STIKESBANYUWANGISTIKESBANYUWANGI

WOMB Midwifery JournalWOMB Midwifery Journal

Latar Belakang: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia dan berhubungan dengan berbagai gangguan perkembangan anak. Meskipun dampak stunting terhadap perkembangan kognitif dan bahasa telah banyak diteliti, bukti mengenai hubungannya dengan kemandirian sosial pada anak balita di wilayah Indonesia Timur masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara stunting dan kemandirian sosial pada anak usia 6–60 bulan di Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 223 anak usia 6–60 bulan yang dipilih melalui consecutive sampling. Status stunting ditentukan berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) menggunakan standar WHO. Kemandirian sosial dinilai menggunakan domain Kemandirian Sosial pada Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP). Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square dan Prevalence Odds Ratio (POR) dengan interval kepercayaan 95%. Hasil: Prevalensi stunting sebesar 31.8%. Sebanyak 32.3% anak menunjukkan kemandirian sosial yang tidak sesuai dengan usianya. Terdapat hubungan yang bermakna antara stunting dan kemandirian sosial (p=0.001). Anak stunting memiliki risiko 2.76 kali lebih tinggi mengalami gangguan kemandirian sosial dibandingkan anak dengan status tinggi badan normal (POR=2.76; 95% CI: 1.524–4.988). Hampir separuh anak stunting (47.9%) menunjukkan kemandirian sosial yang tidak sesuai, sedangkan pada anak normal hanya 25%. Kesimpulan: Stunting berhubungan secara signifikan dengan rendahnya kemandirian sosial pada anak balita. Intervensi yang mengintegrasikan perbaikan gizi dan stimulasi psikososial perlu diperkuat untuk mendukung perkembangan sosial dan kemampuan adaptif anak di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara status stunting dan hambatan perkembangan kemandirian sosial pada balita usia 6–60 bulan di Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo (p = 0,001).Balita yang mengalami stunting memiliki risiko 2,76 kali lebih besar untuk mengalami ketidaksesuaian perkembangan kemandirian sosial (POR = 2,76.95% CI = 1,524–4,988) dibandingkan dengan balita dengan status gizi normal.Untuk mengoptimalkan luaran perkembangan balita pasca-paparan stunting, rekomendasi operasional yang diusulkan kepada pemangku kebijakan setempat meliputi.Mengompensasi dampak malnutrisi kronis melalui penggabungan paket rehabilitasi dengan intervensi stimulasi psikososial adaptif di tingkat komunitas.Melembagakan parenting edukatif yang berfokus pada pelibatan aktif orang tua untuk melatih otonomi, fungsi adaptif, dan kemandirian sosial anak sejak dini.Meningkatkan kompetensi kader Posyandu melalui pelatihan berkelanjutan yang berfokus pada deteksi hambatan perkembangan menggunakan instrumen fungsional terstandardisasi.

Berdasarkan hasil penelitian ini, kami menyarankan agar intervensi komprehensif yang mengintegrasikan perbaikan gizi dan stimulasi psikososial menjadi fokus utama dalam upaya mengurangi dampak stunting pada perkembangan sosial anak. Selain itu, penting untuk memperkuat kapasitas kader Posyandu dalam deteksi dini hambatan perkembangan menggunakan instrumen fungsional terstandardisasi. Edukasi pengasuhan yang berfokus pada pelibatan aktif orang tua dalam melatih otonomi, fungsi adaptif, dan kemandirian sosial anak sejak dini juga perlu diinstitusionalisasi. Dengan demikian, kita dapat meningkatkan kemampuan anak untuk beradaptasi dan berinteraksi dalam lingkungan sosial mereka, serta mengurangi dampak negatif stunting pada perkembangan sosial anak di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.

Read online
File size196.59 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test