi kelelahan digital di tempat kerja modern.

Digitalisasi telah membawa akselerasi signifikan dalam proses kerja, tetapi juga memunculkan tantangan serius berupa kelelahan digital, terutama pada pekerja perempuan.SLR ini mengidentifikasi bahwa kelelahan digital pada pekerja wanita dipicu oleh beban kerja digital yang tinggi, ekspektasi responsivitas yang konstan, konflik peran pekerjaan-rumah tangga, tekanan technostress, ketimpangan akses teknologi, stereotip gender, desain kerja yang tidak inklusif, dan ketergantungan berlebihan pada layar.Kondisi-kondisi ini memicu kelelahan mental, emosional, dan fisik, yang pada akhirnya berdampak negatif pada produktivitas dan kesejahteraan pekerja.

Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk memperluas cakupan studi digital fatigue dengan memasukkan literatur berbahasa non-Inggris dan periode sebelum 2015. Selain itu, eksplorasi efektivitas intervensi spesifik melalui metode kuantitatif dan kualitatif dapat mengeksplorasi lebih dalam dampak faktor kontekstual seperti budaya organisasi dan karakteristik sektor industri. Studi juga disarankan membandingkan pengalaman digital fatigue antara pekerja wanita di perusahaan formal dan informal guna memberikan solusi yang lebih tersegmentasi berdasarkan struktur kerja.

  1. #teknologi berkelanjutan#teknologi berkelanjutan
  2. #budaya organisasi#budaya organisasi
Read online
File size315.25 KB
Pages11
Short Linkhttps://juris.id/p-20D
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test