UIN SGDUIN SGD
Journal of Contemporary Rituals and TraditionsJournal of Contemporary Rituals and TraditionsTujuan: Penelitian ini mengkaji bagaimana pemimpin adat Suku Anak Dalam (SAD) mengklasifikasikan penyakit, menerapkan besesandingon dan melangun sebagai respons terhadap ancaman epidemi yang dirasakan, serta mengintegrasikan ritual spiritual dengan penyembuhan berbasis tumbuhan. Penelitian ini juga menafsirkan logika relasional yang menghubungkan praktik-praktik ini melalui filosofi intersubjektivitas Gabriel Marcel. Metode: Studi ini menggunakan studi kasus mini-etnografi kualitatif yang dilakukan dari September hingga November 2020 di komunitas SAD Air Hitam dan Kejasung, yang terletak di dekat Taman Nasional Bukit Duabelas di Jambi, Indonesia. Data diperoleh dari tujuh pemimpin adat utama dan tiga peserta tambahan melalui observasi partisipan, wawancara tidak terstruktur dan bersama, percakapan kelompok, serta catatan lapangan kontemporer. Data dianalisis secara manual menggunakan pengkodean tematik terbuka dan terfokus. Temuan: Tiga dimensi yang saling terhubung diidentifikasi. Pertama, diagnosis SAD menggabungkan gejala fisik dengan perilaku adat, kontak dengan orang luar, tanda-tanda ekologis, dan hubungan spiritual. Kedua, besesandingon mengatur risiko lokal melalui pembatasan jarak, pemisahan sementara, komunikasi tidak langsung, dan otorisasi adat, sedangkan melangun melibatkan relokasi tempat tinggal yang lebih luas terkait dengan kematian, kemalangan, atau bahaya komunal. Ketiga, tanaman obat tertanam dalam basale/bedeki, bimbingan dari Badewo, ketaatan pada pantangaon, partisipasi keluarga, dan akses ke Tanah Gedong Obat. Temuan ini menunjukkan bahwa diagnosis, pencegahan, dan penyembuhan diatur melalui logika relasional daripada logika yang berpusat pada individu. Implikasi penelitian: Keterlibatan kesehatan dengan komunitas SAD harus melibatkan otoritas adat yang diakui dan menghormati protokol komunitas yang mengatur akses, pengetahuan ritual, dan sumber daya ekologis. Temuan ini bersifat etnografi dan tidak menetapkan efektivitas botani, klinis, atau epidemiologi. Orisinalitas/nilai: Studi ini mengintegrasikan kosmologi penyakit SAD, praktik respons epidemi, dan penyembuhan ritual-herbal dalam satu kerangka analitis tunggal. Konsep esse est co-esse Marcel digunakan untuk memperjelas koherensi relasional mereka tanpa menyamakan kosmologi SAD dengan kategori filosofis Barat.
Sistem kesehatan Suku Anak Dalam (SAD) mengintegrasikan penyakit, pencegahan, dan penyembuhan melalui kerangka relasional yang menghubungkan gejala fisik dengan perilaku adat, kontak sosial, tanda-tanda ekologis, dan hubungan spiritual.Praktik seperti besesandingon dan melangun mengatur ancaman kesehatan mulai dari risiko lokal hingga ancancaman yang lebih luas, sementara penyembuhan berbasis tumbuhan tertanam kuat dalam ritual, bimbingan spiritual, kepatuhan adat, dan akses ke sumber daya ekologis.Penelitian ini menekankan pentingnya memahami sistem kesehatan adat melalui kategori relasionalnya sendiri dan menyarankan keterlibatan dengan komunitas SAD harus menghormati otoritas adat serta protokol komunitas terkait akses dan pengetahuan ritual.
