UNIVERSITAS BTHUNIVERSITAS BTH

Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan FarmasiJurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi

Penetapan Beyond-Use Date (BUD) pada sediaan non-steril merupakan bagian penting dalam pelayanan kefarmasian untuk menjamin mutu sediaan obat dan keselamatan pasien. Ketepatan penetapan BUD dipengaruhi oleh pengetahuan dan persepsi tenaga farmasi sebagai pelaksana pelayanan di apotek komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan dan persepsi tenaga farmasi mengenai penetapan BUD pada sediaan non-steril serta menggambarkan kesiapan implementasi BUD di apotek komunitas. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 30 tenaga farmasi yang terdiri atas apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis secara deskriptif serta menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden merupakan TTK (60,0%) dengan pengalaman kerja 1–3 tahun (43,3%). Seluruh responden belum pernah mengikuti pelatihan BUD dalam satu tahun terakhir, meskipun hampir seluruh apotek telah memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait BUD (96,7%). United States Pharmacopeia (USP) merupakan sumber rujukan yang paling banyak digunakan dalam penetapan BUD (63,3%). Analisis menunjukkan adanya hubungan positif dan bermakna antara pengetahuan dan persepsi tenaga farmasi mengenai penetapan BUD (r = 0,369; p = 0,045). Peningkatan pengetahuan melalui pelatihan berkelanjutan diperlukan untuk memperkuat persepsi serta mendukung implementasi BUD yang lebih konsisten pada pelayanan kefarmasian di apotek komunitas.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar apotek komunitas telah memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait penetapan Beyond-Use Date (BUD), namun seluruh responden belum pernah mengikuti pelatihan mengenai BUD dalam satu tahun terakhir.Selain itu, terdapat hubungan positif dan bermakna antara pengetahuan dan persepsi tenaga farmasi mengenai penetapan BUD pada sediaan non-steril (r = 0,369.p = 0,045), yang menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan cenderung diikuti oleh persepsi yang lebih baik terhadap pentingnya penerapan BUD.Temuan ini menegaskan bahwa penguatan kompetensi tenaga farmasi melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan diperlukan untuk mendukung implementasi BUD secara konsisten dalam pelayanan kefarmasian di apotek komunitas.

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan obat di apotek komunitas, penelitian lanjutan dapat fokus pada tiga aspek. Pertama, mengevaluasi efektivitas program pelatihan berkelanjutan terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap tenaga farmasi terhadap BUD. Kedua, mengkaji perbedaan implementasi SOP BUD antar daerah dan faktor yang memengaruhi konsistensinya. Ketiga, mengeksplorasi dampak penggunaan sumber rujukan lokal versus internasional (seperti USP) terhadap keputusan penetapan BUD. Ketiga saran ini dapat membantu mengidentifikasi strategi optimal untuk memperkuat kompetensi tenaga farmasi dan memastikan keselamatan pasien melalui praktik yang lebih terstandar.

  1. Edukasi Identifikasi Masa Kadaluarsa Obat dan Perhitungan Beyond Use Date pada Pasien Instalasi Farmasi... e-journal.uniflor.ac.id/index.php/abdika/article/view/1689Edukasi Identifikasi Masa Kadaluarsa Obat dan Perhitungan Beyond Use Date pada Pasien Instalasi Farmasi e journal uniflor ac index php abdika article view 1689
Read online
File size384.06 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test