JCIVIL UPIYPTKJCIVIL UPIYPTK

Civil Engineering CollaborationCivil Engineering Collaboration

Penelitian ini mendalami perencanaan geometri Jalur Kereta Api Cepat untuk Jalur Kereta Api Cepat Bandung-Cirebon Tahap III (Ligung-Tengahtani) yang membentang dari KM 67 000 hingga KM 100 685,72. Dalam mengejar keunggulan teknik, studi ini memanfaatkan teknologi Autocad Civil 3D, Global Mapper, dan ArcGIS Student yang mutakhir dan survei lapangan yang mendalam untuk membuat perataan jalur yang mengubah standar kecepatan dan keselamatan. Desainnya secara rumit menyatukan kurva horizontal dan vertikal, superelevasi, dan gradien, memastikan jalur kereta api tidak hanya menaklukkan medan yang menantang tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Karya ini menjadi tolok ukur baru dalam infrastruktur kereta api berkecepatan tinggi, menghadirkan cetak biru yang dirancang dengan sangat baik yang menjanjikan revolusi konektivitas dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Lahan yang dibutuhkan untuk trase jalur kereta api kecepatan tinggi lintas Bandung-Cirebon Fase III seluas 1.897,911 m², terdiri atas berbagai jenis penggunaan lahan termasuk sawah, permukiman, dan perkebunan.Perencanaan alinyemen mencakup lima lengkung horizontal dan 14 lengkung vertikal dengan desain kecepatan 350 km/jam serta radius tertentu untuk memastikan keamanan dan efisiensi.Sebagian trase melewati kawasan rawan gempa bumi dengan risiko menengah dan tinggi, sehingga diperlukan mitigasi berupa pemasangan alat deteksi gempa dan perlakuan khusus pada konstruksi jalur.

Pertama, perlu diteliti bagaimana desain geometri jalur kereta api kecepatan tinggi dapat disesuaikan secara dinamis berdasarkan kondisi gempa real-time menggunakan sistem peringatan dini berbasis sensor dan integrasi data seismik langsung ke desain alinyemen. Kedua, penting untuk mengeksplorasi penggunaan material komposit ringan pada konstruksi slab track di daerah rawan likuifaksi guna mengurangi beban struktural dan meningkatkan ketahanan terhadap getaran gempa. Ketiga, perlu dikaji efektivitas koridor jalur ganda dengan jarak aman tertentu antar jalur dalam konteks evakuasi darurat dan distribusi beban saat terjadi gangguan akibat bencana alam, agar sistem tetap operasional minimal pada satu jalur. Penelitian-penelitian ini akan memperkuat aspek ketahanan dan keberlanjutan jalur kereta cepat di wilayah rawan bencana seperti Jalur Bandung-Cirebon.

  1. Perencanaan Geometri Jalur Kereta Api Kecepatan Tinggi Lintas Bandung Cirebon Fase II (Cimalaka-Ligung)... doi.org/10.35134/jcivil.v9i2.75Perencanaan Geometri Jalur Kereta Api Kecepatan Tinggi Lintas Bandung Cirebon Fase II Cimalaka Ligung doi 10 35134 jcivil v9i2 75
Read online
File size1.09 MB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test