METROMETRO

Akademika : Jurnal Pemikiran IslamAkademika : Jurnal Pemikiran Islam

Penguatan moderasi keagamaan di Indonesia saat ini menjadi hal yang mendesak mengingat tingginya tingkat polarisasi global dan sektarianisme keagamaan. Di sini, peran universitas dan pesantren menjadi sangat krusial. Namun, tradisi lokal yang mengandung nilai-nilai serupa belum mendapat perhatian yang layak, baik dari pihak pembuat kebijakan maupun akademisi. Oleh karena itu, artikel ini mengeksplorasi tradisi nyadran di Desa Ngayung, Lamongan, Jawa Timur sebagai contoh moderasi Islam yang berbasis pada hikmah Jawa. Artikel ini membahas bagaimana nyadran berfungsi sebagai mediator untuk menjaga harmoni antarkepercayaan dalam perspektif moderasi Islam yang dilakukan melalui tawasuth, tasamuh, itidal, al-Iṣlāḥ, al-qudwah, dan muwāṭanah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan etnografi. Selama enam bulan pengumpulan data, peneliti melakukan observasi partisipan, wawancara mendalam dengan 18 informan, termasuk pemimpin agama, tokoh masyarakat, dan pemuda, serta analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa nyadran menawarkan contoh mikroskopis dari kehidupan dialogis Islam karena sifatnya yang inklusif terhadap orang-orang dari berbagai latar belakang sosial dan keyakinan keagamaan. Selain mempertahankan tradisi, masyarakat juga secara kreatif menafsir ulang nyadran sebagai tathawwur wa ibtikār di tengah pengaruh urbanitas dan narasi keagamaan digital yang semakin marak. Secara analitis, nyadran berfungsi sebagai mekanisme sosial hibrida yang menjembatani kerendahan hati pedesaan dan kesadaran keagamaan perkotaan, menghasilkan bentuk moderasi keagamaan yang berakar budaya. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan diskursus moderasi keagamaan dengan menunjukkan tradisi lokal sebagai kerangka kerja yang berkelanjutan untuk menjaga harmoni dalam masyarakat Muslim Indonesia yang semakin beragam dan modern.

Tradisi nyadran di Ngayung bukan hanya warisan budaya, tetapi juga representasi konkret dari moderasi keagamaan yang tumbuh dari akar sosial masyarakat.Dengan menggabungkan nilai-nilai Islam dan hikmah Jawa secara harmonis, praktik ini menunjukkan bagaimana moderasi dapat diwujudkan melalui ritual komunitas yang menekankan kesatuan, penghormatan kepada leluhur, dan solidaritas sosial.Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa nyadran berfungsi sebagai mekanisme sosial yang menjaga keseimbangan antara kerendahan hati dan budaya, bahkan di tengah pengaruh urbanisasi dan digitalisasi yang semakin kuat.Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan metodologis karena mengandalkan pendekatan kualitatif dengan jumlah informan yang terbatas dan konteks lokal yang spesifik, sehingga perlu berhati-hati dalam menggeneralisasikan hasilnya.Meski demikian, hasil penelitian ini memberikan kontribusi konseptual yang penting bagi pengembangan strategi penguatan moderasi keagamaan di area perkotaan.Nyadran dapat menjadi model untuk kebijakan berbasis budaya lokal yang mendorong dialog, inklusivitas, dan saling menghormati di tengah keragaman.Fenomena di Ngayung mencerminkan dinamika yang paralel dengan komunitas Muslim perkotaan, di mana nilai-nilai harmoni, kerjasama, dan toleransi tetap relevan sebagai fondasi untuk membangun kehidupan keagamaan yang moderat di era modern.

Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan. Pertama, perlu dilakukan studi lebih lanjut tentang bagaimana nyadran dapat menjadi model untuk penguatan moderasi keagamaan di masyarakat perkotaan. Penelitian ini dapat fokus pada bagaimana nyadran dapat menjadi jembatan antara tradisi lokal dan nilai-nilai keagamaan, serta bagaimana hal ini dapat diterapkan di komunitas-komunitas perkotaan lainnya. Kedua, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi lebih lanjut tentang bagaimana nyadran dapat menjadi sarana untuk membangun dialog antarkepercayaan dan mempromosikan inklusivitas dalam masyarakat yang semakin beragam. Ketiga, penelitian dapat dilakukan untuk menganalisis lebih dalam tentang bagaimana nyadran dapat menjadi contoh konkret dari moderasi keagamaan yang berakar pada hikmah lokal, dan bagaimana hal ini dapat diterapkan dalam konteks-konteks keagamaan lainnya.

  1. DOISerbia - Egalitarianism and redistributive reform in Serbia after 2000 -. doiserbia reform serbia doiserbia.nb.rs/Article.aspx?ID=0013-32642337007ADOISerbia Egalitarianism and redistributive reform in Serbia after 2000 doiserbia reform serbia doiserbia nb rs Article aspx ID 0013 32642337007A
  2. Nilai-nilai Kearifan Lokal Tradisi Nyadran Sebagai Sumber Belajar IPS | Journal Pendidikan Ilmu Pengetahuan... e-journal.upr.ac.id/index.php/JP-IPS/article/view/7728Nilai nilai Kearifan Lokal Tradisi Nyadran Sebagai Sumber Belajar IPS Journal Pendidikan Ilmu Pengetahuan e journal upr ac index php JP IPS article view 7728
  3. INTERCULTURAL AND INTERFAITH: LITERATURE REVIEW ON MULTICULTURAL ISLAMIC EDUCATION IN INDONESIA | Academic... journal.antispublisher.com/index.php/acjoure/article/view/147INTERCULTURAL AND INTERFAITH LITERATURE REVIEW ON MULTICULTURAL ISLAMIC EDUCATION IN INDONESIA Academic journal antispublisher index php acjoure article view 147
  4. Satwika : Jurnal Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial. preserving transforming tradition nyadran pacekulon... ejournal.umm.ac.id/index.php/JICC/article/view/39395Satwika Jurnal Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial preserving transforming tradition nyadran pacekulon ejournal umm ac index php JICC article view 39395
  5. THE RITUAL COMMUNICATION AS A MEDIUM FOR CULTURAL PRESERVATION AND COLLECTIVE IDENTITY: Study on Nyadran... journal.uinmataram.ac.id/index.php/sangkep/article/view/11820THE RITUAL COMMUNICATION AS A MEDIUM FOR CULTURAL PRESERVATION AND COLLECTIVE IDENTITY Study on Nyadran journal uinmataram ac index php sangkep article view 11820
Read online
File size291.05 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test