UNHASUNHAS

Hasanuddin Journal of International AffairsHasanuddin Journal of International Affairs

Perpindahan ruang digital dari kebebasan ke kontrol politik menandai bentuk baru otoritarianisme digital di Indonesia. Negara menggunakan pengawasan online, pembatasan informasi, disinformasi, dan kriminalisasi aktivis untuk memperkuat kekuasaannya, sejalan dengan penurunan demokrasi digital di Asia Tenggara. Di sisi lain, perlawanan berbasis hashtag seperti #ReformasiDikorupsi, #TolakOmnibusLaw, #IndonesiaGelap, dan #ResetIndonesia muncul, beroperasi melalui tindakan terhubung—mobilisasi horizontal berdasarkan jaringan pribadi dan solidaritas afektif. Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dan interpretatif, dikembangkan sebagai refleksi konseptual berdasarkan tinjauan literatur terstruktur, bukan observasi lapangan langsung, dan menggunakan gerakan #ResetIndonesia sebagai kasus ilustratif. Data yang dianalisis mencakup literatur akademik, laporan penelitian internasional, dan media tepercaya tentang pengawasan digital dan gerakan sosial online. Hasil menunjukkan bahwa tindakan terhubung memperluas partisipasi politik dengan memungkinkan kreativitas digital dan solidaritas spontan, tetapi menghadapi kerentanan karena kurangnya organisasi formal. Di sisi lain, negara menyesuaikan represi melalui algoritma dan regulasi yang normalisasi kontrol. Dialektika kontrol dan perlawanan membentuk siklus—kontrol, perlawanan, penyesuaian, represi baru—yang menggambarkan ko-evolusi kekuasaan dan aktivisme digital. Temuan ini menekankan kebutuhan memperkuat struktur gerakan dan melindungi hak digital untuk memastikan perlawanan online berkembang menjadi kekuatan demokratis yang berkelanjutan.

Otoritarianisme digital di Indonesia menunjukkan bahwa represi kini beroperasi dengan mengontrol ruang digital dari dalam.ResetIndonesia menunjukkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan strategi adaptif dan solidaritas digital.Namun, tantangan utama tetap ada, termasuk kerentanan struktur gerakan dan peningkatan kemampuan negara dalam manipulasi ruang digital melalui algoritma dan disinformasi.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi peran kecerdasan buatan dalam memperkuat represi digital oleh pemerintah. Selain itu, studi tentang kolaborasi gerakan perlawanan lintas batas negara dapat memberikan wawasan baru tentang dinamika solidaritas digital. Terakhir, penelitian tentang dampak literasi digital terhadap kemampuan masyarakat dalam menghadapi manipulasi informasi di ruang digital perlu dikembangkan untuk memahami strategi adaptasi yang lebih efektif.

Read online
File size415.77 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test