CCRJOURNALCCRJOURNAL

Pelita PerkebunanPelita Perkebunan

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi diferensiasi kopi Arabika dari Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali menggunakan electronic food nose. Analisis dilakukan berdasarkan variasi suhu dan waktu sangrai untuk mengevaluasi efek parameter ini terhadap karakteristik aroma kopi. Penelitian menggunakan perangkat electronic nose untuk mendeteksi senyawa volatil dengan cepat dan akurat. Perangkat electronic nose dilengkapi dengan sensor MQ-3, MQ-8, MQ-135, dan MQ-136, yang mampu mendeteksi alkohol, heksana, hidrogen, karbon dioksida, dan hidrogen sulfida. Kopi Arabika dari berbagai daerah di Indonesia disangrai pada tiga tingkat (ringan, sedang, dan gelap). Hasil menunjukkan bahwa variasi suhu sangrai (220, 230, dan 240 °C) dan waktu sangrai (10, 13, dan 17 menit) secara signifikan mempengaruhi profil senyawa volatil. Suhu dan waktu sangrai berkorelasi proporsional dengan gas heksana, CO2, dan alkohol yang dihasilkan. Sebaliknya, suhu yang lebih rendah dan proses sangrai yang lebih cepat menghasilkan gas H2S yang lebih tinggi. Dengan demikian, penggunaan electronic nose efektif membedakan karakteristik aroma kopi berdasarkan perbedaan suhu dan waktu sangrai. Penelitian ini berkontribusi pada peningkatan kualitas kopi Arabika Indonesia dengan memahami bagaimana variasi suhu dan waktu sangrai dapat digunakan untuk mengoptimalkan proses produksi kopi dan meningkatkan kualitas kopi yang dihasilkan.

Sampel kopi Arabika dari Jawa Barat (sangrai gelap), Bali (sangrai gelap), dan Ijen (sangrai gelap) menunjukkan kadar tinggi heksana, CO2, dan alkohol, sedangkan kopi Arabika dari Mataram cenderung memiliki konsentrasi heksana yang lebih rendah.Konsentrasi alkohol dan CO2 meningkat dengan suhu dan durasi sangrai, serta dipengaruhi oleh ketinggian.Hal ini berarti bahwa variasi gas dapat digunakan sebagai penanda untuk membedakan kopi berdasarkan asal dan tingkat sangrai.Penelitian ini menunjukkan bahwa Electronic Food Nose (eF-Nose) efektif membedakan kopi Arabika dari Ijen, Mataram, Jawa Barat, dan Bali pada berbagai tingkat sangrai - ringan, sedang, dan gelap.Variasi konsentrasi H2, heksana, CO2, alkohol, dan H2S pada sampel dengan intensitas sangrai yang berbeda berfungsi sebagai indikator kunci untuk mengidentifikasi perbedaan asal kopi dan kondisi sangrai.

Berdasarkan hasil penelitian, saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: . . 1. Mengembangkan metode analisis yang lebih canggih untuk mendeteksi dan mengidentifikasi senyawa volatil dalam kopi Arabika dengan lebih akurat. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi spektrometri massa atau teknik kromatografi gas yang lebih canggih.. . 2. Melakukan studi komparatif antara kopi Arabika dari berbagai daerah di Indonesia dengan kopi Arabika dari negara lain, seperti Kolombia atau Ethiopia, untuk memahami perbedaan karakteristik aroma dan kualitas kopi. Studi ini dapat membantu dalam mengembangkan strategi pemasaran dan positioning kopi Indonesia di pasar global.. . 3. Menganalisis pengaruh varietas kopi Arabika yang berbeda terhadap profil aroma dan kualitas kopi. Penelitian ini dapat dilakukan dengan membandingkan kopi Arabika dari varietas yang berbeda, seperti Typica, Bourbon, dan Caturra, untuk memahami bagaimana varietas mempengaruhi karakteristik aroma dan rasa kopi.. . Dengan melakukan penelitian lanjutan ini, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang kopi Arabika Indonesia, meningkatkan kualitas dan daya saingnya di pasar global, serta mengembangkan strategi pemasaran yang efektif.

Read online
File size1011.74 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test