UnmulUnmul

JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan TeknologiJURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Kawasan akses Jalan Merdeka–Damai, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, merupakan daerah dengan tingkat kejadian longsor yang tinggi akibat kondisi morfologi berupa lereng curam, litologi dominan batulempung, serta perubahan tutupan lahan yang intensif. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kerentanan longsor dan merumuskan strategi mitigasi geoteknik yang efektif dan berbasis prioritas risiko. Analisis kerentanan dilakukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) berbasis Sistem Informasi Geografis dengan mempertimbangkan parameter kemiringan lereng, tutupan lahan, litologi, dan curah hujan. Selanjutnya, empat lokasi kritis dianalisis lebih rinci melalui pemodelan stabilitas lereng menggunakan perangkat lunak Slide untuk memperoleh nilai Factor of Safety (FK) dan karakteristik bidang longsor. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar area penelitian berada pada kelas rawan hingga sangat rawan longsor, dengan nilai FK awal < 1 yang mengindikasikan kondisi lereng tidak stabil. Berdasarkan karakteristik geoteknik dan hasil simulasi, dirancang beberapa alternatif mitigasi teknis berupa kombinasi soil nailing, retaining wall, wiremesh, dan shotcrete yang disesuaikan dengan kondisi tiap lokasi. Penerapan skenario mitigasi menunjukkan peningkatan kestabilan lereng yang signifikan, dengan nilai FK pasca-mitigasi melebihi 1,3. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan integratif antara analisis kerentanan dan pemodelan geoteknik mampu menghasilkan rekomendasi mitigasi yang aplikatif, serta dapat menjadi dasar perencanaan infrastruktur jalan yang lebih aman dan berkelanjutan di wilayah perkotaan rawan longsor.

Penelitian ini memberikan hasil kesimpulan mengenai kerentanan longsor dan perencanaan mitigasi geoteknik pada akses Jalan Merdeka–Damai, Kota Samarinda.Penilaian tingkat kerentanan longsor telah dilakukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui integrasi empat parameter utama, yaitu kemiringan lereng (35%), tutupan lahan (30%), litologi (20%), dan curah hujan (15%).Hasil pemodelan spasial menghasilkan peta kerentanan dengan lima kelas tingkat kerawanan, di mana lokasi-lokasi titik pengamatan berada pada kelas rawan hingga sangat rawan untuk STA 1, STA 2, dan STA 3, serta cukup rawan hingga agak rawan pada STA 4.Temuan ini menunjukkan bahwa kemiringan lereng curam, tutupan lahan terbuka, dan litologi pelapukan lemah merupakan faktor paling dominan dalam menentukan risiko longsor.Analisis stabilitas lereng secara geoteknik menggunakan perangkat lunak GeoSlope/Slide 6.0 berhasil menunjukkan kondisi aktual ketidakstabilan lereng pada keempat titik pengamatan dalam kondisi eksisting.Nilai Factor of Safety (FK) yang diperoleh pada masing-masing titik adalah STA 1 (FK = 0,824), STA 2 (FK = 0,807), STA 3 (FK = 0,875), dan STA 4 (FK = 0,962).Nilai FK < 1 pada seluruh titik menunjukkan kondisi tidak stabil dan berpotensi mengalami kegagalan lereng kapan saja pada kondisi cuaca ekstrem atau beban tambahan.Mekanisme longsor yang teridentifikasi adalah longsor busur (rotational slide) pada STA 1, STA 2, dan STA 4, serta longsor bidang (planar slide) pada STA 3.Berdasarkan hasil analisis geoteknik tersebut, penelitian ini berhasil merancang rekomendasi mitigasi teknis yang sesuai kondisi lapangan dan disesuaikan dengan karakteristik geologi setiap titik.Solusi yang dirancang meliputi penggunaan kombinasi soil nailing shotcrete pada STA 1, retaining wall soil nailing pada STA 2, soil nailing wiremesh pada STA 3, dan soil nailing wiremesh shotcrete pada STA 4.Seluruh model mitigasi yang diusulkan mampu meningkatkan nilai FK menjadi lebih dari ambang batas stabilitas (FK > 1,3) dengan estimasi efektivitas peningkatan kestabilan sebesar ±72% pada STA 1, ±82% pada STA 2, ±78% pada STA 3, dan ±86% pada STA 4.Hasil ini menegaskan bahwa pendekatan mitigasi berbasis rekayasa geoteknik dapat meningkatkan performa struktural lereng dan mengurangi risiko keruntuhan.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi lebih mendalam mengenai pengaruh perubahan tata guna lahan terhadap kerentanan longsor di wilayah tersebut. Selain itu, penelitian juga dapat fokus pada pengembangan model numerik yang lebih kompleks untuk menganalisis stabilitas lereng, terutama pada kondisi lereng yang curam dan kompleks. Selain itu, penelitian juga dapat mengeksplorasi metode mitigasi geoteknik lainnya yang dapat diterapkan pada kondisi spesifik di wilayah tersebut, seperti penggunaan geogrid atau geotextile. Penelitian lanjutan juga dapat dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas dan keandalan metode mitigasi yang telah diterapkan, serta mengidentifikasi tantangan dan hambatan dalam implementasinya. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang lebih komprehensif dalam pengelolaan risiko longsor di wilayah perkotaan rawan longsor.

Read online
File size1.03 MB
Pages24
DMCAReport

Related /

ads-block-test