Penelitian ini memberikan wawasan berharga mengenai sistem kesehatan Suku Anak Dalam (SAD) yang kompleks, namun masih banyak aspek yang dapat dieksplorasi lebih lanjut. Pertama, akan sangat bermanfaat untuk melakukan studi jangka panjang dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan beragam anggota komunitas SAD, termasuk perempuan, generasi muda, dan spesialis ritual, di samping para pemimpin adat. Hal ini penting untuk mengungkap dinamika transmisi pengetahuan antargenerasi, bagaimana peran gender memengaruhi praktik kesehatan, serta nuansa praktik penyembuhan sehari-hari yang mungkin tidak terwakili sepenuhnya dalam penelitian yang berfokus pada tokoh adat senior. Kedua, mengingat kekhawatiran komunitas SAD tentang penurunan jumlah spesies di Tanah Gedong Obat akibat perubahan lingkungan, penelitian lanjutan perlu mendokumentasikan secara sistematis keragaman botani di area tersebut. Ini bisa menjadi studi etnobotani kolaboratif yang mengidentifikasi spesies tanaman obat yang terancam, menganalisis dampak deforestasi dan ekspansi perkebunan kelapa sawit terhadap ketersediaan dan keberlanjutan sumber daya pengobatan tradisional, serta mengidentifikasi strategi konservasi yang efektif yang didasari oleh pengetahuan lokal. Ketiga, untuk menjembatani kesenjangan antara sistem kesehatan adat dan modern, studi komparatif dapat dirancang untuk menganalisis bagaimana praktik kesehatan adat seperti besesandingon dan melangun dapat diintegrasikan atau berinteraksi dengan layanan kesehatan formal, terutama dalam konteks ancaman penyakit menular di masa depan. Penelitian ini dapat mengeksplorasi potensi kolaborasi antara otoritas adat dan tenaga kesehatan formal untuk mengembangkan pendekatan pencegahan dan penanganan penyakit yang lebih holistik dan kultural-sensitif. Pendekatan ini akan memperkaya pemahaman kita tentang resiliensi komunitas adat dan cara terbaik untuk mendukung kesejahteraan mereka tanpa mengikis kearifan lokal.
- Reverse Social Impact of Oil Palm Plantation Expansion: A Study of Three Communities in Jambi, Indonesia... doi.org/10.24259/fs.v7i1.24803Reverse Social Impact of Oil Palm Plantation Expansion A Study of Three Communities in Jambi Indonesia doi 10 24259 fs v7i1 24803
- Using Local Wisdom to Foster Community Resilience During the Covid-19 Pandemic: A Study in the Sasak... atlantis-press.com/proceedings/access-20/125956975Using Local Wisdom to Foster Community Resilience During the Covid 19 Pandemic A Study in the Sasak atlantis press proceedings access 20 125956975
- Besesandingon, Melangun, and Ritual Healing among the Suku Anak Dalam: A Marcelian Interpretation of... ejournal.uinsgd.ac.id/index.php/jcrt/article/view/3178Besesandingon Melangun and Ritual Healing among the Suku Anak Dalam A Marcelian Interpretation of ejournal uinsgd ac index php jcrt article view 3178
| File size | 448 KB |
| Pages | 20 |
| DMCA | Report |
Related /
UIN SGDUIN SGD Elemen ritual seperti persembahan, larung, perahu hias, dan doa tidak sepenuhnya dihapus atau dibiarkan tidak berubah.mereka ditinjau, disesuaikan, danElemen ritual seperti persembahan, larung, perahu hias, dan doa tidak sepenuhnya dihapus atau dibiarkan tidak berubah.mereka ditinjau, disesuaikan, dan
STISIPOLCANDRADIMUKASTISIPOLCANDRADIMUKA Pendekatan ini dirancang untuk memastikan penyebaran pengetahuan yang efektif dan merata. Setelah sesi pemaparan materi selesai, kegiatan beranjak ke tahapPendekatan ini dirancang untuk memastikan penyebaran pengetahuan yang efektif dan merata. Setelah sesi pemaparan materi selesai, kegiatan beranjak ke tahap
