169169

PANTUN: Jurnal Ilmiah Seni BudayaPANTUN: Jurnal Ilmiah Seni Budaya

Studi tentang jangjawokan umumnya memosisikannya sebagai mantra atau ekspresi ritual, meninggalkan kohesi simbolis dan mekanisme budaya yang beroperasi di dalamnya kurang dijelaskan. Artikel ini menyelidiki kohesi logika internal, struktur triadic, dan osmosis budaya yang tercermin dalam tiga teks Jangjawokan paranti melet. Studi ini mengadopsi metode kualitatif-interpretatif dengan pendekatan hermeneutik. Data primer diambil dari buku Jangjawokan: Inventarisasi Puisi Mantra Sunda dan dianalisis melalui integrasi deskripsi tebal Clifford Geertz, kosmologi Tritangtu Jakob Sumardjo, dan konsep osmosis budaya Denys Lombard. Temuan menunjukkan bahwa Jangjawokan paranti melet terorganisir sekitar struktur triadic yang terdiri dari pemanggilan kekuatan kosmik, personifikasi objek, dan afirmasi subjek. Struktur ini mencerminkan Tritangtu sebagai model dan model kosmologi Sunda. Mekanisme osmosis budaya tampak dalam penyerapan selektif elemen pra-Hindu, Hindu-Buddha, dan Islam, yang ditafsirkan ulang melalui konsep Aing/Awaking, praktik esoterik, dan logika harmoni. Oleh karena itu, Jangjawokan paranti melet harus dipahami bukan hanya sebagai mantra sihir, tetapi sebagai teknologi simbolis dan sistem pengetahuan lisan yang hidup.

Analisis tiga teks Jangjawokan paranti melet menunjukkan bahwa teks memiliki kohesi logika internal yang didasarkan pada struktur triadic yang terdiri dari pemanggilan kekuatan kosmik, personifikasi objek, dan afirmasi subjek.Struktur ini mereproduksi kosmologi Tritangtu, yang berfungsi sebagai kerangka kosmologis dan juga sebagai model tindakan untuk masyarakat Sunda.Mekanisme osmosis budaya beroperasi melalui seleksi, negosiasi, dan reinterpretasi elemen-elemen dari berbagai lapisan kepercayaan dan budaya, seperti batu, ratu, Batara, Gangga, Batara Ginggi, dan Malaikat Jibril.Elemen-elemen ini diintegrasikan ke dalam struktur triadic teks, menunjukkan kemampuan budaya Sunda untuk menyerap pengaruh eksternal tanpa kehilangan kohesi kosmologisnya.Temuan ini menegaskan bahwa Jangjawokan paranti melet adalah teknologi simbolis yang mengatur hubungan antara bahasa, niat, tubuh, kosmos, dan sejarah budaya.

Berdasarkan temuan dan analisis dalam artikel ini, penelitian lanjutan dapat mengusulkan beberapa arah studi. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam tentang mekanisme osmosis budaya dalam Jangjawokan paranti melet, khususnya bagaimana elemen-elemen dari berbagai lapisan kepercayaan dan budaya diintegrasikan ke dalam struktur triadic teks. Kedua, studi tentang peran Aing/Awaking sebagai filter internal dalam Jangjawokan paranti melet dapat memberikan pemahaman lebih lanjut tentang bagaimana subjek mengatur tubuh, perasaan, dan hubungan kosmologisnya. Ketiga, penelitian tentang bagaimana Jangjawokan paranti melet berfungsi sebagai teknologi simbolis yang mengatur niat, gambar, hubungan afektif, dan orientasi kosmologis dapat memberikan kontribusi pada pemahaman kita tentang peran ritual dalam masyarakat Sunda.

  1. HYBRID CULTURE IN KATOBA RITUAL OF MUNA | Zainal | JOURNAL OF INDONESIAN ISLAM. hybrid culture katoba... doi.org/10.15642/JIIS.2024.18.1.155-179HYBRID CULTURE IN KATOBA RITUAL OF MUNA Zainal JOURNAL OF INDONESIAN ISLAM hybrid culture katoba doi 10 15642 JIIS 2024 18 1 155 179
  2. Beyond Syncretism: Evidence of the Vernacularization of Islamic Theological Terms in Javanese Literature... aljamiah.or.id/index.php/AJIS/article/view/60203Beyond Syncretism Evidence of the Vernacularization of Islamic Theological Terms in Javanese Literature aljamiah index php AJIS article view 60203
  3. THE ADOPTION OF NEW-AGE SPIRITUALISM IN TRADITIONAL ESOTERICISM IN INDONESIA | Quantum Journal of Social... doi.org/10.55197/qjssh.v6i1.549THE ADOPTION OF NEW AGE SPIRITUALISM IN TRADITIONAL ESOTERICISM IN INDONESIA Quantum Journal of Social doi 10 55197 qjssh v6i1 549
Read online
File size450.57 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test