UIN SGDUIN SGD
Journal of Contemporary Rituals and TraditionsJournal of Contemporary Rituals and TraditionsTujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki bagaimana Petik Laut, sebuah ritual pesisir di Pengambengan, Jembrana, Bali, berfungsi sebagai arena negosiasi akulturasi Islam-Hindu, kohesi antaragama, dan etika lingkungan pesisir. Penelitian ini membahas kebutuhan untuk melampaui pandangan ritual pesisir sebagai warisan budaya, praktik sincretik, atau Islamisasi satu arah dengan menganalisis bagaimana batas-batas agama, partisipasi bersama, dan tanggung jawab ekologis diproduksi dalam komunitas nelayan multireligius. Metodologi penelitian ini menggunakan etnografi kualitatif agama. Data dikumpulkan selama siklus ritual Petik Laut 2025 melalui observasi partisipan, wawancara semi-terstruktur dengan 15 informan kunci, dan dokumentasi visual. Informan termasuk pemimpin agama, pemimpin sipil, anggota komite, nelayan senior, peserta pemuda, dan anggota komunitas. Data dianalisis menggunakan analisis tematik dan deskripsi tebal Geertz untuk menafsirkan transformasi simbolik, pembuatan batas, kerja sama antaragama, dan makna ekologis. Temuan penelitian ini mengungkapkan tiga temuan utama. Pertama, akulturasi Islam-Hindu terjadi melalui relabeling simbolik, adaptasi liturgi Islam, dan pembuatan batas teologis berbasis komite. Elemen ritual seperti persembahan, larung (pelepasaan persembahan ke laut), perahu hias, dan doa tidak dihapus tetapi ditafsirkan kembali untuk tetap bermakna secara budaya sambil mengurangi ambiguitas teologis. Kedua, kohesi antaragama dihasilkan melalui gotong royong (bantuan bersama), kerja sama komite bersama, ruang ritual bersama, partisipasi diferensial, dan narasi maritim kolektif seperti gagasan bahwa laut milik semua orang. Ketiga, etika ekologis tertanam melalui pemahaman laut sebagai rezeki (rezeki atau berkah yang diberikan oleh Tuhan), penggunaan bahan yang dapat terurai secara alami, pengurangan plastik, pembersihan pantai, pemantauan pemuda, dan kontrol sosial informal. Namun, keberlanjutan ritual ini ditantang oleh menurunnya keterlibatan pemuda, komodifikasi pariwisata, dan perdebatan tentang ortodoksi agama. Implikasi temuan penelitian ini menyarankan bahwa untuk menjaga keberlanjutan Petik Laut diperlukan tata kelola ritual berbasis komunitas, partisipasi pemuda yang lebih kuat, manajemen pariwisata yang etis, dan aturan lingkungan yang lebih jelas. Ritual ini tidak seharusnya hanya dianggap sebagai festival budaya, tetapi sebagai institusi lokal yang menghubungkan pluralisme, identitas maritim, dan tanggung jawab ekologis.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Petik Laut di Pengambengan tidak seharusnya dipahami hanya sebagai tradisi pesisir yang terpelihara, bentuk sincretisme yang statis, atau proses Islamisasi satu arah.Sebaliknya, ritual ini berfungsi sebagai arena ritual yang dinegosiasikan di mana aktor Muslim dan Hindu menafsirkan kembali simbol ritual, mengatur batas teologis, mengatur partisipasi bersama, dan menanamkan etika ekologis ke dalam praktik komunitas.Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa akulturasi Islam-Hindu terjadi melalui relabeling simbolik, adaptasi liturgi Islam, dan pembuatan batas teologis berbasis komite.Elemen ritual seperti persembahan, larung, perahu hias, dan doa tidak sepenuhnya dihapus atau dibiarkan tidak berubah.mereka ditinjau, disesuaikan, dan ditafsirkan kembali sehingga tetap bermakna secara budaya sambil mengurangi ambiguitas teologis.Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kohesi antaragama dalam Petik Laut bukanlah warisan budaya pasif, tetapi prestasi sosial yang terorganisir.Kohesi dihasilkan melalui gotong royong, kerja sama komite bersama, pembagian kerja ritual, ruang ritual bersama, partisipasi diferensial, dan narasi maritim kolektif seperti gagasan bahwa laut milik semua orang. Peserta Muslim dan Hindu tidak berpartisipasi dengan cara yang identik, tetapi peran mereka yang berbeda diorganisir menjadi struktur ritual bersama yang memungkinkan kerja sama tanpa memerlukan asimilasi liturgi.Selain itu, Petik Laut berfungsi sebagai medium ekologi agama.Laut dipahami sebagai sumber rezeki, ritual diframework sebagai rasa syukur kepada Tuhan, dan tanggung jawab ekologis dipraktikkan melalui bahan yang dapat terurai secara alami, penggunaan plastik yang berkurang, pembersihan pantai, pemantauan pemuda, dan pengingat moral terhadap perilaku maritim yang merusak.Kontribusi utama penelitian ini terletak pada menunjukkan bahwa ritual pesisir dapat berfungsi secara bersamaan sebagai mekanisme negosiasi agama, infrastruktur kohesi antaragama, dan medium untuk menginstitusionalisasikan etika lingkungan.Hal ini memperluas studi sebelumnya yang cenderung memperlakukan ritual pesisir terutama sebagai warisan budaya, kebijaksanaan lokal, atau simbolisme ekologis dengan menunjukkan bagaimana makna ritual dinegosiasikan dalam komunitas multireligius.Namun, penelitian ini terbatas pada satu siklus ritual di satu desa pesisir, dengan pengumpulan data lapangan yang dilakukan dalam waktu singkat.Penelitian lebih lanjut harus membandingkan Petik Laut di berbagai daerah pesisir, menyelidiki partisipasi gender dan agensi Hindu yang lebih dalam, dan melakukan studi longitudinal tentang keterlibatan pemuda, komodifikasi pariwisata, dan perdebatan ortodoksi.
Berdasarkan temuan penelitian ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan:. . 1. Mempelajari peran dan partisipasi pemuda dalam ritual Petik Laut secara lebih mendalam. Penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan pemuda dalam ritual cenderung bergeser dari tanggung jawab ritual yang berkelanjutan menuju keterlibatan yang lebih sporadis atau berbasis dokumentasi. Penting untuk menyelidiki alasan di balik perubahan ini dan mengembangkan strategi untuk melibatkan pemuda dalam posisi komite inti, program antar generasi untuk mentransfer pengetahuan ritual, dan dokumentasi makna simbolik Petik Laut, larung, sedekah laut, dan rasa syukur.. . 2. Menganalisis dampak dan tantangan komodifikasi pariwisata terhadap ritual Petik Laut. Penelitian ini menunjukkan bahwa pariwisata meningkatkan visibilitas dan peluang ekonomi, tetapi juga dapat mengubah praktik suci menjadi pertunjukan publik. Penting untuk menyelidiki bagaimana pariwisata dapat dikelola secara etis, zona wisatawan dibatasi selama momen suci, dan pemimpin agama dan komunitas terlibat dalam manajemen acara, serta terintegrasi dengan program konservasi pesisir.. . 3. Memeriksa perdebatan ortodoksi dan bagaimana mereka mempengaruhi ruang untuk tradisi lokal. Penelitian ini menunjukkan bahwa perdebatan ortodoksi membantu mengklarifikasi batas teologis, tetapi juga dapat menyempitkan ruang untuk tradisi lokal jika ditangani secara kaku. Penting untuk menyelidiki bagaimana perdebatan ini dapat dikelola secara konstruktif, dengan melibatkan pemimpin agama dan komunitas dalam dialog yang terus-menerus, dan memastikan bahwa ritual tetap bermakna secara budaya sambil mempertahankan legitimasi teologis.
