STIKESBANYUWANGISTIKESBANYUWANGI

WOMB Midwifery JournalWOMB Midwifery Journal

Wanita yang memasuki fase perimenopause dan menopause biasanya mengalami keluhan hot flush. WHO menunjukkan prevalensi hot flush diperkirakan mencapai 75% hingga 85%. Salah satu intervensi untuk menurunkan keluhan tersebut dapat diberikan olahan makanan atau minuman kaya fitoestrogen salah satunya dengan susu kedelai. Penelitian ini bertujuan mengetahui di Wilayah Kerja Puskesmas Mojopanggung. Penelitian dilakukan selama 14 hari menggunakan desain penelitian non equivalent pre-posttest with control group. Populasi penelitian yaitu wanita perimenopause sebanyak 60 responden dengan pengambilan sampel secara consecutive sampling. Uji bivariat menggunakan uji Mann Whitney. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi dan menggunakan alat ukur category hot flush diary (CHFD). Hasil penelitian pada kelompok intervensi sebelum intervensi menunjukkan hot flush pada kategori moderate dan severe dan setelah dilakukan intervensi berada pada kategori mild dan moderate. Sedangkan pada kelompok kontrol tetap pada kategori moderate dan severe. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan adanya pengaruh pemberian susu kedelai terhadap gejala hot flush (p-value : <0,001. Penelitian ini diharapkan bidan dapat membantu mengurangi keluhan hot flush pada perempuan perimenopause dengan memberikan terapi komplementer berupa asupan susu kedelai.

Penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa pemberian susu kedelai secara signifikan mengurangi gejala hot flush pada wanita perimenopause.Hal ini terbukti dari perubahan kategori gejala dari moderate/severe menjadi mild/moderate pada kelompok intervensi, yang didukung oleh hasil uji statistik (p-value < 0,001).Oleh karena itu, susu kedelai dapat direkomendasikan sebagai terapi komplementer yang efektif untuk membantu bidan dalam manajemen hot flush pada perempuan perimenopause.

Penelitian ini telah memberikan bukti kuat mengenai manfaat susu kedelai untuk mengurangi hot flush pada wanita perimenopause. Namun, masih banyak pertanyaan yang bisa dieksplorasi lebih lanjut agar hasilnya semakin kuat dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Pertama, bagaimana jika penelitian serupa dilakukan di wilayah yang lebih luas dan dengan jumlah responden yang lebih banyak? Ini penting untuk memastikan apakah efek positif susu kedelai ini berlaku untuk semua wanita perimenopause di berbagai daerah, bukan hanya di Mojopanggung. Kita bisa mencari tahu apakah perbedaan gaya hidup, lingkungan, atau tingkat stres di tempat lain memengaruhi efektivitasnya. Kedua, akan sangat menarik untuk meneliti faktor-faktor lain yang mungkin berinteraksi dengan pemberian susu kedelai. Misalnya, apakah kebiasaan makan, tingkat aktivitas fisik, atau kondisi psikologis (seperti tingkat kecemasan yang terukur) pada wanita perimenopause memengaruhi seberapa baik mereka merespons terapi susu kedelai? Dengan memahami interaksi ini, kita bisa mengembangkan panduan yang lebih personal dan efektif. Selain itu, mengingat satu responden tidak menunjukkan perbaikan signifikan, penelitian di masa depan dapat menyelidiki mengapa ada perbedaan respons individu, mungkin dengan melihat faktor genetik atau kebutuhan dosis yang berbeda. Ketiga, bagaimana efek jangka panjang dari konsumsi susu kedelai terhadap hot flush, dan apakah ada perbedaan jika jenis produk kedelai lain (seperti tempe atau tahu) digunakan? Penelitian ini hanya berlangsung 14 hari; periode yang lebih panjang mungkin menunjukkan hasil yang berbeda atau mempertahankan efeknya lebih lama. Kita juga bisa membandingkan berbagai bentuk olahan kedelai untuk melihat mana yang paling efektif dan disukai oleh wanita perimenopause. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita dapat menyempurnakan rekomendasi terapi komplementer dan membantu lebih banyak wanita menjalani masa perimenopause dengan lebih nyaman.

Read online
File size191.28 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test