ISI SURAKARTAISI SURAKARTA

Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya RupaBrikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa

Penelitian ini mengkaji logika afektif yang mendasari pemilihan subjek potret dalam Setengah Rindu (2026), sebuah pameran kelompok yang diselenggarakan oleh kolektif seniman Simpullapan di Galeri Raos, Batu. Pameran ini menampilkan lima lukisan potret karya seniman Dwi Christanto yang menggambarkan tokoh-tokoh dunia: Frida Kahlo, Putri Diana, Vladimir Putin, Mahatma Gandhi, dan Tan Malaka, di mana kesewenang-wenangan tematik yang tampak dari pemilihan tokoh-tokoh tersebut menjadi masalah analitis utama dalam penelitian ini. Dengan mengacu pada kerangka kerja ekonomi afektif dan politik budaya emosi karya Sara Ahmed, artikel ini berpendapat bahwa pemilihan tokoh-tokoh tersebut diatur oleh logika afektif internal yang koheren, di mana tokoh-tokoh publik mengakumulasi nilai emosional melalui sirkulasi budaya, sehingga menjadi objek yang melekat yang menjadi wadah bagi perasaan serta sarana penyampaian dan perdebatan emosi. Dengan menggunakan metode interpretatif kualitatif, penelitian ini menganalisis dokumentasi pameran, termasuk foto-foto karya seni, teks di dinding, dan pernyataan seniman. Temuan-temuan ini mengungkapkan bahwa setiap subjek potret memiliki kualitas afektif yang berbeda-beda, yang membentuk apa yang dalam penelitian ini disebut sebagai arsip afektif: sebuah lanskap emosional yang koheren yang disusun melalui akumulasi figur-figur yang melekat. Artikel ini berkontribusi pada diskusi yang sedang berkembang mengenai teori afek dalam studi budaya visual Indonesia, sebuah bidang di mana pendekatan teoretis ini masih sangat kurang dimanfaatkan.

Pemilihan subjek potret dalam Setengah Rindu didasarkan pada logika afektif yang koheren, di mana tokoh-tokoh publik menjadi objek emosional yang melekat.Arsitektur pameran membentuk arsip afektif yang merepresentasikan perasaan kolektif masyarakat urban Indonesia.Penelitian ini menunjukkan bahwa seni lukis potret dapat menjadi medium untuk memahami dinamika emosional dalam konteks budaya visual kontemporer.

1. Studi lanjutan tentang respons audiens terhadap pameran Setengah Rindu dapat mengungkap bagaimana emosi dikonstruksi secara kolektif. 2. Perbandingan antara Setengah Rindu dengan pameran kelompok lain di Indonesia dapat memperkaya pemahaman tentang dinamika afektif dalam seni kontemporer. 3. Penelitian lebih lanjut tentang peran media digital dalam memperkuat atau mengubah nilai emosional tokoh-tokoh publik dalam konteks budaya Indonesia.

  1. Melacak Jejak Makna : Interpretasi Topeng Malangan Dalam Perspektif Hermeneutika Paul Ricoeur | Brikolase... doi.org/10.33153/brikolase.v17i2.7799Melacak Jejak Makna Interpretasi Topeng Malangan Dalam Perspektif Hermeneutika Paul Ricoeur Brikolase doi 10 33153 brikolase v17i2 7799
  2. "Street Art and a New Space of Democracy" by Ali Minanto. street art space democracy ali minanto... doi.org/10.7454/jkmi.v13i1.1230Street Art and a New Space of Democracy by Ali Minanto street art space democracy ali minanto doi 10 7454 jkmi v13i1 1230
  3. Estetika Karya Seni Lukis Faiz Zaki Abdillah: Perspektif Teori Monroe C. Beardsley | Brikolase : Jurnal... doi.org/10.33153/brikolase.v17i2.7798Estetika Karya Seni Lukis Faiz Zaki Abdillah Perspektif Teori Monroe C Beardsley Brikolase Jurnal doi 10 33153 brikolase v17i2 7798
Read online
File size1.06 MB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test