AIATAIAT

Nun: Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di NusantaraNun: Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara epistemologis terjemahan Koroang Malabi (edisi revisi 2019) dengan melihat tiga hal pokok: (1) sumber rujukan yang dipakai, (2) cara menerjemah, dan (3) ketepatan hasilnya. Kajian dilakukan secara kepustakaan; sumber primer yang digunakan berupa mushaf revisi juz 30 dan wawancara singkat dengan penerjemahnya, Muh. Idham Khalid Bodi. Sedangkan untuk data sekunder diambil dari kitab-kitab tafsir, kamus Mandar, serta riset terdahulu. Hasilnya, terjemahan baru masih bertumpu pada Tafsīr Jalālayn, Tafsir al-Azhar, serta terjemahan Kemenag 2002, ditambah 930 catatan kaki dari edisi Kemenag 2019. Idham memakai metode ḥarfiyyah (kata per kata) dan hanya beralih ke metode tafsiīriyyah (penafsiran) jika teks asli sulit dipahami dalam bahasa Mandar. Dari sisi ketepatan, sebagian besar ayat sudah akurat, tetapi ada istilah yang belum konsisten—misalnya pemakaian kata ḥisāb dan qalam. Keterbacaan tergolong baik, meski beberapa ayat perlu dibaca ulang karena tumpang-tindih sinonim atau salah ketik. Kewajaran bahasa cukup tinggi berkat istilah lokal seperti Puang Allah Taala dan allo kiama, namun beberapa serapan masih terasa asing. Temuan ini menyarankan perlunya kamus istilah baku, pemeriksaan ejaan, dan penambahan glosa agar terjemahan Al-Quran berbahasa daerah makin mudah dipahami.

Penelitian ini menemukan bahwa Koroang Malabi edisi 2019 sudah jauh lebih baik daripada versi 2001.Idham Khalid Bodi, memakai dua tafsir tepercaya dan bantuan terjemahan Kemenag untuk menjaga arti ayat.Sebagian besar makna dasar—misalnya bentuk kata aktif–pasif dan kata jamak—sudah diterjemahkan dengan benar, sehingga isi Al-Quran terasa tetap utuh di bahasa Mandar.kosakata sehari-hari, susunan kalimat lurus, dan ejaan mantap.Beberapa istilah penting, seperti ḥisāb dan qalam, diterjemahkan tidak sama di semua ayat.Ada juga kata tanya Arab yang berubah fungsi sehingga makna pertanyaan hilang.Selain itu, beberapa kata ganda atau salah ketik membuat pembaca harus berhenti sejenak untuk memahami maksudnya.

Pertama, penelitian dapat mengembangkan kamus istilah baku untuk terjemahan Al-Quran berbahasa daerah, khususnya untuk istilah seperti ḥisāb dan qalam yang masih berbeda penggunaannya. Kedua, studi lanjutan bisa fokus pada dampak variasi dialek Mandar terhadap akurasi terjemahan, dengan melibatkan penutur berbagai wilayah untuk memastikan konsistensi. Ketiga, peneliti dapat mengeksplorasi metode penambahan glosa kontekstual yang lebih efektif, misalnya melalui analisis bagaimana penjelasan metaforis (seperti penyebar fitnah) meningkatkan pemahaman pembaca lokal tanpa mengorbankan makna asli.

  1. Persepsi dan Harapan Masyarakat Lampung terhadap Kitab “Qur’an Terjemahan Bahasa Lampung”... doi.org/10.24090/jkki.v4i2.9487Persepsi dan Harapan Masyarakat Lampung terhadap Kitab AuQurAoan Terjemahan Bahasa LampungAy doi 10 24090 jkki v4i2 9487
  2. PROBLEMATIKAN TERJEMAH AL-QUR’AN BAHASA MADURA; Studi KasusTerjemah I‘raban Keterangan Madhurah... doi.org/10.32495/nun.v7i1.228PROBLEMATIKAN TERJEMAH AL QURAoAN BAHASA MADURA Studi KasusTerjemah IAoraban Keterangan Madhurah doi 10 32495 nun v7i1 228
  3. Manfaat dan Kesehatan - IAINSU. manfaat kesehatan iainsu ketahui buah kelapa muda tahu daging matang... doi.org/10.33006/ji-kes.v5i1.246Manfaat dan Kesehatan IAINSU manfaat kesehatan iainsu ketahui buah kelapa muda tahu daging matang doi 10 33006 ji kes v5i1 246
  4. Kontemplasi : Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin. metodologi terjemahan al qur terjemahnya bahasa batak angkola... ejournal.uinsatu.ac.id/index.php/kon/article/view/1961Kontemplasi Jurnal Ilmu Ilmu Ushuluddin metodologi terjemahan al qur terjemahnya bahasa batak angkola ejournal uinsatu ac index php kon article view 1961
Read online
File size859.67 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test