UIGMUIGM

Besaung : Jurnal Seni Desain dan BudayaBesaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya

Semiotika dan mitologi budaya maritim dalam film Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian dilakukan karena film tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai medium komunikasi budaya yang memproduksi tanda, simbol, dan mitos melalui narasi visual. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam film, mengidentifikasi struktur naratif berdasarkan lima kode Roland Barthes, serta mengkaji representasi budaya maritim film yang dikontekstualisasikan dengan budaya Nusantara. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, dokumentasi, dan analisis visual terhadap adegan, dialog, serta simbol dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film membangun makna melalui representasi kutukan laut, kapal hantu, penguasa laut, wilayah laut misterius, dan artefak sakral yang membentuk mitologi maritim modern. Lima kode naratif Roland Barthes memperlihatkan bahwa struktur cerita film dibangun melalui misteri, konflik, simbol visual, dan referensi budaya yang memperkuat suasana fantasi petualangan. Selain itu, ditemukan adanya keterkaitan simbolik antara mitologi dalam film dengan budaya maritim Nusantara, seperti legenda SS Ourang Medan, Segitiga Masalembo, Nyi Roro Kidul, Keris Kyai Sengkelat, dan tradisi Larung Sesaji masyarakat pesisir Jawa. Penelitian ini menunjukkan bahwa film populer global dapat dikontekstualisasikan dengan nilai lokal melalui representasi budaya dan mitologi maritim.

Penelitian ini menunjukkan bahwa film Pirates of the Caribbean.Dead Men Tell No Tales tidak hanya menghadirkan narasi fantasi dan petualangan, tetapi juga membangun sistem makna melalui tanda, simbol, dan mitologi budaya maritim.Melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam film memperlihatkan bagaimana laut direpresentasikan sebagai ruang misterius yang berkaitan dengan kekuasaan, kutukan, kematian, kebebasan, serta spiritualitas.Struktur naratif film juga menunjukkan bahwa lima kode Barthes tidak sekadar menjadi unsur pembangun cerita, tetapi berfungsi sebagai mekanisme produksi makna yang menghubungkan visual, konflik, simbol, dan pengalaman budaya penonton.Temuan ini memperlihatkan implikasi teoritik bahwa semiotika film tidak hanya dapat digunakan untuk membaca simbol visual, tetapi juga untuk memahami bagaimana media populer membentuk konstruksi mitologi modern melalui hubungan antara narasi, budaya, dan ideologi.Penelitian menemukan adanya keterkaitan simbolik antara representasi budaya maritim dalam film dengan budaya maritim Nusantara, seperti legenda kapal hantu SS Ourang Medan, Segitiga Masalembo, mitologi Nyi Roro Kidul, Keris Kyai Sengkelat, serta tradisi Larung Sesaji masyarakat pesisir Jawa.Keterkaitan tersebut menunjukkan bahwa mitologi laut dalam budaya populer global memiliki pola representasi yang serupa dengan kepercayaan masyarakat pesisir Indonesia mengenai laut sebagai ruang sakral dan spiritual.Penelitian ini memperluas kajian semiotika Roland Barthes melalui pendekatan kontekstual yang menghubungkan budaya populer global dengan nilai kelokalan budaya maritim Nusantara.

Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan:. . 1. Membandingkan representasi budaya maritim dalam berbagai film lintas negara untuk menganalisis pola dan perbedaan dalam konstruksi mitologi maritim global.. . 2. Mengkaji lebih dalam hubungan antara media populer, budaya lokal, dan konstruksi mitologi masyarakat pesisir menggunakan pendekatan interdisipliner seperti kajian budaya, antropologi visual, dan komunikasi budaya.. . 3. Meneliti representasi budaya maritim dalam film-film Indonesia yang mengangkat tema serupa, seperti film-film yang mengadaptasi legenda atau mitologi Nusantara, untuk menganalisis bagaimana nilai-nilai lokal diintegrasikan dalam narasi film.. . Dengan melakukan penelitian lanjutan ini, diharapkan dapat memperluas pemahaman tentang hubungan antara media populer, budaya maritim, dan konstruksi mitologi dalam konteks global dan lokal.

  1. Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Batik Besurek Dalam Konteks Komersialisasi | Besaung : Jurnal... doi.org/10.36982/jsdb.v10i3.6160Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Batik Besurek Dalam Konteks Komersialisasi Besaung Jurnal doi 10 36982 jsdb v10i3 6160
  2. Kode-Kode Narasi Semiotika Roland Barthes dalam Novel dari Jendela SMP Karya Mira Widjaja | Kajian Linguistik... doi.org/10.22437/kalistra.v1i1.18421Kode Kode Narasi Semiotika Roland Barthes dalam Novel dari Jendela SMP Karya Mira Widjaja Kajian Linguistik doi 10 22437 kalistra v1i1 18421
  3. Nyi Roro Kidul and Marine Eco-Pneumatology in: International Journal of Asian Christianity Volume 7 Issue... doi.org/10.1163/25424246-07010006Nyi Roro Kidul and Marine Eco Pneumatology in International Journal of Asian Christianity Volume 7 Issue doi 10 1163 25424246 07010006
Read online
File size1.1 MB
Pages31
DMCAReport

Related /

ads-block-test