AIATAIAT

Nun: Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di NusantaraNun: Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara

Diskusi feminisme Islam dan terutama kaitannya dengan al-Qurʾān merupakan salah satu topik hangat yang terus menjadi ruang perdebatan. Beragam tawaran datang silih berganti, saling merevisi dan berkontestasi satu sama lain. Yang terbaru, Aksin Wijaya, seorang pemikir prolik sekaligus guru besar Ilmu al-Qurʾān dan Tafsir, ditemani dua rekannya, Ibn Muchlis, dan Dawam Multazamy Rohmatullah turut bersuara dengan menerbitkan buku dengan judul yang cukup provokatif; “Kritik Atas Penafsiran Al-Quran Feminis Muslim: Meninjau Ulang Keadilan Gender Al-Quran Menurut Feminis Muslim. Buku ini mendiskusikan eksplanasi naratif-deskriptif gagasan feminis muslim, kritik terhadap mereka, dan jalan negosiasi-kontekstualisasi pesan gender Qurʿanī ke dalam konteks kedisinian dan kekinian.

Buku ini memberikan kontribusi positif dengan menyadarkan pembaca bahwa diskusi feminisme dan al-Qurʾān tidak pernah menjadi ruang yang homogen dan konklusif.Proposalnya menjadi materi berharga bagi para feminis untuk terus merumuskan ulang, mengevaluasi, dan berintrospeksi agar tawaran mereka cukup masuk akal dan relevan serta lebih peka terhadap perbedaan ruang sosial-budaya dan masa.Namun, buku ini masih memiliki beberapa kelemahan, seperti kurangnya referensi terkini dan ambiguitas sasaran kritik.

1. Bagaimana perbedaan interpretasi feminis Al-Quran di berbagai konteks budaya lokal? 2. Apa dampak faktor sosial-ekonomi terhadap penerapan keadilan gender dalam tafsir Al-Quran? 3. Bagaimana memperluas konsep agensi dalam teologi feminis tanpa mengabaikan kerangka teologis tradisional? Penelitian ini dapat menggali keterkaitan antara norma sosial dan interpretasi teks suci, serta mengeksplorasi alternatif pendekatan yang lebih inklusif dan relevan dengan realitas masyarakat modern.

Read online
File size607.81 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test