UMIUMI

Majalah Ilmiah METHODAMajalah Ilmiah METHODA

Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun kronis yang ditandai oleh proses inflamasi persisten pada sendi serta berpotensi mengganggu fungsi berbagai organ di luar sistem muskuloskeletal. Proses inflamasi tersebut dapat menyebabkan kekakuan, nyeri, dan pembengkakan pada sendi, yang apabila tidak ditangani secara optimal dapat menyebabkan penurunan fungsi sendi dan kecacatan secara progresif. Uji sensitivitas antibiotik merupakan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan untuk mengevaluasi tingkat kepekaan bakteri terhadap suatu antibiotik. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan efektivitas antibiotik dalam menghambat atau membunuh pertumbuhan bakteri sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam pemilihan terapi antimikroba yang tepat. Tujuan penelitian ini untuk menguji kepekaan bakteri S. Pyogenes penyebab demam rematik terhadap antibiotik pada pasien penderita Rheumatoid Arthritis berdasarkan zona hambatnya. Metode penelitian yang digunakan bersifat kuantitatif. Metode pemeriksaan yang digunakan adalah Kirby Bauer (Difusi Cakram) dengan menggunakan media kultur blood agar untuk mendapatkan bakteri Streptococcus Pyogenes. Hasil penelitian menunjukkan antibiotik Azithromicin lebih sensitif terhadap bakteri Streptococcus Pyogenes dibandingkan dengan antibiotik Amoxicillin. Antibiotik azithromycin menghasilkan zona hambat yang lebih jelas dibandingkan amoxicillin.

Berdasarkan hasil penelitian mengenai uji sensitivitas antibakteri antibiotik amoxicillin dan azithromicin, dapat disimpulkan bahwa.Antibiotik amoxicillin menghasilkan zona hambat yang relatif kurang jelas.Berdasarkan standar interprestasi menurut CLSI, konsentrasi 25 mg/dL termasuk dalam kategori sensitive, konsentrasi 20 mg/dL termasuk dalam kategori resisten, sedangkan konsentrasi 10 mg/dL tidak memenuhi kriteria kategori resisten, intermediate, maupun sensitif.Antibiotik azithromycin menghasilkan zona hambat yang lebih jelas dibandingkan amoxicillin.Berdasarkan standar CLSI, konsentrasi 25 mg/dL dan 20 mg/dL termasuk dalam kategori intermediate, sedangkan konsentrasi 15 mg/dL termasuk dalam kategori resisten.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi antibiotik memengaruhi terbentuknya diameter zona hambat yang sehingga memengaruhi kategori sensitivitas bakteri berdasarkan interprestasi standar CLSI.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada tiga aspek utama. Pertama, mengeksplorasi efektivitas kombinasi antibiotik lain seperti tetracyclin atau linezolid untuk mengatasi resistensi yang mungkin muncul akibat penggunaan antibiotik tunggal. Kedua, memperluas penelitian ke berbagai jenis bakteri penyebab infeksi saluran pernapasan untuk memahami pola resistensi antibiotik secara lebih luas. Ketiga, mengkaji faktor genetik atau lingkungan yang mungkin memengaruhi respons bakteri terhadap antibiotik, terutama pada populasi penderita RA yang memiliki riwayat penyakit autoimun. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat mengembangkan strategi terapi antimikroba yang lebih tepat dan mengurangi risiko resistensi antibiotik di masa depan.

Read online
File size260.73 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test