ITATSITATS

Tekstur (Jurnal Arsitektur)Tekstur (Jurnal Arsitektur)

Tata letak ruang galeri memiliki dampak besar pada bagaimana pengunjung melihat karya seni dan galeri secara keseluruhan. Teori analisis spasial yang dikenal sebagai Spatial Syntax, yang dikembangkan oleh Bill Hillier, menawarkan pendekatan sistematis untuk memahami hubungan spasial, pola sirkulasi, dan potensi interaksi sosial dalam sebuah bangunan. Studi ini bertujuan untuk menyelidiki pola tata ruang galeri seni, termasuk nilai integrasi, koneksi, dan kedalaman, menggunakan metode analisis konfigurasional dari teori Spatial Syntax. Investigasi dilakukan pada satu atau lebih galeri seni dengan karakteristik spasial yang representatif menggunakan pemetaan dan analisis spasial. Kesimpulan studi menunjukkan bahwa pengaturan ruang yang sangat terintegrasi umumnya mendorong pola pergerakan yang lebih organik dan pengalaman visual yang lebih komprehensif. Area yang kurang terintegrasi, di sisi lain, lebih terpencil dan mendorong introspeksi. Temuan-temuan ini memberikan kepercayaan pada gagasan bahwa, alih-alih berfungsi sebagai wadah pasif, pengaturan arsitektur galeri seni secara aktif mempengaruhi pola gerakan dan persepsi ruang pengunjung.

Pendekatan Sintaksis Spasial terbukti relevan dan efektif sebagai alat analisis tata ruang galeri seni.Pendekatan ini memungkinkan evaluasi objektif terhadap konfigurasi spasial, keterkaitan antar zona, serta dampaknya terhadap pola pergerakan dan pengalaman pengunjung.Teh Villa Gallery merepresentasikan konfigurasi linier dengan jalur utama tunggal berujung buntu (cul-de-sac).Pola ini mendukung penyusunan narasi kuratorial secara berurutan dan fokus, namun membatasi fleksibilitas eksplorasi.Dalam kerangka Sintaksis Spasial, galeri ini menunjukkan konektivitas rendah dan kedalaman tinggi di bagian akhir ruang, yang cocok untuk pengalaman yang terstruktur namun tidak terlalu adaptif.Sebaliknya, UYCC Art Gallery dan Orasis Art Space menerapkan tata ruang terbuka dengan pola sirkulasi melingkar.Kedua galeri ini memperlihatkan tingkat integrasi dan konektivitas yang tinggi serta kedalaman rendah, sehingga mendukung sirkulasi bebas, pengalaman non-linier, dan interaksi ruang yang lebih variatif.Konfigurasi non-linier (melingkar/terbuka) menghasilkan integrasi dan konektivitas yang lebih tinggi.Integrasi tinggi terkorelasi dengan pola pergerakan yang lebih organik dan distribusi pengunjung yang merata.Konektivitas tinggi memfasilitasi mobilitas lancar, interaksi sosial, dan intelligibility ruang.Kedalaman rendah memudahkan akses, meningkatkan visibilitas, dan mengurangi beban kognitif pengunjung.Tata ruang yang fleksibel dan terintegrasi mendukung strategi kuratorial yang lebih responsif.Sintaksis Spasial terbukti efektif sebagai alat analisis untuk mengevaluasi dan merancang pengalaman pengunjung di galeri seni.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan model analisis yang lebih komprehensif untuk mengevaluasi tata ruang galeri seni, dengan mempertimbangkan aspek-aspek seperti pengalaman pengunjung, interaksi sosial, dan dampak emosional. Selain itu, studi komparatif antara galeri seni dengan karakteristik tata ruang yang berbeda dapat memberikan wawasan lebih dalam tentang pengaruh konfigurasi ruang pada pengalaman pengunjung dan keberhasilan narasi visual. Terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi penerapan teori Sintaksis Spasial dalam konteks ruang budaya dan seni lainnya, seperti museum atau ruang pameran temporer, untuk memahami bagaimana prinsip-prinsip ini dapat diterapkan secara luas dalam desain ruang seni.

  1. View of Issues in the planning and design of university campuses in Turkey | A|Z ITU JOURNAL OF THE FACULTY... doi.org/doi:10.5505/itujfa.2020.03789View of Issues in the planning and design of university campuses in Turkey A Z ITU JOURNAL OF THE FACULTY doi doi 10 5505 itujfa 2020 03789
Read online
File size1.72 MB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test