UMUM

Journal of Language Literature and ArtsJournal of Language Literature and Arts

Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk resistensi kaum terjajah terhadap penjajah dalam cerpen Madre (2021) karya Dee Lestari dengan fokus pada tokoh Lakshmi, seorang perempuan keturunan India yang menetap di Indonesia sejak 1920-an ketika Belanda masih berkuasa. Kajian ini menggunakan pendekatan pascakolonial dengan teori Homi K. Bhabha mengenai hibriditas, ambivalensi, serta mimikri-mockery, dan dilaksanakan melalui metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh dengan teknik simak-catat melalui pengelompokan serta identifikasi kutipan relevan dalam teks. Analisis difokuskan pada tindakan Lakshmi, namun jejak perjuangannya ditelusuri melalui narasi cucunya, Tansen Roy Wuisan, yang menjadi pewaris nilai dan tradisi keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi Lakshmi terwujud dalam dua bentuk utama. Pertama, hibriditas identitas yang diwujudkan melalui perlawanan terhadap stereotipe pernikahan antar-etnis. Keputusan Lakshmi menikah dengan Tan Sin Gie, seorang keturunan Tionghoa, merepresentasikan perlawanan terhadap konstruksi kolonial yang membatasi relasi sosial. Kedua, mimikri budaya ditunjukkan lewat pengolahan kuliner Eropa. Lakshmi mengadopsi sekaligus mengolah ulang tradisi roti Eropa melalui adonan sourdough bernama Madre, sehingga tercipta produk kuliner berciri khas Nusantara. Temuan ini menegaskan bahwa karya sastra dapat merekam praktik resistensi kolonial melalui strategi hibriditas dan mimikri, serta menunjukkan bagaimana warisan identitas kultural terus hidup lintas generasi.

Bentuk resistensi kaum terjajah terhadap penjajah dalam cerita pendek Madre (2021) karya Dee Lestari diwujudkan melalui tokoh Lakshmi, yang jejak perlawanannya dapat ditelusuri dari kisah cucunya, Tansen, sebagai pewaris.Lakshmi melakukan dua bentuk resistensi, yakni hibriditas dan mimikri (ambivalensi dalam mimikri-mockery).Bentuk resistensi pertama berupa hibriditas identitas, yang muncul sebagai perlawanan atas upaya penjajah (Belanda-Eropa) mempertahankan kesan stabilitas melalui stereotipe larangan pernikahan beda etnis.Lakshmi, yang berdarah India, memilih menikah dengan Tan Sin Gie, seorang keturunan Tionghoa.Perkawinan ini merepresentasikan penggabungan dua kelompok minoritas di wilayah kaum terjajah.Dari pernikahan tersebut lahir keluarga hibrid yang mewarisi identitas ke-India-an dan ke-Tionghoa-an, dengan garis keturunan yang berlanjut hingga Kartika dan cucunya, Tansen Roy Wuisan.Bentuk resistensi kedua adalah mimikri, yakni peniruan gaya kuliner Eropa melalui Madre.Lakshmi secara mandiri mengulturkan Madre, yaitu adonan biang roti berjenis sourdough.Aksi ini merepresentasikan peniruan makanan pokok penjajah (roti) oleh kaum terjajah, yang sejatinya memiliki makanan pokok berupa olahan beras (nasi).Tindak resistensi tersebut dilanjutkan melalui cucu Lakshmi dan Tan Sin Gie, yakni Tansen, yang berhak atas warisan Madre untuk meneruskan proses produksinya.

Penelitian lanjutan dapat memperluas objek kajian dengan membandingkan representasi resistensi serupa dalam karya-karya lain Dee Lestari atau penulis Indonesia kontemporer yang mengangkat isu kolonialisme dan identitas. Penggunaan perspektif teori poskolonial lain, seperti subalternity (Gayatri Spivak) atau kolonialitas kekuasaan (Aníbal Quijano), juga berpotensi memperkaya analisis serta memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika resistensi dan negosiasi identitas dalam karya sastra Indonesia modern. Selain itu, dapat dilakukan penelitian mengenai kepemilikan budaya terhadap produk seperti Madre, dengan mengeksplorasi konflik antara klaim identitas lokal, warisan kolonial, dan globalisasi dalam konteks kreativitas kuliner.

  1. Postcolonial Discourse Analysis on the “Cultural Negotiation” of Homi K. Bhabha-Journal of... doi.org/10.26855/jhass.2023.02.014Postcolonial Discourse Analysis on the AuCultural NegotiationAy of Homi K Bhabha Journal of doi 10 26855 jhass 2023 02 014
  2. Liminalitas dan Ambivalensi dalam Novel Burung-Burung Manyar Karya Y.B. Mangunwijaya: Poskolonialisme... doi.org/10.21107/prosodi.v19i1.25463Liminalitas dan Ambivalensi dalam Novel Burung Burung Manyar Karya Y B Mangunwijaya Poskolonialisme doi 10 21107 prosodi v19i1 25463
  3. IDENTITAS TOKOH PRIBUMI DALAM CERPEN PENUNJUK JALAN KARYA IKSAKA BANU: KAJIAN PASCAKOLONIAL HOMI K. BHABHA... doi.org/10.12928/mms.v3i1.5247IDENTITAS TOKOH PRIBUMI DALAM CERPEN PENUNJUK JALAN KARYA IKSAKA BANU KAJIAN PASCAKOLONIAL HOMI K BHABHA doi 10 12928 mms v3i1 5247
  4. A Postcolonial Analysis of Hegemony and Resistance in Avatar: The Way of Water (2022) | LITERA KULTURA... ejournal.unesa.ac.id/index.php/litera-kultura/article/view/61047A Postcolonial Analysis of Hegemony and Resistance in Avatar The Way of Water 2022 LITERA KULTURA ejournal unesa ac index php litera kultura article view 61047
  5. The Unstable Nature of Dominant-Subordinate Relation: Postcolonial Study Towards Thomas King’s... journal.unnes.ac.id/sju/index.php/rainbow/article/view/46261The Unstable Nature of Dominant Subordinate Relation Postcolonial Study Towards Thomas KingyCEs journal unnes ac sju index php rainbow article view 46261
Read online
File size369.24 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test