UIN WALISONGOUIN WALISONGO

Just a moment...Just a moment...

Senyawa asam humat adalah material organik yang tersebar di berbagai ekosistem terestrial dan akuatik, memainkan peran penting dalam penyerapan polutan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi asam humat dari limbah organik sebagai adsorben untuk rhodamin B. Proses isolasi asam humat dilakukan menggunakan metode ekstraksi dengan larutan NaOH 0,5 N dilanjutkan dengan pengasaman menggunakan larutan HCl 3 M. Karakterisasi dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan spektrofotometer Fourier Transform Infrared (FTIR). Hasil karakterisasi UV-Vis menunjukkan bahwa panjang gelombang maksimum asam humat adalah 286 nm. Analisis FTIR asam humat mengindikasikan keberadaan gugus fungsional seperti hidroksil, karboksilat, dan gugus aromatik, yang konsisten dengan karakteristik tipikal asam humat. Kinetika adsorpsi ditentukan dengan menginteraksikan rhodamin B dengan asam humat setelah menentukan pH optimal 4, waktu optimal 30 menit, dan konsentrasi optimal 20 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinetika adsorpsi rhodamin B pada asam humat mengikuti kinetika pseudo-orde dua dengan laju reaksi 0,0566 min⁻¹ dan mengikuti isoterm adsorpsi Freundlich.

Karakterisasi FTIR dan UV-Vis menunjukkan bahwa asam humat murni dari kompos mengandung gugus -OH dan -COOH, dengan panjang gelombang maksimum 286 nm.Adsorpsi rhodamin B menggunakan asam humat menunjukkan kondisi optimal pada pH 4, waktu kontak 30 menit, dan konsentrasi 20 ppm, mencapai kapasitas adsorpsi yang tinggi.Analisis kinetika adsorpsi mengindikasikan bahwa proses ini mengikuti model pseudo-orde dua dan isoterm adsorpsi Freundlich.

Penelitian lanjutan dapat memperluas pemahaman tentang potensi asam humat sebagai adsorben dengan menjelajahi sumber-sumber limbah organik lain yang berbeda dari kompos kotoran sapi, misalnya limbah pertanian atau kompos dari sampah kota. Hal ini penting untuk mengevaluasi apakah karakteristik asam humat yang dihasilkan dari beragam sumber tersebut memiliki gugus fungsional dan struktur yang serupa, serta bagaimana variasi ini memengaruhi efisiensi adsorpsinya terhadap rhodamin B atau jenis polutan pewarna kationik lainnya. Selain itu, aspek keberlanjutan dari penggunaan asam humat perlu diteliti lebih dalam, khususnya mengenai kemampuan regenerasi adsorben setelah jenuh. Studi tentang metode desorpsi yang efektif dan analisis siklus hidup asam humat sebagai adsorben, termasuk berapa kali asam humat dapat digunakan kembali tanpa penurunan kinerja yang signifikan, akan memberikan wawasan krusial untuk aplikasi industri. Selanjutnya, meskipun penelitian ini mengidentifikasi kinetika pseudo-orde dua dan isoterm Freundlich, pemahaman mekanisme adsorpsi secara lebih mendalam masih diperlukan. Investigasi lebih lanjut dapat mencakup analisis kompetitif adsorpsi dengan adanya zat warna lain atau ion pengganggu yang umum ditemukan dalam limbah, serta penggunaan teknik spektroskopi tingkat lanjut atau pemodelan komputasi untuk mengidentifikasi situs pengikatan spesifik dan interaksi molekuler antara asam humat dan rhodamin B.

  1. Adsorption of Rhodamine B dye from aqueous solution onto acid treated banana peel: Response surface methodology,... doi.org/10.1371/journal.pone.0216878Adsorption of Rhodamine B dye from aqueous solution onto acid treated banana peel Response surface methodology doi 10 1371 journal pone 0216878
Read online
File size807.68 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test