STFXAMBONSTFXAMBON Konsep ini menegaskan pengakuan terhadap sesama Dayak karena kesamaan etnis, terhadap non-Dayak sebagai manusia yang bermartabat, serta terhadap lingkunganKonsep ini menegaskan pengakuan terhadap sesama Dayak karena kesamaan etnis, terhadap non-Dayak sebagai manusia yang bermartabat, serta terhadap lingkungan
STAITARUNASTAITARUNA Reinterpretasi sebagai proses evolusi hukum dan pendidikan moral adalah bahwa fenomena yang selama ini disebut nasikh wa mansukh berhasil direinterpretasiReinterpretasi sebagai proses evolusi hukum dan pendidikan moral adalah bahwa fenomena yang selama ini disebut nasikh wa mansukh berhasil direinterpretasi
UIN SUKAUIN SUKA Dengan menarik pada keyakinan moral internal daripada paksaan eksternal, ia mendorong pendekatan yang lebih holistik dan partisipatif terhadap pengelolaanDengan menarik pada keyakinan moral internal daripada paksaan eksternal, ia mendorong pendekatan yang lebih holistik dan partisipatif terhadap pengelolaan
SCADINDEPENDENTSCADINDEPENDENT Studi ini berkontribusi pada literatur internasional dan merekomendasikan penelitian lanjutan untuk menggabungkan variabel intelektual, emosional, danStudi ini berkontribusi pada literatur internasional dan merekomendasikan penelitian lanjutan untuk menggabungkan variabel intelektual, emosional, dan
PKRPKR Berdasarkan analisis terhadap sepuluh studi (2015–2025), ditemukan empat tema utama: nilai budaya memengaruhi perilaku menyusui; lemahnya sistem kesehatanBerdasarkan analisis terhadap sepuluh studi (2015–2025), ditemukan empat tema utama: nilai budaya memengaruhi perilaku menyusui; lemahnya sistem kesehatan
DINIYAHDINIYAH Negara Indonesia mempunyai keragaman agama, suku, ras, bahasa daerah, serta budaya. Keragaman ini berpotensi menimbulkan konflik, terlebih dengan adanyaNegara Indonesia mempunyai keragaman agama, suku, ras, bahasa daerah, serta budaya. Keragaman ini berpotensi menimbulkan konflik, terlebih dengan adanya
Useful /
UIN SGDUIN SGD Hasil: Seri ini secara efektif memvisualisasikan kepercayaan Yoruba tentang perjalanan jiwa setelah kematian, beban moral dari campur tangan dengan kematianHasil: Seri ini secara efektif memvisualisasikan kepercayaan Yoruba tentang perjalanan jiwa setelah kematian, beban moral dari campur tangan dengan kematian
UIN SGDUIN SGD Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang warna, spiritualitas, dan budaya material di Afrika Barat dengan mengusulkan kerangka “warna sebagaiPenelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang warna, spiritualitas, dan budaya material di Afrika Barat dengan mengusulkan kerangka “warna sebagai
POLTEKKESBENGKULUPOLTEKKESBENGKULU Proses melahirkan mengandung risiko bagi ibu dan janinnya. Salah satu bahaya yang dapat muncul sebagai akibat dari penggunaan anestesi selama operasi SectioProses melahirkan mengandung risiko bagi ibu dan janinnya. Salah satu bahaya yang dapat muncul sebagai akibat dari penggunaan anestesi selama operasi Sectio
EGIEGI Namun, di dalamnya sendiri ada masalah kemiskinan sebagai hal utama yang harus dianalisis untuk perencanaan pembangunan ke depannya secara holistik. KajianNamun, di dalamnya sendiri ada masalah kemiskinan sebagai hal utama yang harus dianalisis untuk perencanaan pembangunan ke depannya secara holistik. Kajian