POLTEKSAHIDPOLTEKSAHID

International Journal of Travel, Hospitality and EventsInternational Journal of Travel, Hospitality and Events

Minahasa Utara kini menjadi salah satu daerah yang terus berkembang, terutama berkat pembangunan yang sedang berlangsung, terutama karena statusnya sebagai Zona Ekonomi Khusus (ZEK). ZEK Likupang diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut, yang akan berdampak positif pada daerah sekitarnya, termasuk Desa Kulu yang terletak di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, yang memiliki berbagai potensi wisata alam yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. Beberapa di antaranya adalah spot menyelam dan snorkeling yang menarik, hutan mangrove eksotis, dan Pulau Paniki yang kaya akan ekosistem dan budaya lokal. Pengembangan atraksi wisata diarahkan sebagai sektor unggulan yang dapat menciptakan peluang kerja, meningkatkan pengakuan dan pemasaran produk untuk mengembangkan industri pariwisata. Desa Kulu di Kecamatan Wori, yang memiliki area hutan mangrove, pemandangan laut yang indah, dan udara sejuk, menjadikannya lokasi yang baik untuk tujuan wisata. Dengan penelitian ini, potensi Pariwisata Hutan Mangrove dapat diketahui oleh banyak orang dan dapat dikunjungi oleh wisatawan.

Potensi pariwisata hutan mangrove di Desa Kulu, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, dapat dievaluasi secara efektif menggunakan kerangka A4.Hutan mangrove di Desa Kulu adalah sumber daya alam yang unik dengan potensi tinggi sebagai atraksi wisata.Keanekaragaman hayati, signifikansi ekologis, dan keindahan pemandangan alamnya memberikan peluang yang sangat baik untuk ekowisata dan wisata edukasi.Kegiatan seperti menjelajahi hutan mangrove dan belajar tentang ekosistem dapat dikembangkan lebih lanjut untuk menarik wisatawan domestik dan internasional.Fasilitas saat ini, seperti area istirahat dan fasilitas dasar, mungkin terbatas atau belum dikembangkan dengan baik.Untuk membuka potensi penuh pariwisata hutan mangrove, perlu dilakukan investasi dalam infrastruktur yang lebih baik, seperti kamar mandi yang bersih, kios makanan dan minuman, serta tanda penjelasan untuk meningkatkan pengalaman pengunjung.Aksesibilitas tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan kelayakan pengembangan pariwisata.Meskipun Desa Kulu mungkin memiliki akses jalan dasar, kondisi jalan dan pilihan transportasi harus ditingkatkan untuk memudahkan perjalanan wisatawan.Tanda yang jelas dan peta, serta tur yang terorganisir, dapat lebih meningkatkan aksesibilitas.Layanan pendukung, termasuk pemandu, akomodasi lokal, dan keamanan, memainkan peran vital dalam memastikan pengalaman yang aman dan menyenangkan bagi pengunjung.Program pelatihan untuk pemandu lokal, workshop ekowisata untuk anggota masyarakat, dan kemitraan dengan bisnis lokal dapat memperkuat layanan pelengkap dan menciptakan ekosistem pariwisata yang lebih berkelanjutan.Berdasarkan diskusi di atas, dapat disimpulkan bahwa atraksi wisata hutan mangrove di Desa Kulu memiliki potensi untuk menjadi tujuan wisata utama di Minahasa Utara.Hal ini didukung oleh data pengunjung selama sebulan terakhir, yang menunjukkan tren positif di berbagai kelompok usia dan kehadiran beberapa atraksi di Pariwisata Hutan Mangrove.Aksesibilitas yang dapat dicapai meskipun kondisi jalan cukup baik untuk dilalui oleh dua kendaraan secara bersamaan.Fasilitas yang tersedia di Pariwisata Hutan Mangrove termasuk gazebo, restoran, dan kafe mini dengan menu yang cukup lengkap.Dan dukungan dari pemerintah setempat dan Kantor Pariwisata Kabupaten Minahasa Utara.Secara keseluruhan, Pariwisata Hutan Mangrove di Desa Kulu memiliki potensi besar sebagai tujuan ekowisata yang menarik dan berkelanjutan jika terus dikelola dengan baik dan didukung oleh infrastruktur yang memadai.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk fokus pada pengembangan infrastruktur yang berkelanjutan di Desa Kulu. Bagaimana kita dapat memastikan bahwa pengembangan pariwisata hutan mangrove tidak hanya meningkatkan pengalaman wisatawan, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan melibatkan masyarakat setempat? Apakah ada cara untuk mengintegrasikan praktik ekowisata yang berkelanjutan dalam pengelolaan hutan mangrove, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat setempat tanpa mengorbankan ekosistem yang rapuh? Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi cara-cara kreatif dalam mempromosikan dan memasarkan Pariwisata Hutan Mangrove di Desa Kulu, baik di pasar domestik maupun internasional. Bagaimana kita dapat memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menarik wisatawan yang peduli lingkungan dan tertarik pada pengalaman ekowisata yang autentik? Dengan menggabungkan pengembangan infrastruktur, praktik ekowisata, dan strategi pemasaran yang inovatif, kita dapat menciptakan pariwisata yang berkelanjutan dan menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat.

  1. Potential of Mangrove Forest Tourism with A4 (Attraction, Amenity, Accessibility, Ancillary) in Kulu... journal.polteksahid.ac.id/index.php/ijothe/article/view/439Potential of Mangrove Forest Tourism with A4 Attraction Amenity Accessibility Ancillary in Kulu journal polteksahid ac index php ijothe article view 439
Read online
File size715.21 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test