IAINAMBONIAINAMBON

al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islamal-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Di era globalisasi dan disrupsi digital, institusi pendidikan tingkat menengah seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs) dihadapkan pada penetrasi budaya asing yang berisiko mencerabut generasi muda dari identitas kulturalnya, terutama di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model integrasi kearifan lokal Seram Bagian Timur, yaitu falsafah Ita Wotu Nusatutun (membangun persaudaraan, kohesi sosial, dan gotong royong) serta tradisi Sasi (konservasi lingkungan), ke dalam paradigma Kurikulum Cinta di Madrasah Tsanawiyah Kabupaten Seram Bagian Timur. Kurikulum Cinta merupakan pendekatan pedagogi humanis berbasis kasih sayang yang dikembangkan untuk menyentuh aspek afektif siswa secara mendalam. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif-analitis, data penelitian dihimpun melalui wawancara mendalam bersama kepala madrasah, guru Pendidikan Agama Islam (PAI), dan tokoh adat, serta diperkuat dengan analisis dokumen terhadap draf kurikulum dan modul ajar pada tiga MTs mitra di Kabupaten Seram Bagian Timur selama tahun 2026. Analisis data dilakukan secara tematik melalui tahapan kodifikasi interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kurikulum yang terlalu berorientasi pada pemenuhan aspek kognitif-administratif global memicu fenomena patahan budaya (cultural fracture) pada siswa usia remaja. Sebagai solusi strategis, penelitian ini mengonseptualisasikan Ita Wotu-Kurikulum Cinta Framework, sebuah model rekonstruksi pembelajaran yang mengoperasionalisasikan nilai gotong royong menjadi indikator perilaku sosiopedagogis, serta mentransformasikan tradisi Sasi menjadi praksis teologi-ekologis (eco-theology). Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa kearifan lokal bukan sekadar heritabilitas masa lalu, melainkan instrumen kurikuler transformatif untuk mendekolonisasi sistem pendidikan Islam tingkat menengah sekaligus melahirkan lulusan yang berkarakter kokoh di tengah arus globalisasi.

Integrasi nilai kearifan lokal Seram Bagian Timur ke dalam kerangka Kurikulum Cinta di Madrasah Tsanawiyah merupakan langkah dekolonisasi kurikulum yang mendesak untuk dilakukan demi menyelamatkan generasi muda di daerah 3T dari krisis identitas sosiokultural.Falsafah Ita Wotu Nusatutun dan tradisi Sasi terbukti dapat dioperasionalisasikan secara logis, sistematis, dan terukur menjadi komponen tujuan pembelajaran, strategi instruksional, serta instrumen evaluasi afektif yang sahih pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.Konseptualisasi Ita Wotu-Kurikulum Cinta Framework berhasil menciptakan sebuah ekosistem pendidikan yang tidak hanya memanusiakan hubungan guru-murid berbasis kasih sayang, tetapi juga melahirkan siswa remaja yang memiliki kepekaan sosial tinggi, kemampuan kolaborasi, dan kesadaran ekologis yang relevan dengan kebutuhan global tanpa kehilangan jati diri keislaman dan kemalukuannya.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan penelitian tindakan kelas (classroom action research) berskala besar guna mengeksplorasi integrasi etnosains dan etnomatematika berbasis kearifan lokal kepulauan Seram Bagian Timur ke dalam seluruh aspek kurikulum madrasah secara holistic. Selain itu, perlu dipertimbangkan untuk mengembangkan model ini pada mata kuliah sains umum seperti Matematika atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) agar dapat diuji efektivitasnya secara lebih luas. Terakhir, penelitian selanjutnya dapat fokus pada bagaimana mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam kurikulum secara lebih holistik, termasuk aspek-aspek seperti budaya musyawarah adat (Saniri/Uka) untuk meningkatkan inklusi dan demokrasi dalam pendidikan.

  1. DOI Name 10.33477 Values. doi name values index type timestamp data hs serv 12z crossref email support... doi.org/10.33477DOI Name 10 33477 Values doi name values index type timestamp data hs serv 12z crossref email support doi 10 33477
Read online
File size641.45 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test