POLBANGTAN GOWAPOLBANGTAN GOWA

Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan PenyuluhanJurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan

Konsep pertanian bioindustri tanpa limbah sebagai salah satu strategi untuk peningkatan nilai tambah dan daya saing serta kesejahteraan petani. Konsep ini, menuntut setiap lini produk mempunyai nilai jual, sehingga penggunan sumber daya menjadi efisien dan dapat menekan biaya produksi. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan kawasan administrasi pemerintahan dalam suatu model bioindustri terpadu yang terbentuk secara partisipatif oleh seluruh komponen masyarakat/lembaga dalam satu desa yang terlibat dalam bioindustri di desa tersebut. Komoditas utama yang ditangani yaitu kelapa dalam. Komoditas lain yang berpotensi meningkatkan nilai tambah dan pendapatan masyarakat secara nyata di masyarakat juga ikut dikembangkan. Hasil kajian ini menunjukan Jumlah kelompok tani yang terlibat dalam kegiatan sebanyak 3 (tiga) kelompok dengan jumlah anggota petani sebanyak 75 orang. Tingkat pendidikan rata-rata dari SD – S1 dengan umur rata-rata 41,63 tahu. Lahan kelapa anggota kelompok yang termasuk dalam kegiatan bioindustri seluas 35,25 ha dengan rata-rata kepemilikan 1,33 ha setiap anggota, Pengelolaan Kelapa dalam oleh anggota kelompok tani telah memproduksi atau menghasilkan kopra sebesar 43.234 kg dengan tingkat nilai penerimaan sebesar Rp. 259.404.000,-, Minyak Kelapa sebesar 10.795 liter dengan tingkat nilai penerimaan sebesar Rp. 161.925.000 dan pengeolahan arang tempurung sebesar 11.326 kg dengan nilai penerimaan Rp. 45.304.000,-, Nilai penerimaan kotor anggota kelompok tani bioindustri pada tahun 2019 sebesar Rp. 466.633.000- dengan rata-rata penerimaan setiap kelompok sebesar Rp. 155.544.333,- Masih diperlukan peningkatan dan penguatan kinerja kelompok khususnya terhadap peningkatan kinerja anggota, pemanfaatan kelompok tani (gapoktan) sebagai pusat perencanaan dan pelaksanaan kerja anggota.

Kesimpulan Sementara dari pelaksanaan kegiatan Model Pertanian Bioindustri Kelapa Dalam adalah sebagai berikut.Jumlah kelompok tani yang terlibat dalam kegiatan sebanyak 3 (tiga) kelompok dengan jumlah anggota petani sebanyak 75 orang.Tingkat pendidikan rata-rata dari SD – S1 dengan umur rata-rata 41,63 tahu.Lahan kelapa anggota kelompok yang termasuk dalam kegiatan bioindustri seluas 35,25 ha dengan rata-rata kepemilikan 1,33 ha setiap anggota.Pengelolaan Kelapa dalam oleh anggota kelompok telah memproduksi atau menghasilkan kopra sebesar 43.234 kg dengan tingkat nilai penerimaan sebesar Rp.795 liter dengan tingkat nilai penerimaan sebesar Rp.000 dan pengeolahan arang tempurung sebesar 11.Nilai penerimaan kotor anggota kelompok tani bioindustri pada tahun 2019 sebesar Rp.000- dengan rata-rata penerimaan setiap kelompok sebesar Rp.Masih diperlukan peningkatan dan penguatan kinerja kelompok terhadap peningkatan kinerja anggota, pemanfaatan kelompok tani (gapoktan) sebagai pusat perencanaan dan pelaksanaan kerja anggota.

Untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk olahan kelapa dalam, perlu dilakukan berbagai terobosan untuk mendorong berkembangnya suatu struktur bio-industri yang kuat mulai dari hulu hingga hilir dalam kerangka agribisnis berbasis kelapa. Terobosan inovasi diperlukan baik dari aspek teknologi, sosial ekonomi (kelembagaan dan kebijakan) dalam mengembangkan industri kelapa dalam dari hulu sampai hilir. Teknologi tersebut sudah banyak dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka perlu dilakukan suatu terobosan untuk mengintegrasikan semua permasalahan dan potensi usahatani kelapa dalam serta mengoptimalkan semua sumber daya yang tersedia untuk meningkatkan produktivitas dan mutu buah kelapa dalam dan produk turunannya, pendapatan petani serta mengelola usahatani ramah lingkungan melalui Pengembangan Model Pertanian Bioindustri Kelapa Dalam di Sulawesi Barat.

Read online
File size492.42 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test