IJCSNETIJCSNET

International Journal Of Community ServiceInternational Journal Of Community Service

Ketersediaan pakan yang terjangkau dan berkualitas tinggi merupakan faktor penting dalam keberlanjutan peternakan unggas. Kelompok Tani Merak di Kabupaten Labuhanbatu menghadapi biaya pakan komersial yang tinggi, sementara sisa makanan dari Program Makanan Bergizi Gratis dan ikan sampah yang tersedia secara lokal belum dimanfaatkan secara optimal. Program layanan masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis petani dalam mengolah sisa nasi, tahu, dan tempe dari Program Makanan Bergizi Gratis, serta ikan sampah, menjadi bahan baku pakan unggas. Program ini menerapkan pendekatan partisipatif melalui pendidikan, demonstrasi, praktik langsung, dan bantuan produksi. Pelaksanaan terdiri dari dua kegiatan utama. Kegiatan pertama melibatkan pengolahan sisa makanan menjadi tepung pakan. Kegiatan kedua melibatkan pengolahan ikan sampah menjadi tepung ikan, formulasi pakan dengan menambahkan dedak padi, jagung giling, dan mineral, pencampuran bahan, produksi pelet menggunakan mesin pelet, dan pengeringan produk akhir. Hasil menunjukkan bahwa anggota kelompok mampu melakukan tahap pengolahan dan mengoperasikan mesin penggiling dan pembuat pelet. Pelet yang dihasilkan relatif seragam, padat, mudah ditangani, dan cocok untuk penyimpanan setelah pengeringan. Pemanfaatan bahan baku lokal dan sumber daya yang sebelumnya kurang dimanfaatkan mengurangi jumlah bahan pakan yang dibeli, sehingga menurunkan biaya produksi pakan dibandingkan dengan penggunaan pakan komersial penuh. Program ini menunjukkan bahwa bantuan berbasis praktik dapat memperkuat kapasitas petani dalam memproduksi pakan alternatif sambil mendukung pengelolaan limbah yang produktif dan berkelanjutan.

Program bimbingan untuk memanfaatkan sisa makanan dari Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan ikan sampah dalam Kelompok Tani Merak di Kabupaten Labuhanbatu berhasil dilaksanakan melalui dua kegiatan utama.Kegiatan pertama mengembangkan keterampilan dalam pengolahan sisa nasi, tahu, dan tempe melalui penyortiran, pengeringan, penggilingan, dan penyaringan.Kegiatan kedua mengembangkan keterampilan dalam pengolahan ikan sampah menjadi tepung ikan dan formulasi, pencampuran, pembentukan, pengeringan, dan pengemasan pakan pelet.Anggota kelompok mampu mengoperasikan mesin penggiling dan pembuat pelet.Campuran tepung sisa makanan MBG, tepung ikan, dedak padi, jagung giling, dan mineral dapat dibentuk menjadi pakan pelet yang relatif seragam, padat, dan lebih praktis untuk ternak.Pemanfaatan bahan lokal mengurangi kebutuhan untuk membeli beberapa bahan pakan, sehingga menurunkan biaya produksi dibandingkan dengan mengandalkan pakan komersial sepenuhnya.Praktik ini juga memberikan manfaat lingkungan dengan mengurangi limbah makanan dan meningkatkan nilai ikan sampah.Kualitas yang dapat diimplikasikan dari kegiatan ini masih terbatas pada kualitas proses dan karakteristik fisik produk.Analisis gizi, keamanan, pengujian kinerja ternak, dan perhitungan ekonomi rinci diperlukan untuk memastikan kesesuaian formulasi sebagai pakan unggas untuk jenis dan fase produksi tertentu.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk mengembangkan prosedur penerimaan bahan yang ketat. Bahan yang berjamur, membusuk, tercampur dengan benda asing, mengandung bahan kimia, atau asal usulnya tidak diketahui harus ditolak. Pengeringan sebaiknya dilakukan menggunakan pengering mekanik atau rumah pengering sederhana untuk menghindari ketergantungan penuh pada cuaca. Penggunaan pengukur kelembaban juga diperlukan untuk meningkatkan konsistensi kualitas. Selain itu, tepung sisa makanan MBG, tepung ikan, dan pelet memerlukan pengujian laboratorium. Parameter prioritas termasuk kandungan air, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, abu, energi, kandungan garam, aflatoxin, dan kontaminasi mikrobiologis. Formulasi perlu dikembangkan dengan ahli gizi ternak berdasarkan jenis unggas dan fase produksi. Formula untuk ayam starter tidak dapat dibandingkan dengan formula untuk ayam petelur, ayam dewasa, atau bebek. Uji pakan harus dilakukan secara terbatas pada awalnya. Pengamatan harus mencakup konsumsi, peningkatan berat badan, produksi telur, konversi pakan, kondisi feses, mortalitas, dan gejala kesehatan. Kelompok perlu mencatat berat bahan baku, hasil tepung, kuantitas pelet, biaya produksi, penggunaan pakan, dan kinerja ternak. Catatan ini akan menjadi dasar untuk evaluasi bisnis dan pengembangan penelitian atau artikel layanan masyarakat selanjutnya.

Read online
File size892.3 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test