YAMASIYAMASI

Jurnal Kesehatan Yamasi MakassarJurnal Kesehatan Yamasi Makassar

Minyak jelantah merupakan limbah rumah tangga yang berpotensi mencemari lingkungan, sementara daun bidara cina (Ziziphus jujuba) dikenal memiliki ragam aktivitas biologi, termasuk antibakteri. Pemanfaatan kedua komponen ini dalam formulasi sabun antiseptik padat dapat memberikan nilai tambah dan solusi berkelanjutan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan sediaan sabun antiseptik padat berbasis minyak jelantah dengan penambahan ekstrak etanol daun bidara cina yang memenuhi persyaratan mutu SNI, serta mengevaluasi karakteristik fisik, kimia, dan aktivitas antibakterinya. Metode: Minyak jelantah dimurnikan dengan arang sabut kelapa. Ekstrak etanol daun bidara cina ditambahkan ke dalam sabun pada konsentrasi 5% (F1) dan 10% (F2), dibandingkan dengan blanko (F0). Pengujian meliputi organoleptik (bentuk, warna, aroma), pH, tinggi busa, kadar air, asam lemak bebas, dan alkali bebas. Aktivitas antibakteri diuji terhadap Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, dan Propionibacterium acne. Hasil: Semua formula sabun menunjukkan karakteristik organoleptik yang baik (padat, aroma khas) dengan variasi warna sesuai konsentrasi ekstrak. Nilai pH (9.7-10.1) dan tinggi busa (59.67-75.33 mm) memenuhi SNI. Kadar air (8.3-9.31%) dan asam lemak bebas (2.0-2.3%) juga memenuhi standar. Namun, kadar alkali bebas Formula 2 (0.2%) melebihi batas SNI (<0.1%). Semua formula dengan ekstrak menunjukkan zona hambat terhadap ketiga bakteri uji, dan zona hambat meningkat seiring peningkatan konsentrasi ekstrak (terbesar pada 10%) sehingga dapat disimpulkan bahwa Sabun antiseptik padat berbasis minyak jelantah dan ekstrak etanol daun bidara cina berhasil diformulasikan dan memenuhi sebagian besar standar mutu SNI serta menunjukkan aktivitas antibakteri yang baik, meskipun Formula 2 memerlukan optimasi lebih lanjut terkait kadar alkali bebas.

Sabun antiseptik padat berbasis minyak jelantah dan ekstrak etanol daun bidara cina berhasil diformulasikan.Semua parameter mutu fisik sabun (organoleptik, pH, tinggi busa) memenuhi standar SNI, kecuali warna yang bervariasi sesuai konsentrasi ekstrak.Kadar air dan asam lemak bebas pada semua formula telah memenuhi standar SNI 2016.Formula blanko dan Formula 1 (konsentrasi 5% ekstrak) memenuhi standar alkali bebas SNI 2016, tetapi Formula 2 (konsentrasi 10% ekstrak) tidak memenuhi standar alkali bebas.Sabun yang diformulasikan dengan ekstrak etanol daun bidara cina menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, dan Propionibacterium acne.

Penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk menguji keamanan sabun terhadap kulit melalui uji iritasi (Patch Test) agar dapat dipastikan aman digunakan. Selain itu, perlu dilakukan evaluasi stabilitas jangka panjang sabun dalam kondisi penyimpanan berbeda untuk memastikan konsistensi kualitasnya. Terakhir, optimasi formulasi Formula 2 dengan konsentrasi ekstrak 10% perlu dilakukan untuk menurunkan kadar alkali bebas agar sesuai standar SNI, dengan mempertimbangkan pengaruh ekstrak terhadap reaksi saponifikasi.

Read online
File size636.24 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test