JURNALFAMILIAJURNALFAMILIA

Familia: Jurnal Hukum KeluargaFamilia: Jurnal Hukum Keluarga

Secara konstitusional, India menganut prinsip sekulerisme namun tetap memberi ruang bagi komunitas agama untuk menerapkan hukum agamanya dalam urusan privat. Bagi umat Islam, ketentuan ini diatur dalam Muslim Personal Law (Shariat) Application Act, 1937. Dalam praktiknya, penerapan hukum tersebut menghadapi tantangan akibat pengaruh sosial dan budaya patriarkal. Salah satu persoalan paling kontroversial ialah praktik talaq tiga sekaligus, yang menimbulkan ketimpangan gender. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana proses transformasi hukum talaq tiga sekaligus dalam hukum keluarga Islam di India dan bagaimana implikasi pelarangan praktik tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan normatif-yuridis melalui kajian terhadap sumber hukum primer dan literatur akademik. Teori yang dipakai adalah teori Pluralisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reformasi hukum keluarga Islam di India merupakan proses panjang yang dimulai dari kasus Shah Bano (1985) dan MWA 1986, berkembang melalui kasus Dania Latifi (2001), hingga mencapai puncak pada putusan Shayara Bano (2017) yang menegaskan pelarangan triple talaq. Transformasi ini menandai pergeseran dari dominasi fikih tradisional menuju sistem hukum nasional yang berorientasi pada keadilan dan perlindungan perempuan Muslim.

The practice of three talaq at once in India is a legacy of Hanafi school Islamic law that has been valid since pre-colonial times.This practice persists due to the absence of renewal of Islamic family law in line with gender justice, as well as the dominance of conservative interpretations that legitimize three talaks at once.Shah Bano (1985) became the starting point of reform of Islamic family law.The Supreme Court ruling that grants a post-ideal living for Muslim women triggered a violent reaction from conservative groups.The Government responded by publishing the Muslim Women (Protection of Rights on Divorce) Act, 1986 (MWA), which limited womens right to interpret their living in idah period, causing legal uncertainty.The Dania Latifi case (2001) demonstrates the expansion of the meaning of Muslim womens protection with the progressive interpretation of the 1986 MWA.The judge confirmed that the breadwinning obligation includes sustainable economic guarantees.The peak of the transformation occurred in the case of Shayara Bano (2016) which challenged the constitutionality of three talaq at once.The Supreme Court ruling in 2017 declared that the three talaq at once contrary to the principles of the Quran, violates womens rights, and is not in accordance with the constitution.The Muslim Women (Protection of Rights on Marriage) Act, 2019, which prohibits three talaq at once and sets it as a criminal offence.This transformation of law shows a major change in Islamic family law in India that upholds gender justice through a ban on womens harmful practices.However, criminalization of the three talaq triggered debate over its effectiveness and impact on Muslim household stability.The Reformation marked a shift from traditional fikih domination to a national legal system oriented to justice and protection of Muslim womens rights.

Berdasarkan penelitian ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan: Pertama, perlu dilakukan kajian mendalam tentang dampak sosial dan budaya dari pelarangan triple talaq di India. Penelitian ini dapat berfokus pada bagaimana perubahan hukum ini mempengaruhi dinamika keluarga dan masyarakat Muslim di India, serta bagaimana masyarakat menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Kedua, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi peran dan pengaruh organisasi-organisasi perempuan Muslim dalam mendorong reformasi hukum keluarga Islam di India. Bagaimana mereka berinteraksi dengan sistem hukum dan bagaimana mereka mempengaruhi perubahan hukum yang lebih progresif. Ketiga, penelitian dapat dilakukan untuk menganalisis implikasi hukum dan sosial dari kriminalisasi triple talaq. Bagaimana kriminalisasi ini mempengaruhi stabilitas keluarga Muslim dan apakah ada dampak negatif yang tidak diinginkan. Penelitian ini dapat memberikan wawasan tentang bagaimana hukum dapat digunakan untuk melindungi hak-hak perempuan, tetapi juga bagaimana hukum dapat memiliki dampak yang tidak terduga pada masyarakat.

  1. "Criminalisation Without an Object: Critical Reflections on the Muslim " by Shraddha Chaudhary.... repository.nls.ac.in/slr/vol17/iss2/1Criminalisation Without an Object Critical Reflections on the Muslim by Shraddha Chaudhary repository nls ac in slr vol17 iss2 1
  2. Akulturasi Budaya Islam dan India: Tinjauan Historis Terhadap Dialektika Kebudayaan Islam di India |... doi.org/10.34007/warisan.v1i2.408Akulturasi Budaya Islam dan India Tinjauan Historis Terhadap Dialektika Kebudayaan Islam di India doi 10 34007 warisan v1i2 408
Read online
File size1.02 MB
Pages26
DMCAReport

Related /

ads-block-test