POLSRIPOLSRI

Prosiding Semnas FirstProsiding Semnas First

Paving block terbuat dari mortar, terdiri dari: agregat halus, semen dan air. Paving block (beton pracetak) dapat diklasifikasikan berdasarkan kuat tekan, penyerapan dan fungsinya, antara lain: kelas A, B, C dan D. Limbah abu batubara merupakan mineral additive yang dapat ditambahkan, bertujuan untuk meningkatkan workability, mengurangi biaya prosuksi, meningkatkan ketahanan terhadap serangan sulfat, durabilitas, kuat tekan dan mengurangi porositas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi campuran yang akan digunakan untuk membuat paving block dengan cara membuat mix design campuran paving block berbentuk silinder dan mencetak paving block berbentuk segi enam. Komposisi campuran menggunakan fly ash sebagai bahan tambahan semen dan bottom ash sebagai bahan tambahan abu batu, bervariasi: 5%; 10%;15% dan 20%. Benda uji paving block akan dilakukan pengujian kuat tekan dan daya serap setelah dicuring selama 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika abu dasar yang digunakan sebesar 20% maka akan diperoleh paving block kelas C yang memiliki kuat tekan yang sama dengan paving block tanpa menggunakan limbah abu batubara, jika fly ash yang digunakan < 20% maka akan diperoleh paving block kelas B.

Berdasarkan hasil pengujian penggunaan limbah abu batu bara dalam pembuatan paving block dapat disimpulkan bahwa.(1) Bottom ash dapat digunakan sebagai bahan tambah agregat halus (abubatu) dalam pembuatan paving block, namun dibatasi < 20%, karena dapat menurunkan kuat tekan sehingga paving block mempunyai mutu kelas C.(2) Fly ash dapat digunakan sebagai bahan tambah semen dalam pembuatan paving block, karena penambahan fly ash < 20% didapatkan kuat tekan yang lebih besar dibandingkan kuat tekan paving block tanpa limbah abu batu bara, di mana jika diklasifikasikan dari kelas C menjadi kelas B.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada analisis dampak jangka panjang penggunaan limbah abu batubara terhadap daya tahan paving block di berbagai kondisi lingkungan. Selain itu, perlu dilakukan eksplorasi penggunaan bahan tambahan lain seperti abu terbang dari sumber berbeda atau limbah industri lain untuk memperluas opsi bahan daur ulang. Terakhir, penelitian juga dapat mengevaluasi optimasi proporsi campuran berdasarkan karakteristik geografis daerah tertentu, seperti wilayah dengan curah hujan tinggi atau suhu ekstrem, untuk meningkatkan ketahanan dan efisiensi penggunaan bahan.

Read online
File size268.55 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test