STFXAMBONSTFXAMBON

Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius AmbonFides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep metafisika yang terdapat dalam istilah Sabaya Diri pada masyarakat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat. Sabaya Diri merupakan pengakuan manusia atas keberadaan orang lain sebagai bagian dari diri sendiri yang tidak boleh disakiti, dimusuhi dan direndahkan. Perspektif yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep Metafisika Harapan dari filsuf asal Prancis yakni Gabriel Marcel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kualitatif dengan kajian pustaka. Penulis mengumpulkan data-data literatur pemikiran Gabriel Marcel baik sumber secara fisik maupun digital. Sementara gagasan tentang Sabaya Diri dielaborasi dari pemaknaan Penulis sebagai orang asli Dayak Kanayatn. Penelitian ini menemukan bahwa di dalam istilah Sabaya Diri terkandung tiga unsur afirmasi keberadaan yang lain sebagai diri manusia itu sendiri. Pertama, sesama orang Dayak adalah pengakuan Sabaya Diri paling solid karena kesamaan suku. Kedua, suku non-Dayak adalah Sabaya Diri karena merupakan manusia yang bermartabat mulia. Ketiga, lingkungan alam adalah Sabaya Diri karena kedetakan relasionalitas orang Dayak dengan alam semesta.

Sabaya Diri merupakan wujud kearifan lokal masyarakat Dayak Kanayatn yang mengandung dimensi metafisika.Konsep ini menegaskan pengakuan terhadap sesama Dayak karena kesamaan etnis, terhadap non-Dayak sebagai manusia yang bermartabat, serta terhadap lingkungan alam karena keterhubungan relasional dengan alam semesta.Hubungan tersebut mencerminkan wujud kehadiran diri yang utuh dalam komunitas dan kosmos.

Pertama, perlu diteliti bagaimana konsep Sabaya Diri diterapkan dalam konteks konflik sosial antaretnis di daerah perkotaan Kalimantan Barat, untuk melihat sejauh mana nilai lokal ini mampu menjadi fondasi rekonsiliasi. Kedua, perlu dikaji bagaimana generasi muda Dayak Kanayatn memaknai Sabaya Diri dalam era digital, terutama dalam interaksi media sosial yang sering mengaburkan kehadiran autentik, agar bisa dipahami apakah nilai intersubjektif ini masih relevan atau mengalami transformasi. Ketiga, penting untuk mengeksplorasi penerapan Sabaya Diri dalam kebijakan lingkungan, misalnya dalam pengelolaan lahan gambut dan perkebunan kelapa sawit, guna menguji bagaimana relasionalitas metafisik dengan alam bisa menjadi dasar pertimbangan ekologis yang konkret. Penelitian-penelitian ini akan memperdalam pemahaman tentang adaptasi nilai metafisik lokal dalam tantangan kontemporer, sekaligus membuka ruang untuk memperkuat identitas budaya melalui refleksi filosofis yang berkelanjutan.

  1. The Shifting Cultivation of Bauma Tahutn Tradition in the Dayak Kanayatn People in West Kalimantan |... doi.org/10.2991/iset-18.2018.86The Shifting Cultivation of Bauma Tahutn Tradition in the Dayak Kanayatn People in West Kalimantan doi 10 2991 iset 18 2018 86
  2. Making sure you're not a bot!. making sure re bot loading seeing set anubis protect server against... erudit.org/revues/ltp/1969-v25-n1-ltp0974/1020132arMaking sure youre not a bot making sure re bot loading seeing set anubis protect server against erudit revues ltp 1969 v25 n1 ltp0974 1020132ar
  3. “Berit” sebagai Bentuk Cinta Tuhan yang Mengikat kepada Manusia dalam Perspektif Gabriel... doi.org/10.46495/sdjt.v13i2.222AuBeritAy sebagai Bentuk Cinta Tuhan yang Mengikat kepada Manusia dalam Perspektif Gabriel doi 10 46495 sdjt v13i2 222
  1. #dayak kanayatn#dayak kanayatn
  2. #komunitas adat#komunitas adat
Read online
File size259.34 KB
Pages7
Short Linkhttps://juris.id/p-22N
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test