UKIMUKIM

MARINYO: Jurnal Teologi KontekstualMARINYO: Jurnal Teologi Kontekstual

Sejarah masuknya Injil dan berjumpa dengan budaya memiliki proses yang tidak mudah untuk dilakukan. Perjumpaan Injil dan budaya kadang kala tidak semudah yang dipikirkan, sebab Injil bisa saja ditolak tetapi juga dapat diterima, apabila proses penginjilannya dilakukan dengan menggunakan budaya masyarakat setempat tanpa sepenuhnya menghilangkan atau menggantikan budaya tersebut. Oleh karena itu, dialog antara Injil dan budaya mesti dilakukan, agar keduanya diupayakan saling berkontribusi tanpa menghilangkan esensi dari Injil dan budaya tersebut. Penelitian ini menunjukkan bagaimana budaya yang baik dapat menyatukan dan mengubah hidup jemaat dengan baik. Budaya Kai-Wait menjadi warisan yang baik bagi orang Buru dan nilai-nilai budaya ini mesti ditanam dengan baik demi proses regenerasi yang ada. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan proses penerimaan Injil dan budaya di Leksula melalui proses penginjilan pada abad ke-20. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif serta pendekatan sejarah guna untuk mendalami sejarah Injil dan budaya Kai-Wait di Leksula. Melaluinya berbagai informasi dapat diperoleh, digunakan, dan disusun untuk menjadi sebuah dokumen tentang sejarah masuknya Injil di Leksula dan berjumpa dengan budaya Kai-Wait. Hasilnya adalah Injil masih tetap dihidupkan dalam nilai-nilai budaya Kai-Wait untuk menjaga keharmonisan hidup sampai sekarang.

Perjumpaan Injil dan budaya kai-wait dapat membuat perkembangan Injil di dalam jemaat menjadi lebih baik, bahkan jemaat masih tetap melanjutkan proses penginjilan lewat pelayanan mereka.Masyarakat Leksula juga masih tetap melestarikan budaya kai-wait yang menjadi salah satu budaya yang dipakai untuk memberitakan Injil ini dalam kehidupan mereka, bahkan sampai pada generasi sekarang yang ada di dalam daerah maupun yang sedang keluar daerah untuk melanjutkan studi atau bekerja di luar daerah Leksula.Mereka tidak melepaskan nilai dari budaya kai-wait yaitu saling menghormati dan mengasihi sebagai saudara baik itu antaragama, suku, ras, budaya, maupun bahasa.Hingga sekarang ini budaya kai-wait sudah menjadi ciri khas bagi masyarakat di Leksula.

Saran pertama: Penelitian lanjutan dapat mengkaji dampak budaya Kai-Wait terhadap metode pelayanan Injil di daerah lain di Maluku untuk melihat potensi adaptasi budaya dalam evangelisasi. Saran kedua: Studi komparatif antara proses penginjilan di Leksula dengan daerah lain yang memiliki budaya lokal unik, seperti Suku Ternate atau Ambon, untuk memahami perbedaan strategi dialog antara Injil dan budaya. Saran ketiga: Penelitian tentang peran pendidikan formal dan informal dalam mempertahankan nilai-nilai budaya Kai-Wait sekaligus menyebarkan ajaran Injil, terutama di kalangan generasi muda yang semakin terpengaruh oleh globalisasi.

Read online
File size452.02 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test