UIGMUIGM

Besaung : Jurnal Seni Desain dan BudayaBesaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya

Penelitian ini mengkaji konstruksi makna simbolik transformasi gender dalam Tari Baris Kekupu Banjar Lebah melalui medium film dokumenter. Berbeda dengan kajian sebelumnya yang cenderung menempatkan transformasi gender sebagai perubahan peran penari semata, penelitian ini memposisikan transformasi tersebut sebagai proses pemaknaan ulang yang berkaitan dengan nilai sakralitas dalam budaya Bali. Dengan mengacu pada konsep Rwa Bhineda sebagai prinsip keseimbangan antara dua hal yang berbeda namun saling melengkapi, penelitian ini menunjukkan bahwa kehadiran penari perempuan dalam Tari Baris Kekupu tidak mengurangi nilai sakral, melainkan merepresentasikan keseimbangan simbolik antara maskulinitas dan feminitas.

Penelitian dan perancangan film dokumenter berjudul KEKUPU menunjukkan bahwa Tari Baris Kekupu di Banjar Lebah merupakan warisan budaya yang memiliki keunikan pada aspek transformasi gender penari yang dibentuk melalui estetika pertunjukan.Transformasi tersebut terjadi karena perubahan karakter visual dan gerak tari itu sendiri, di mana Tari Baris yang umumnya ditarikan oleh laki-laki bertransformasi menjadi tari yang dibawakan oleh penari perempuan tanpa menghilangkan nilai sakral maupun fungsi budayanya.Perancangan film dokumenter KEKUPU berhasil mentransformasikan tanda-tanda budaya yang terdapat pada Tari Baris Kekupu ke dalam visual sinematik.Melalui pendekatan semiotika, simbolisme pada tata gerak, tata busana, dan properti diterjemahkan ke dalam berbagai scene simbolik yang komunikatif.Penggunaan colour grading yang merujuk pada warna tata busana Tari Baris Kekupu juga membentuk identitas visual yang kuat dan konsisten, sehingga film mampu merepresentasikan karakter khas tari tersebut secara lebih menarik dan mudah dipahami masyarakat luas.

Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah saran penelitian lanjutan:. . 1. Mengembangkan kajian pada respons audiens yang lebih luas untuk memahami bagaimana film dokumenter ini diterima dan dipahami oleh berbagai kelompok masyarakat, termasuk generasi muda yang akrab dengan media digital.. . 2. Meneliti efektivitas distribusi film melalui platform digital, terutama dalam konteks pelestarian budaya lokal dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya takbenda.. . 3. Menerapkan model perancangan dokumenter serupa pada warisan budaya takbenda lainnya di Indonesia, dengan mempertimbangkan aspek-aspek unik dari setiap tradisi dan mengintegrasikan konsep-konsep lokal seperti Rwa Bhineda untuk memperkuat identitas kultural dan pemahaman publik.

  1.  . 0 mdpi.com/2075-5309/15/8/1302A 0 mdpi 2075 5309 15 8 1302
  2. Representasi Simbolik Rejang Inyeng Melalui Film Dokumenter di Desa Adat Tiyingan Kabupaten Badung: Indonesia... doi.org/10.36982/jsdb.v10i3.5940Representasi Simbolik Rejang Inyeng Melalui Film Dokumenter di Desa Adat Tiyingan Kabupaten Badung Indonesia doi 10 36982 jsdb v10i3 5940
Read online
File size1.08 MB
Pages26
DMCAReport

Related /

ads-block-test