POLTEKKESTASIKMALAYAPOLTEKKESTASIKMALAYA

Media InformasiMedia Informasi

Perkembangan industri yang pesat di era globalisasi telah berdampak signifikan terhadap kesehatan dan keselamatan kerja (K3), termasuk di Indonesia. Pelaksanaan program K3 sangat penting untuk mencegah kecelakaan kerja dan penyakit terkait pekerjaan, yang terus meningkat setiap tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara pengetahuan pekerja dan kepatuhan mereka dalam menerapkan program K3 di PT Moratelindo Regional Makassar. Penelitian ini menggunakan desain survei analitis dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari seluruh 37 pekerja di PT Moratelindo, dengan 32 responden terpilih sebagai sampel menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik tentang K3 (90,6%) dan tingkat kepatuhan mereka dalam menerapkan program K3 juga tinggi (96,9%). Uji statistik chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan pekerja dan kepatuhan mereka dalam menerapkan K3, dengan nilai p sebesar 0,002 (< α = 0,05). Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan pekerja memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan mereka dalam menerapkan program K3.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan pekerja tentang program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di PT Moratelindo berada dalam kategori baik, yaitu 29 responden (90,6%) dan pengetahuan yang cukup, yaitu 3 responden (9,4%).Sedangkan tingkat kepatuhan dalam menerapkan K3 di kalangan pekerja terhadap program Kesehatan dan Keselamatan Kerja di PT.Moratelindo dalam kategori diterapkan adalah 31 responden (96,9%) dan tidak diterapkan adalah 1 responden (3,1%).Berdasarkan hasil uji chi-square, nilai signifikansi dari probabilitas pengetahuan adalah p-value = 0,002 atau <α-value = 0,05.Hal ini membuktikan bahwa pengetahuan pekerja memiliki hubungan dengan kepatuhan dalam menerapkan program OHS di PT Moratelindo Regional Makassar.Berdasarkan hasil yang diperoleh, hampir semua responden memiliki pengetahuan yang berada dalam kategori Baik mengenai penerapan program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).Hal ini menunjukkan pengetahuan pekerja tentang keselamatan dan kesehatan di perusahaan.Masalah yang ada di perusahaan ini adalah karyawan memiliki rentang usia dan masa kerja yang bervariasi, yang mempengaruhi perilaku mereka.Jika pekerja memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi tentang program K3, mereka akan menggunakannya.Namun, jika pekerja memiliki pengetahuan rendah tentang program tersebut, mereka tidak akan bersedia untuk menggunakannya.Upaya harus dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan pekerja dengan memberikan penyuluhan secara terus-menerus kepada mereka.Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Saragih et al.(2023), yaitu tabel distribusi frekuensi menunjukkan bahwa pengetahuan karyawan pabrik mengenai program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah 54 karyawan pabrik (42,2%) baik, sedangkan 61 karyawan pabrik (47,7%) memiliki pengetahuan yang cukup dan 13 karyawan pabrik (10,2%) memiliki pengetahuan yang kurang mengenai program K3.Untuk pengetahuan sampel, dinilai berdasarkan nilai rata-rata (mean) dari kuesioner, hasil yang diperoleh adalah 74,22 (cukup).Pengetahuan adalah hasil dari indera manusia atau hasil dari pengetahuan seseorang terhadap objek melalui inderanya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya).Secara alami, waktu dari indera hingga menghasilkan pengetahuan sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek.Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran, yaitu telinga dan indera penglihatan (S Notoatmodjo, 2018).Hasil ini didukung oleh teori Lawrence Green, yang menyatakan bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor utama.faktor predisposisi (pengetahuan, sikap, kepercayaan), faktor pendukung (ketersediaan fasilitas atau infrastruktur), dan faktor motivasi (dukungan dari orang lain) (Notoadmojo, 2012).Dalam hal ini, pengetahuan sebagai faktor predisposisi memainkan peran penting dalam membentuk kepatuhan terhadap praktik K3.Pengetahuan, atau domain kognitif, adalah faktor dominan yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (atas perilaku).Jika seseorang menerima perilaku baru atau mengadopsi perilaku berdasarkan pengetahuan, kesadaran, dan sikap positif, perilaku tersebut akan bertahan lama.Sebaliknya, jika perilaku tidak didasarkan pada pengetahuan dan kesadaran, perilaku tersebut tidak akan bertahan lama (Soekidjo Notoatmodjo, 2018).Perusahaan perlu memberikan pelatihan secara teratur dan sumber daya pendidikan yang memadai, seperti poster keselamatan, simulasi darurat, dan program orientasi untuk karyawan baru.Peningkatan pengetahuan secara terus-menerus diharapkan dapat menumbuhkan budaya kerja yang aman dan produktif.Berdasarkan temuan, penelitian ini membuktikan bahwa pengetahuan pekerja memainkan peran yang signifikan dalam mempengaruhi kepatuhan mereka terhadap implementasi program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).Tingkat pengetahuan yang tinggi di antara responden sejalan dengan tingkat kepatuhan yang tinggi yang diamati, menunjukkan bahwa pekerja yang lebih terinformasi lebih cenderung mematuhi prosedur dan peraturan keselamatan.Hubungan yang signifikan secara statistik (p-value = 0,002) lebih memperkuat asumsi bahwa pengetahuan adalah penentu kunci perilaku aman di tempat kerja.Hasil ini implikasinya bahwa pendidikan, pelatihan, dan sosialisasi prinsip-prinsip K3 secara terus-menerus adalah strategi yang penting untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat kepatuhan (Ashari, 2022.Oleh karena itu, organisasi harus memprioritaskan peningkatan pengetahuan pekerja sebagai bagian dari upaya manajemen keselamatan mereka untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan berkelanjutan.

Untuk meningkatkan kepatuhan pekerja dalam menerapkan program K3, perusahaan dapat mempertimbangkan strategi berikut: 1. Pelatihan dan Sosialisasi: Melakukan pelatihan rutin dan sosialisasi yang komprehensif tentang K3 kepada seluruh pekerja. Pelatihan ini dapat mencakup topik seperti identifikasi risiko, prosedur keselamatan, dan penggunaan alat pelindung diri. Sosialisasi dapat dilakukan melalui poster, brosur, atau sesi diskusi kelompok untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman pekerja. 2. Pemberdayaan dan Motivasi: Memberdayakan pekerja dengan melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan terkait K3. Mendengarkan masukan dan saran mereka dapat meningkatkan rasa kepemilikan dan komitmen terhadap program K3. Selain itu, memberikan insentif atau penghargaan kepada pekerja yang menunjukkan kepatuhan tinggi dalam menerapkan K3 dapat menjadi motivasi tambahan. 3. Pengawasan dan Evaluasi: Menerapkan sistem pengawasan yang efektif untuk memantau kepatuhan pekerja dalam menerapkan K3. Hal ini dapat dilakukan melalui inspeksi rutin, pengamatan langsung, atau penggunaan teknologi seperti kamera pengawas atau sistem pelacakan. Evaluasi berkala terhadap tingkat kepatuhan pekerja dapat membantu mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan memastikan penerapan K3 yang konsisten. Dengan menggabungkan strategi-strategi ini, perusahaan dapat meningkatkan kepatuhan pekerja dalam menerapkan program K3, menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, dan mengurangi risiko kecelakaan kerja serta penyakit terkait pekerjaan.

Read online
File size397.18 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test