UNBITAGOUNBITAGO

Jurnal Administrasi, Manajemen Sumber Daya Manusia dan Ilmu Sosial (JAEIS)Jurnal Administrasi, Manajemen Sumber Daya Manusia dan Ilmu Sosial (JAEIS)

Administrasi publik sebagai tulang punggung penyelenggaraan pemerintahan membutuhkan aparatur sipil negara (ASN) yang memiliki kompetensi sesuai tuntutan global, salah satunya penguasaan bahasa Inggris. Bahasa ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi lintas negara, tetapi juga sebagai instrumen untuk memahami kebijakan internasional, mengakses literatur global, dan mendukung implementasi e-government. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menelaah regulasi, laporan internasional, serta penelitian terdahulu terkait kompetensi bahasa asing dalam birokrasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa kemampuan bahasa Inggris ASN di Indonesia masih rendah, sehingga menghambat adopsi standar pelayanan publik internasional, memperlambat transformasi digital, dan membatasi peran Indonesia dalam forum global. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya strategi peningkatan kompetensi bahasa Inggris yang terintegrasi dalam reformasi birokrasi, baik melalui regulasi yang tegas, pelatihan berjenjang dan kontekstual, pemanfaatan teknologi digital, maupun penciptaan lingkungan kerja yang mendukung. Dengan peningkatan kompetensi ini, administrasi publik Indonesia dapat lebih efektif, profesional, dan berdaya saing dalam menghadapi tantangan globalisasi.

Berdasarkan hasil kajian, dapat disimpulkan bahwa penguasaan bahasa Inggris oleh aparatur sipil negara di Indonesia merupakan kebutuhan yang sangat mendesak.Kompetensi bahasa asing ini terbukti berperan penting dalam meningkatkan efektivitas administrasi publik, baik dalam konteks komunikasi global, akses terhadap pengetahuan internasional, penerapan teknologi digital, maupun penyediaan layanan publik yang inklusif.Namun, kondisi faktual menunjukkan bahwa kemampuan bahasa Inggris ASN masih tergolong rendah dan belum merata, terutama antara aparatur pusat dan daerah.Keterbatasan ini berimplikasi pada rendahnya kualitas komunikasi dengan mitra asing, lambatnya adopsi kebijakan global, serta kurang optimalnya implementasi e-government yang sebagian besar berbasis bahasa Inggris.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan program pelatihan bahasa Inggris yang lebih spesifik untuk aparatur daerah terpencil, dengan mempertimbangkan konteks lokal dan kebutuhan praktis mereka. Selain itu, penelitian juga bisa mengeksplorasi integrasi pembelajaran bahasa Inggris dalam sistem e-government, seperti menyediakan modul pelatihan berbasis AI untuk meningkatkan keterampilan teknis ASN. Terakhir, studi lanjutan dapat mengevaluasi dampak jangka panjang dari insentif berbasis kompetensi bahasa asing terhadap promosi jabatan dan kinerja aparatur, serta mengidentifikasi tantangan baru dalam implementasi strategi peningkatan kompetensi ini.

Read online
File size321.92 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test