- HARMONIZATION BETWEEN CUSTOMS AND ISLAM IN THE JALAWASTU COMMUNITY | Asrawijaya | JOURNAL OF INDONESIAN... doi.org/10.15642/JIIS.2022.16.2.378-398HARMONIZATION BETWEEN CUSTOMS AND ISLAM IN THE JALAWASTU COMMUNITY Asrawijaya JOURNAL OF INDONESIAN doi 10 15642 JIIS 2022 16 2 378 398
- Negotiating Faith, Ritual, and Ecology: Islamic–Hindu Acculturation and Interreligious Cohesion... ejournal.uinsgd.ac.id/index.php/jcrt/article/view/2014Negotiating Faith Ritual and Ecology IslamicAeHindu Acculturation and Interreligious Cohesion ejournal uinsgd ac index php jcrt article view 2014
- Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.1007/s42087-025-00517-7Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 1007 s42087 025 00517 7
- Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... link.springer.com/article/10.1007/s11562-014-0295-xClient Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site link springer article 10 1007 s11562 014 0295 x
| File size | 626.86 KB |
| Pages | 28 |
| DMCA | Report |
Related /
LITERACYINSTITUTELITERACYINSTITUTE Meskipun terdapat tantangan teknis, seperti koneksi internet yang tidak stabil dan masalah akses akun Gmail, hambatan tersebut berhasil diatasi melaluiMeskipun terdapat tantangan teknis, seperti koneksi internet yang tidak stabil dan masalah akses akun Gmail, hambatan tersebut berhasil diatasi melalui
LITERACYINSTITUTELITERACYINSTITUTE Bahkan kebutuhan khusus seperti membeli makanan untuk lansia tidak mungkin dengan jumlah uang ini. Dari analisis temuan, diketahui bahwa permintaan rata-rataBahkan kebutuhan khusus seperti membeli makanan untuk lansia tidak mungkin dengan jumlah uang ini. Dari analisis temuan, diketahui bahwa permintaan rata-rata
LSPRLSPR Sintesis akademik menunjukkan bahwa praktisi PR bukan hanya sumber cerita lingkungan, tetapi bertindak sebagai pembangun agenda yang terlibat secara strategisSintesis akademik menunjukkan bahwa praktisi PR bukan hanya sumber cerita lingkungan, tetapi bertindak sebagai pembangun agenda yang terlibat secara strategis
UIN SGDUIN SGD Koherensi kosmologis dan kedalaman kritis terbukti menjadi pendamping esensial bagi ambisi estetika agar produksi semacam itu dapat berfungsi sebagai wahanaKoherensi kosmologis dan kedalaman kritis terbukti menjadi pendamping esensial bagi ambisi estetika agar produksi semacam itu dapat berfungsi sebagai wahana
UIN SGDUIN SGD Meskipun orkestra laptop telah sering dibahas sebagai inovasi teknologi dan model pedagogis, struktur ritual dan peran mereka dalam memediasi interaksiMeskipun orkestra laptop telah sering dibahas sebagai inovasi teknologi dan model pedagogis, struktur ritual dan peran mereka dalam memediasi interaksi
MAHESA INSTITUTEMAHESA INSTITUTE Temuan menunjukkan bahwa Gumbregan berfungsi bukan hanya sebagai upacara pemberkatan ternak, tetapi sebagai ekspresi keagamaan yang dinegosiasikan di manaTemuan menunjukkan bahwa Gumbregan berfungsi bukan hanya sebagai upacara pemberkatan ternak, tetapi sebagai ekspresi keagamaan yang dinegosiasikan di mana
UIN SGDUIN SGD Penelitian ini berupaya memahami bagaimana makna simbolis dan praktik material warna memediasi hubungan antara manusia, leluhur, dan kekuatan spiritual,Penelitian ini berupaya memahami bagaimana makna simbolis dan praktik material warna memediasi hubungan antara manusia, leluhur, dan kekuatan spiritual,
STTWSTTW Penelitian ini diharapkan meningkatkan pemahaman terhadap sifat dan pengujian CT yang sesuai standar. Nilai tahanan isolasi yang diperbolehkan adalah 1000Penelitian ini diharapkan meningkatkan pemahaman terhadap sifat dan pengujian CT yang sesuai standar. Nilai tahanan isolasi yang diperbolehkan adalah 1000
Useful /
MAHESA INSTITUTEMAHESA INSTITUTE Artikel ini menyelidiki peran seni Janengan dalam mereproduksi identitas etnis Jawa di antara komunitas migran Jawa di Desa Kebumen, Lampung. Dalam konteksArtikel ini menyelidiki peran seni Janengan dalam mereproduksi identitas etnis Jawa di antara komunitas migran Jawa di Desa Kebumen, Lampung. Dalam konteks
ULILALBABINSTITUTEULILALBABINSTITUTE Studi ini juga mengaitkannya dengan kasus Luckin Coffee yang tidak melakukan audit. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa profesionalisme auditor meningkatkanStudi ini juga mengaitkannya dengan kasus Luckin Coffee yang tidak melakukan audit. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa profesionalisme auditor meningkatkan
PERADABANPERADABAN Setelah penantian 25 tahun Indonesia kembali dipercaya sebagai tuan rumah MotoGP 2022, yaitu di Mandalika Nusa Tenggara Barat. Strategi yang dilakukanSetelah penantian 25 tahun Indonesia kembali dipercaya sebagai tuan rumah MotoGP 2022, yaitu di Mandalika Nusa Tenggara Barat. Strategi yang dilakukan
POLTEKKESBENGKULUPOLTEKKESBENGKULU Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh senam hamil terhadap kadar glukosa darah. Desain penelitian adalah pra-eksperimen dengan pendekatan preTujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh senam hamil terhadap kadar glukosa darah. Desain penelitian adalah pra-eksperimen dengan pendekatan pre